Mesin Jahit Ibuku

Malam sudah larut. Rintik hujan masih beradu pada atap dan menimbulkan suara yang amat gaduh. Sedangkan aku, sendiri, dan mendekam di dalam kamar yang gelap dan pengap.

Aku menggelungkan diri di bawah selimut kebanggaanku dan berusaha memejamkan mata. Namun napasku semakin sesak, seakan aku tidak mampu lagi menahan bongkahan batu dalam dada yang membesar diam-diam.

Di bawah selimut batik yang dulu pernah dijahitkan Ibu padaku, ada sesal dan rasa berdosa yang bertumpuk. Di bawah selimut batik itu, akhirnya air mata itu tumpah, memburu rindu yang menggebu.

Ibu…

Aku kehujanan lagi

Hari ini badai tak ada yang melerai

Lumpur menggempur rumahku hancur

Dan petir menyambar semua jadi pasir

***

Tidak ada yang namanya ‘kebetulan’. Semua terjadi untuk sesuatu yang lain. Mungkin untuk sesuatu yang lebih besar. Mungkin untuk sekarang, atau besok, atau lusa, atau beberapa windu. Siapa yang tahu?

Sama seperti tidak ada yang tahu mengapa Bapak yang saat itu masih bujangan tiba-tiba memutuskan untuk membeli mesin jahit dengan gaji pertamanya. Saat itu, tidak pernah ada yang tahu. Bahkan Bapak sendiri. Hatinya hanya berkata, “Siapa tahu…”

Dan akhirnya, pertanyaan itu terjawab dengan cara yang luar biasa. Ketika beberapa bulan selanjutnya, Bapak bertemu dan menikah dengan Ibu yang hobi menjahit. Kebetulan? Kurasa bukan. Itu hanya salah satu perpanjangan dari tangan Tuhan.

Selama bertahun-tahun, aku dan kakak laki-lakiku adalah dua jiwa yang hidup sebagai saksi bagaimana Ibu dan mesin jahit usang itu telah melakukan banyak hal untuk keluarga ini. Ibu dan rekan kerjanya itu mampu menyulap kain-kain perca menjadi sarung bantal, memperbaiki robekan pada bagian belakang rok dan celana seragam sekolah, sekaligus menyatukan hati anggota keluarganya.

Entah kebetulan apa lagi yang dirancang Tuhan untuk kami ketika Mbah Putri, ibu dari Ibuku tiba-tiba memberikan selembar kain batik buatan tangannya padaku. Mbah Putri tahu, aku tidak senang menerimanya. Tapi Mbah Putri terus menjejalkan kain batik itu ke pelukanku.

“Batiknya mau dibikin model apa, Nduk?” tanya Ibu saat itu.

Aku cemberut. Aku tidak pernah suka batik. Menurutku, motifnya kuno dan tidak trendi. “Apa saja. Yang penting bukan baju,” jawabku dengan nada ketus.

Ibu dan Mbah Putri kehilangan senyumnya. Selama beberapa detik, mereka berpandangan. Aku tidak mengerti apa yang salah. Yang jelas, beberapa hari kemudian, batik itu telah dijahit menjadi selembar selimut yang lembut dan nyaman.

***

Bersama mesin jahit pemberian Bapak, kedua tangan Ibu tidak pernah tinggal diam. Ibu dan mesin jahit itu selalu bekerja sama dalam membuat sesuatu. Taplak meja, ornamen dan beberapa hiasan rumah, atau sekadar pita rambut untuk mengikat rambutku yang ikal dan panjangnya sepunggung.

Sejak aku kecil, Ibu selalu melibatkanku sebagai satu-satunya anak perempuan di rumah ini. Ibu sering memintaku membantunya memasukkan benang ke jarum, menggulung benang pada spul[1] dan meletakkannya pada sekoci[2], atau merekatkan kain pada kertas pola dengan menggunakan jarum pentul warna-warni.

“Perempuan itu harus bisa berurusan sama jarum dan benang, Nduk,” ujar Ibu ketika mengajariku bagaimana membuat jahitan som untuk menyatukan keliman di celana seragam SMP Mas Pram yang terlepas. Aku tidak sabar ketika kesulitan mengungkit serat kain agar jahitan som tidak terlihat dari luar. Tapi Ibu selalu telaten menghadapi ketidaksabaranku.

“Nah, gampang, tho? Kalo kaya gini aja ndak perlu ke penjahit. Suk mben, kalo keliman baju dan celana suamimu lepas kaya’ ngene, bisa dikerjakan sendiri, Nduk,” puji Ibu saat melihat jahitan som-ku yang rapi. Raut wajah Ibu yang berbinar. Sama seperti ketika baju hasil jahitannya telah menempel sempurna di tubuhku, Mas Pram, dan Bapak. Aku tahu, Ibu bangga dengan dirinya sendiri.

Tapi ada ego yang selalu ingin dipertahankan. Oleh siapapun. Terhadap apapun. Termasuk ego seorang anak yang terlalu memuja bagaimana pendapat orang lain dan menyurutkan nilai perjuangan orang tuanya.

Seperti aku dulu.

Aku ingat betul, bagaimana aku pulang sekolah dengan wajah berlumur air mata. Aku jongkok di teras dan menelangkup wajahku dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututku yang tertutup rok berwarna merah.

Ibu menyambutku dengan langkah tergopoh-gopoh. Ibu hampir terjatuh karena terbelit dasternya sendiri. “Kenopo, Nduk? Ono opo, kok kowe nangis geru-geru ngene?” tanyanya sambil ikut berjongkok di depanku.

Dahi Ibu berkerut hingga alisnya hampir menyatu. Matanya terbelalak. Kedua tangannya sibuk menempel dan menekan-nekan seluruh bagian tubuhku untuk melihat apakah ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman.

Konco-koncoku ngarani seragamku iki elek,” ujarku sambil tetap menangis.

Wajah ibu menegang. Bibir yang tadinya melengkung ke bawah, kini perlahan membentuk garis tipis yang belum mampu kuterka artinya. “Elek piye, tho, Nduk?” lirihnya sambil membelai lengan kiriku.

“Katanya seragamku iki kok ndak pernah ganti, sampai jahitannya ndak karu-karuan. Katanya, ‘Wong tuwomu ndak nduwe duit, tah?’ Hu hu hu…”

Aku tahu, Ibu sengaja menjahit sendiri seragamku dan Mas Pram karena keluarga kami tidak mampu membayar penjahit. Selain itu, dengan menjahit sendiri, Ibu bisa leluasa mengatur ukuran seragam kami.

Selama kami sekolah, Ibu selalu memotong kain seragam kami dengan tiga sampai empat nomor lebih besar, lalu menjahitnya sesuai dengan ukuran tubuh kami saat itu. Ketika tubuh kami tumbuh, Ibu melepas jahitan yang lama, menggeser batas baju dengan ukuran yang lebih besar, kemudian menjahitnya kembali.

Tapi jiwa kanak-kanakku meronta. Ini masalah harga diri. Setiap tahun, selalu ada garis pembatas setelah seragam kami dipermak. Setiap tahun, akan selalu ada Tarji dan gengnya yang menghina. Apakah Ibu tidak tahu bagaimana malunya aku saat sekolah dengan seragam yang warna putih dan merahnya tidak rata?

Ibu menghela napas panjang. Ia mendekap kepalaku yang masih diguncang tangis ke dalam pelukannya. “Oalah, Nduk… Ibu lupa kamu sudah kelas empat sekarang. Wes wayahe ganti seragam. Sepurane, yo, Nduk…”

Di dalam pelukan Ibu, aku mengangguk pelan. Kalimat permintaan maaf Ibu kala itu adalah jaminan bahwa besok aku akan mengenakan seragam putih merah yang baru. Tangisku menghilang perlahan. Egoku menang.

***

Seringkali, seorang anak menilai dirinya terlalu tinggi. Bahkan lebih tinggi dari bagaimana ia memandang orang tuanya. Keyakinan bahwa orang tua hidup di masa lalu, membuat seorang anak menjadi angkuh dan mengabaikan segala saran dan petuah para orang tua pada perjalanan hidupnya di masa kini.

Sebut saja, aku adalah anak yang tidak tahu diri. Tapi aku memang tidak pernah benar-benar bisa bangga pada perjuangan Ibu dan mesin jahitnya. Aku hanya ingin menjadi anak-anak lain yang dinilai berdasarkan apa yang kukenakan.

Delapan tahun yang lalu, aku telah melukai hati Ibu. Ketika aku memutuskan untuk mengambil jalan cinta yang tidak ia restui. Ketika aku memilih seorang pria perlente dengan jas licin dan sepatu pantofel yang harganya lebih mahal daripada biaya makan kami selama sebulan.

“Kenapa, Bu? Apa salah Mas Teddy sampai Ibu ndak setuju?” ujarku sambil setengah berteriak. Tidak pernah aku meninggikan suara seperti ini.

Mendengar amarahku itu, Ibu bergeming dan meletakkan sprei yang baru dibuatnya setengah jadi di atas mesin jahit usangnya, “Ibu ndak sreg, Nduk. Ibu sudah istikharoh. Tetep ada yang sesuatu yang membuat hati Ibu ini ndak pas sama Nak Teddy.”

“Kenapa? Karena gaya hidupnya ndak sama dengan keluarga kita? Atau Ibu tersinggung waktu Mas Teddy nawarin beli mesin jahit baru?”

“Bukan begitu, Nduk. Ibu ndak punya pikiran seperti itu. Ibu juga ndak butuh apa-apa. Hanya ingin kamu bahagia,” jawabnya.

Aku bisa mendengar suara Ibu mulai serak. Aku bisa mendengar bilur-bilur halus di antara kata-katanya sudah siap melebur dan hancur. Hatiku mencelos ketika melihat ada bilur kristal yang siap tumpah di kedua mata Ibu.

“Kalo Ibu ingin lihat Arin bahagia, kasih kami restu Ibu. Selama ini Arin ndak pernah minta macam-macam. Bahkan minta beli baju baru aja ndak pernah. Karena alasan Ibu selalu sama. Ndak punya uang.”

Selama beberapa menit, kami hanya ditemani keheningan. Bergumul dengan pikiran masing-masing. Dan seketika ruang keluarga ini menjadi begitu menyesakkan.

Kowe tresno sama Teddy, Nduk?” tanya Ibu tiba-tiba.

Aku mendongakkan kepala dan menemukan kedua mata Ibu yang nampak berharap. Aku tidak pernah tahu harapan Ibu padaku seperti apa. Tapi jika Ibu berharap aku bahagia, aku sudah punya jawabannya.

“Arin ndak tahu. Arin sudah bosan seperti ini, Bu. Setidaknya bersama Mas Teddy, Arin bisa mendapat apapun yang Arin mau.”

Sore itu, delapan tahun yang lalu, adalah sore paling kelam bagi Ibu dan aku. Sore yang mengesahkan bahwa di antara kami, ada jarak yang nyata. Merenggang karena impian dan harapan kami yang tidak pernah sama.

Aku tahu, Ibu kecewa pada anak perempuannya. Dan mesin jahit usang itu adalah saksinya.

***

Delapan tahun setelah sore yang kelam itu, kekecewaanku atas keangkuhan yang pernah kuijinkan tumbuh di dalam hati telah membuahkan rasa bersalah yang beranak pinak. Hatiku sakit. Pengkhianatanku pada Ibu dan mesin jahit usangnya telah membuahkan pengkhianatan lain yang menikam harga diri yang pernah kujunjung tinggi.

“Semua kebutuhan materimu sudah kupenuhi. Jangan pernah bermimpi untuk memilikiku. Karena aku tahu, kamu pun tidak pernah mencintaiku sepenuh hati.”

Malam ini, setelah delapan tahun menikah dan belum juga dianugerahi keturunan, Mas Teddy meninggalkanku begitu saja setelah melemparkan sekardus uang yang –sampai kapanpun– tak akan pernah kujamah. Empat jam yang lalu, laki-laki yang kukira bisa menjadi pengganti almarhum Bapak itu pergi dengan nyaman bersama seorang perempuan cantik di pelukannya.

Aku masih bergelung di bawah selimut batik yang pernah dijahitkan Ibu untukku. Menangis dan merana. Menyalahkan fungsi keperempuanku yang tak sempurna. Ini bukan kebetulan. Akhirnya, setelah bertahun-tahun mengukir rasa marah dan picik, selimut batik yang dijahit Ibulah yang menenangkan amarah dan sakit hati yang meronta.

Di bawah selimut batik kebanggaanku, bayangan Ibu dan mesin jahit usangnya bergelantungan di pelupuk mata. Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Tidak juga ketika Mbah Putri memberikan selembar kain batik yang tidak pernah kusuka. Kini kain batik yang telah menyelimuti tubuhku itu telah menuangkan rindu. Aku rindu membubuhkan minyak di sela-sela roda putar. Aku rindu mengayuh pedal mesin jahit dan menggulung benang pada spul. Jika bisa, aku ingin menggunakan tuas lever[3] di hidupku dan berjalan mundur.

Butuh waktu lama dan bertahun-tahun untuk menyadari dan memahami mengapa dulu aku terpaksa mengenakan seragam yang sama selama hampir empat tahun. Tentang Ibu yang tak pernah gagal memperbaiki kancing kemeja Bapak, mengecilkan ukuran baju Mas Pram agar bisa kupakai, dan merenda gaun sederhanaku hingga nampak seperti baru lagi.

Ibu juga tidak pernah gagal merenda cintanya padaku. Aku saja yang tidak mau tahu.

Aku adalah selembar kain yang telah tercabik dengan tepi terberai dan benang-benang yang terburai. Dan Ibu adalah mesin jahit usang yang mampu menyatukan kepinganku dengan kasih sayangnya yang melekat pada selembar selimut batik yang tak pernah kutinggalkan.

Ibu…

Aku sendirian

Aku ingin pulang

Dengan sesal dan rindu yang bertalu-talu, aku memutuskan untuk segera pulang. Kembali ke pelukan Ibu yang hangat. Dini hari ini, kutekan nomor Ibu yang sebelumnya tak pernah kugunakan.

Namun belum selesai kutekan tiga nomor terakhir, tiba-tiba ponselku berdering. “Halo. Mas Pram?”

“Rin, pulanglah. Ibu sakit.”

***

Waktu-waktu seperti ini
di dalam selimut harapkan mimpi
Bayangan pulang
tuk segera berjumpa
denganmu

[Sheila on 7 – Ingin Pulang]

***

Malang, Mei 19th 2013


[1] Tempat menyimpan benang bawah

[2] Tempat menyimpan spul

[3] Lever: suatu bagian pada mesin jahit, yang apabila ditekan, kain akan berjalan mundur (jahit mundur).

 

Baca cerita-cerita yang terinspirasi dari lagu-lagu Sheila in 7 di Anelekta 7 Warna. Silakan download di sini. Gratis! ^^

  1. Jadi ngelirik ke mesih jahit emak saya. Baru sih, karena yang lama sudah rusak, dan yang sebelumnya lagi sudah diloakin. Semuanya adalah bentuk cinta beliau pada keluarga.
    *menghapusbulirdisudutmata

    • Hwaaa sayangnyaaa… Aku ndak bisa bikin baju. Tapi kalo make mesin jahit bisa dikiiit x)))

  2. restu ibu sangat penting banget…..

    hmm…. mungkin jodoh yang dicarikan ibu akan lebih baik😀

  3. Analekta 7 warna #PelangiSO7 (y)

    • Suci
    • December 6th, 2013

    ahh..membaca cerita ini, mengingatkan betapa bnyk pengorbanan Ibu kepada anaknya dan sering diartikan salah oleh anaknya😥

    *tiba2 mau peluk mama ku*

  4. kak, tulisannya bagus🙂 Pengen diajariiii…. Singgah ke blog aku juga ya kak🙂 dilasindy.blogspot.com

  5. ah ibu, saya jadi teringat ibu saya nih …🙂 btw saya setuju tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini dok🙂

  6. cerita ini….bikin………terharu. :’)

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: