2013 ~ 2014

Postingan tentang pencapaian tahun 2013 dan resolusi untuk 2014 mulai bermunculan di linimasa Twitter. Juga Path. Dan Facebook. Lalu saya pun merasa tergelitik untuk membuat postingan serupa. Latah? Bisa jadi. Selain lagi kangen ngisi blog, saya juga ingin menuliskan sebuah rekam jejak betapa tahun 2013 (dan tahun-tahun sebelumnya) memberi banyak kesempatan dan keajaiban.

Awal tahun 2013 dimulai dengan sebuah kejadian menegangkan di rumah dinas Moru. Kejadian yang membuat saya merenung bahwa sesungguhnya saya belum sekuat yang saya pikirkan. Namun selain kejadian tidak menyenangkan itu, ada pula sebuah email gembira tentang cerpen saya yang lolos seleksi di sebuah kompetisi. Harapan saya merangkak naik. Satu pertanda bagus di tahun ini.

Lalu Maret datang dengan dua kabar bahagia. Pertama, Dua cerpen saya lolos di Random 2, sebuah kompetisi menulis yang diadakan oleh @NBC_IPB (salah satu cerpen saya masuk di posisi kedua). Saat mengetahui hal itu, saya benar-benar bersyukur atas sebuah kegagalan. Belum mencapai tengah tahun, tapi sudah ada tiga cerpen yang diterbitkan karena kengangguran di masa PTT di Alor. Agak jumawa, sih. Tapi bangga dengan diri sendiri boleh dong, ya hehehe…

Kedua, pada pertengahan bulan Maret Ibu akan diwisuda. Sebuah momen haru di mana akhirnya Ibu benar-benar memuaskan nafsu belajarnya yang bertahun-tahun tertunda demi adik-adik, suami serta anak-anaknya. Sebuah penyemangat bagi saya untuk mengobarkan lagi mimpi yang pernah dipaksa padam. Sebuah titik yang membuat saya kembali bertanya, “Maumu apa?”

Pertanyaan itu tetap menghantui hingga bulan April, ketika saya berkesempatan berdoa di tanah suci, dengan membawa serta segala cita-cita dan cinta yang berdesakan di kepala. Tidak usah ditanya bagaimana perasaan ini ketika berdoa tepat di depan Kakbah. Dada seakan mau meledak. Air mata tumpah ruah. Kalimat pinta yang telah disusun begitu panjang menguap begitu saja. Yang tersisa adalah perasaan berdosa, seolah-olah belum pantas meminta terlalu banyak. Sehingga yang berulang-ulang meluncur adalah, “Tuhan, mohon pilihkan yang terbaik untukku. Berikan cita-cita dan cinta di waktu yang paling tepat bagiku untuk bisa menerima semuanya.”

Sepulang dari umroh, kegalauan saya sedikit terobati dengan kabar menakjubkan. Cerpen saya yang dikabarkan lolos di bulan Januari telah diterbitkan melalui major publisher di dalam sebuah antologi (Antologi Cinta, ByPass, 2013). Akhirnya saya bisa merasakan degup gempita saat melihat buku yang covernya memuat cuplikan cerpen saya untuk pertama kalinya. Norak banget. Tapi jujur, saya menunjuk-nunjukkan buku antologi itu pada siapa saja ahahaha. Bocoran juga. Cerita di antologi itu adalah kisah cinta kedua orang tua saya. Dan mereka nangis bombay saat membaca cerpen saya itu.

Perlahan, kemantapan hati atas kebimbangan yang pernah saya tumpahkan di depan Kakbah itu datang. Di akhir bulan Mei, saya menetapkan pilihan, mengubah haluan, dan kembali mencoba setia pada cita-cita yang pernah dikubur dalam. Maunya, sekalian mantap pada bagian ‘cinta’nya. Tapi tapi tapi… (alah… ujung-ujungnya begini).

Bulan Juni, iseng-iseng saya masuk di sebuah komunitas pecinta flashfiction. Monday Flashfiction (MFF). Dan ternyata, saya tidak pernah menyesal! Ini adalah keluarga baru saya dengan orang-orang yang bersemangat luar biasa dalam hal menulis. Dan semangat itu menular. Ditambah lagi dengan sebuah pengumuman lomba menulis kembali membuat semangat menulis saya membumbung tinggi. Cerpen saya menduduki posisi ketiga. Subhanallah. Tidak pernah ada yang sia-sia. Termasuk sebuah kegagalan. Tidak hanya tiga. Tapi Tuhan menggenapkannya menjadi empat cerpen yang dimuat dan diterbitkan. Alhamdulillah…

Bulan Juli, saya mulai disibukkan dengan berbagai persiapan pendaftaran calon PPDS di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang. Ketegangan mulai terasa. Perut sudah sering terasa mulas. Tidur berangsur kurang nyenyak. Namun ikhtiar ini masih panjang. Menjadi lemah sama sekali bukan pilihan. Yang ada hanya berjuang sampai perlahan doa-doa itu menjadi nyata.

Agustus dan September, dua bulan penuh ketegangan. Buku teks yang tak tersentuh sekian lama harus mulai kembali dibuka dan dibaca. Susah banget! Lebih susah lagi jika memikirkan tentang kemungkinan gagal lagi. Ah, untuk apa berburuk sangka pada Tuhan? Bukankah karena kegagalan saja, Dia telah menggantinya dengan pengalaman dan kejutan yang lebih luar biasa?

Dan bulan Oktober memberikan pos-pos kenangan yang luar biasa hebat. Alhamdulillah, sebuah pintu cita-cita terbuka. Saya diterima dalam seleksi calon PPDS. Akhirnya setelah sekian lama, bulan Oktober kembali bersahabat dengan saya. Setidaknya, tanggal 15 tidak saya lewatkan dengan memendam duka ahahaha… Sejak tanggal 8 Oktober 2013, saya bertekad untuk tidak pernah lemah pada tantangan. Jalan baru ini beronak dan berduri. Terjal, berpalung, dipenuhi jurang. Tapi sekali lagi. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jangan mengeluh, Chil. Ingatlah betapa jarak dan waktu yang ditempuh demi jalan baru ini telah cukup melelahkan. Jangan sia-siakan semuanya. Jangan pernah.

Di bulan Oktober pula, saya ikut serta di MFF Idol. Sebuah pertarungan flashfiction yang seru dan unik. Saya merasa seperti benar-benar sedang ada di sebuah panggung. Panggung yang hampir membuat saya minder dan merasa tak pantas berdiri di atasnya. Keberuntunganlah yang membawa saya sampai di Grand Final. Dan menjadi runner up tidak begitu buruk, bukan? (menghibur diri sendiri).

Di penghujung tahun 2013 Masehi ini, saya kembali merenung dan merangkum rangkaian adegan yang menakjubkan. Meski ada rencana yang belum juga terwujud (kawin, salah satunya. Mwahahaha…), namun Tuhan telah banyak menganugerahkan keajaiban di tahun 2013. Kesempatan baru. Keluarga baru. Yang belum adalah cinta baru (tetep).

Pada sebuah perjalanan manusia, selalu ada titik-titik tertentu yang meninggalkan bekas semacam tato. Susah dihilangkan. Jika bisa, pasti akan sangat menyakitkan. Termasuk puncak kegagalan di tahun 2011, tahun yang memberi tamparan bahwa cita-cita dan mimpi akan setia jika kita pun bersikap demikian. Pengkhianatan nasib terhadap saya adalah hasil dari pengkhianatan terhadap mimpi diri sendiri. Maka datanglah tahun 2012 yang saya sebut sebagai tahun pelarian atas kegagalan di tahun sebelumnya.

Namun pada akhirnya saya menyadari. Betapa Tuhan telah memberi jalan yang lebih baik dari rencana manusia. Semua kegagalan terjawab dan terbayar satu persatu di tahun 2013. Jalan-jalan ke Alor, kenal dengan dunia menulis, menerbitkan buku, lalu diterima sebagai residen. Luar biasa, bukan?

Mengeluhkan nasib adalah kebiasaan manusia. Karena manusia hanya mampu berpikir sejengkal saja. Sedangkan semesta milik Tuhan adalah keajaiban tak terbatas. Ada banyak kejadian yang kita kira adalah kebetulan belaka. Atau banyak kerikil yang kita pikir menjadi penghalang perjalanan. Tapi seringkali manusia lupa. Bahwa tidak ada selembar daun jatuh pun yang tanpa campur tangan Tuhan. Dia yang paling tahu bahwa ada kesempatan lain yang lebih tepat, dan ada saat lain yang lebih akurat. Dan hanya satu yang menjadi tugas manusia. Tetap percaya.

***

Malang, December 31st 2013

Di antara rinai hujan pengiring malam pergantian tahun

  1. Semoga segala resolusi, harapan dan impian bisa tercapai di tahun 2014 nanti. Senang bisa mengenalmu budok. Selamat tahun baru 2014 …

    • Aamiin… makasih, Mak Lianny. Aku juga senang mengenalmu :*

  2. sepertinya 2013 kamu luar biasa, moga tahun depan makin keren.
    Salut buat bunda yg terus belajar.

    • Aamiin… semoga banyak berkah di tahun-tahun selanjutnya. Selamat tahun baru, Kak ^^

    • asdar
    • January 1st, 2014

    Kita adalah manusia hanya saat kita selalu percaya……….ga’ terasa hampir setaun saya jadi pembaca tulisan2nya bu dok dan semoga seterusnya tetep bisa begitu……………
    semoga apa yang diharapkan dan diimpikan semuanya tercapai di 2014

    cemungudh eaaaaa…………………..!!!!!

    • Hehehe makasih sudah baca tulisan absurd saya, Dok😀
      Selamat tahun baru. Ditunggu kabar kelulusannya :”)

  3. mantap prestasinya, mbak. semoga tahun berikutnya lebih baik

    • Aamiin… Selamat tahun baru, Bang. Semoga kita bisa lebih keren lagi \o/

  4. mulai dari cerpen yang lolos, ibu yang diwisuda, masuk MFF trus jadi idol runner-up! Bener2 2013 yang penuh buat Noichil! SEmoga 2014 lebih penuh lagi. ^_^

    • A. A. Muizz
    • January 1st, 2014

    Keren! (y)

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: