Sebuah Perjalanan Bersama Izar

Batu Putih - Alor - NTT (by: @noichil)

Batu Putih – Alor – NTT (by: @noichil)

Deru motor membelah sunyi Alor yang masih pagi. Helm di kepalaku seakan oleng dan hampir terbang meski sudah kukunci erat-erat. Aku tidak mampu melepaskan tangan dari pinggangnya. Terutama saat laju motor sedikit tersendat ketika ditantang sebuah tanjakan berbatu yang, sewaktu-waktu, bisa membunuh kami berdua.

Gila.

Laki-laki di depanku ini gila.

Berkali-kali mulutku mengoceh, “Awas!” “Ati-ati!” “Aaargh!” Namun ia hanya melirikku lewat kaca spion, tersenyum dan kembali mengaduk-aduk adrenalinku.

“Nyetirmu gila!” ujarku sesampainya kami di pantai Batu Putih.

Debur ombak terdengar merdu. Kapal-kapal nelayan terombang-ambing dalam bisu. Sedangkan di ujung sana, sekita tiga ratus meter dari tempat kami berpijak, bongkahan bebatuan berwarna putih berdiri gagah. Seakan-akan, mereka menolak untuk cemburu, pada laut yang hanya mengejar bibir pantai untuk dicumbu.

“Tapi bola matamu berbinar, Shaula. Aku tahu. Kamu suka,” gumamnya.

Pipiku memerah. Benar-benar tidak ada yang bisa kusembunyikan dari laki-laki di depanku. Iya, dia selalu tahu. Kadang-kadang aku benci dia begitu. Tapi lebih sering, aku justru suka dia begitu.

“Seru! Deg-degan! Tapi … ya, aku suka,” jawabku sambil tertawa.

Izar menyunggingkan senyum. Meraih keranjang piknik kami dengan tangan kirinya, lalu berjalan ke arah bebatuan putih di ujung sana. “Manusia. Sudah tahu berbahaya. Tapi tetap saja tertawa saat mampu melewatinya.”

Aku terkekeh. Benar. Tidak ada yang tidak berbahaya sejak aku dan Izar jadian. Naik gunung, bungee jumping, paralayang, serta menyelam. Menjelajahi bumi, mengitari langit, juga merenangi lautan. Laki-laki ini adalah umpan yang luar biasa sempurna untukku bisa keluar dari zona nyaman yang itu-itu saja.

Kukeluarkan sebuah kamera saku dan mulai memindai pantai yang menakjubkan. “Bukankah itu intinya? Seperti yang pernah kamu bilang. Tidak peduli seberapa cepat, melewati jalan yang terjal, berombak atau terjebak badai, perjalanan panjang dan melelahkan akan terbayar dengan kepuasan saat kita sampai di tujuan,” ujarku.

Izar menoleh dan tersenyum. Nampak bangga padaku yang rupanya sudah paham betul apa yang ada di dalam kepalanya.

Batu putih sudah terpampang di depan mata. Megah. Kokoh. Bongkahan rahasia yang tidak mudah dihancurkan. Sama seperti catatan Tuhan tentang perjalanan manusia. Tidak ada yang tahu.

“Kalo gitu … mau kuajak ke sebuah perjalanan yang lebih gila? Perjalanan panjang yang mungkin lebih terjal, lebih berombak, lebih banyak badai yang melelahkan. Tapi aku ingin membagi kebahagiaan yang sama denganmu saat kita sampai nanti,” kata Izar tiba-tiba.

“Ke mana?”

Tangan kanan Izar meraih tanganku yang bebas, “Nikah, yuk.”

***

Flashfiction ini diikutsertakan dalam Giveaway Perjalanan oleh @ManDewi

  1. ciyeeeeee

  2. aseeeeek…. mau aja deh😀

  3. aih….aih…. co cwiiiiit

    Tapi hati2 loh Noi, perjalanan yg satu itu very very very dangerous! *halah* hahahahahaa

  4. cie..cieeeeeeeeeeee mbak nina… undangannya mana🙂

  5. sayangnya lamaranku tak se romantis inii huhuhu *garuk2 bantaal*

    • A. A. Muizz
    • November 18th, 2013

    Akhirnyaaa. Besok kalau aku ngelamar cewek, aku ajak ke Alor aja apa ya?😀

    • Ahahaha ngelamarnya ndak perlu di Alor, tapi bulan madunya yang di Alor😉

  6. #eaaa…

    • fatwaningrum
    • November 19th, 2013

    hiyaaa, romantisnyoooooo ;’)

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: