Perkara Reproduksi

Beberapa saat lalu, kata ‘bayi’ berseliweran di linimasa. Hal ini disebabkan oleh tema sebuah proyek menulis #FF100Kata. Dari sekian banyak karya flashfiction yang ada, tema-tema aborsi banyak dipilih. Termasuk saya. Mungkin karena dirasa ‘paling dekat’ untuk jaman sekarang? Entahlah.

Saya teringat pada sebuah hari Ahad. Ketika sedang bertugas jaga di sebuah rumah sakit. Tiba-tiba seorang ibu paruh baya menerobos masuk UGD, “Dok, tolong… ini ada yang perdarahan. Darah menstruasinya banyak sekali.”

Melihat darah segar yang bercecer di lantai UGD, saya langsung mengira bahwa sepertinya perempuan yang dimaksud bukan sedang menstruasi, tapi kemungkinan besar mengalami keguguran. Segera perempuan muda itu saya bawa ke ruang bersalin untuk diperiksa. Perempuan muda meringis sambil memegangi kewanitaannya. Dan ketika ia dibaringkan ke atas ranjang periksa, kami para tenaga medis (saya, bidan dan perawat) disergap keterkejutan. Ada jabang bayi yang sudah keluar dari jalan lahir.

Tanpa perlu dikomando, kami menyiapkan partus set dan menolong persalinan. Bunyi kelontangan besi dan baja terdengar di sana-sini. Langkah kaki yang tergesa-gesa bergesekan dengan lantai yang baru saja dipel. Beradu dengan erangan perempuan muda yang mungkin tidak paham apa yang sedang terjadi pada tubuhnya sendiri.

Tidak lama kemudian, seorang bayi perempuan lahir. Bobotnya hanya 500 gram, panjangnya tidak lebih dari 30 cm. Kecil sekali. Mungkin, dia baru berenang-renang di rahim ibunya selama lima bulan. Dengan berat sekecil itu, sang bayi perempuan tidak bisa bertahan. Malaikat kecil itu meninggal setelah tiga puluh menit dilahirkan.

Setelah mendata identitas pasien, barulah kami mengetahui beberapa hal yang sedikit mengganjal. Perempuan paruh baya yang mengantar pasien tadi adalah tetangganya. Sedangkan orang tua pasien sama sekali tidak tahu menahu bahwa putrinya dilarikan ke rumah sakit. Jika anda bertanya-tanya, mengapa yang ditanya bukan suami melainkan orang tua, jawabannya adalah karena ibu muda itu belum menikah dan masih kelas dua SMP. Iya. Empat belas tahun. Usia di mana dulu saya masih asyik mengoleksi perangko, mengikuti perkemahan sabtu minggu dan belajar menaksir senior secara diam-diam. Rasanya saya ingin menangis, sembari mengingat seorang keponakan yang juga masih duduk di kelas dua SMP. Serta merta saya berdoa agar hal mengerikan ini tidak terjadi pada keluarga saya. Naudzubillahi min dzalik.

Ketika menulis keterangan kematian bagi malaikat kecil tadi, saya marah, miris, dan kesal. Entah ditujukan pada siapa. Pada ibu muda tadi. Atau pada orang tuanya. Rasa mangkel menjadi-jadi ketika wajah nonya (nona-nyonya) muda tadi tidak sedikitpun dihampiri rasa bersalah. Matanya datar dan hampa melihat bayinya dibungkus kafan. Sedangkan saat ditanya perihal siklus menstruasi dan aktivitas seksualnya, dengan polosnya ia menjawab, “Saya ndak ngapa-ngapain.”

Kekesalan saya juga membuncah ketika ibu si nonya justru menangis dan histeris. Ibu itu menolak menemui putrinya yang baru saja melahirkan, serta memaksa saya segera memulangkan putrinya supaya bapak si nonya tidak mengetahui tentang apa yang terjadi. Ignorance? Indeed.

Tidak ada informasi berarti yang bisa didapat dari anamnesis nonya muda ini. Dia tidak tahu kapan hari pertama haid terakhirnya. Dia tidak tahu apakah selama beberapa bulan terakhir ada gerakan lain di perutnya. Dia bahkan tidak tahu, apa yang membuatnya menjadi seorang ibu. Atau pura-pura tidak tahu? (pusing).

Saya merenung, inilah kenyataan di masyarakat. Betapa deviasi pergaulan dan sosial anak muda jaman sekarang sudah semakin tidak logis dan mengkhawatirkan. Ada banyak hal yang mendukung dan memperburuk keadaan. Dan kemudahan mendapat informasi adalah salah satunya. Sayangnya, informasi diperoleh dari cara dan tempat yang salah. Abege cenderung lebih nyaman dengan teman-teman sebaya daripada curhat pada ibu dan bapaknya.

Ada fase di mana abege merasa bahwa dunianya lebih keren daripada dunia orang tuanya dulu. Lebih canggih. Lebih segalanya. Sehingga apa yang dikatakan teman-temannya adalah standar mutlak untuk diterima. Yang lebih buruk, ketika kadang-kadang standar ini nyerempet ke urusan kelamin. Tanpa tahu bagaimana tanggung jawabnya bereproduksi. Remaja laki-laki belajar menginginkan sebuah tantangan fisik demi kepuasan seksualnya, sedangkan remaja perempuan memiliki emosi ingin dicintai yang meledak-ledak. Tapi, tahu apa anak empat belas tahun tentang kehamilan? Atau sakitnya melahirkan? Atau ruwetnya mengurus bayi? Atau betapa semua rangkaian itu bisa merusak masa depannya? Atau bahkan, ketakutan mereka pada Tuhan? Mungkin, saat ‘bersenang-senang’, mereka tidak berpikir sama sekali. Yang penting eksistensi diri. Ngeri? Pasti.

Saya menilik dari sisi perempuan sebagai tempat awal tumbuh manusia baru. Untuk urusan reproduksi, perempuan bukan sekadar mengalami hamil, melahirkan, menyusui dan sebagainya. Dalam reproduksi, ada kesiapan jiwa dan mental menjadi seorang ibu yang terlibat di dalamnya. Dan tentu saja, ini bukan hal yang mudah diterima oleh remaja. Jangankan remaja. Teman saya yang menikah di usia dua puluhan pun banyak yang mengalami baby blues syndrome. Karena keputusan-keputusan mengenai ‘anak’ adalah hal besar. Perkara reproduksi bukan hanya urusan kelamin yang bercampur dan menghasilkan anak. Manusia bukan binatang atau tumbuhan yang tumbuh sesuai kaidah yang tidak bisa ditolak. Manusia hidup dengan rencana. Termasuk perihal anak. Tentang bagaimana menjaganya saat di dalam kandungan. Bagaimana memberikan kehidupan yang layak, terdidik dan terhormat ketika dia dilahirkan. Dan bagaimana meninggalkan mereka dengan jiwa yang mandiri dan mengenal tentang baik buruk kehidupan.

Sejujurnya, saya pun tidak tahu tulisan ini berujung ke mana. Awalnya, saya hanya ingin mengungkapkan kengerian dan kekesalan saya terhadap apa yang sudah terjadi pada remaja-remaja kita. Tapi mungkin… akhirnya berujung pada sebuah ketakutan terhadap apa yang akan dihadapi anak-anak saya kelak. Sebuah tantangan untuk belajar menjadi orang tua yang bukan sekadar mesin menghasil anak. Namun bisa memberikan kehidupan yang pantas sebagai manusia di mata Tuhan. Termasuk bagaimana merangkul jiwa-jiwa remaja untuk peduli dengan tubuh dan hidupnya sendiri, serta tidak menyerahkan emosi pada kesenangan semata.

***

Probolinggo, 18 November 2013

  1. bingung mw koment apa.. *arrgh*

    • Indah
    • November 18th, 2013

    miris.😐

  2. For God’s sake😦

  3. hiks…. lebih serem dari FF100kata

  4. ya Allah, miris bacanya, nina.. apalagi si ibu nonya itu malah menutupi dari bapaknya. ah.. salah satu sudut kehidupan remaja.

    meskipun ya, tak semua remaja seperti itu. ada pula yang masih memiliki iman dan akhlak yang baik. tugas kita sekarang adalah memberikan dasar-dasar keimanan pada anak kita. bukan saat mereka sudah remaja, melainkan saat mereka masih kecil.

    • Iya, Mbak. Masih banyak remaja yang lurus. Memang harus dekat dengan mereka sejak kecil, jadi tau setiap perubahan dan pergaulannya. Kadang2 peduli cuma diartikan sebagai ‘sering kasih nasehat’. Padahal kalo ndak bisa masuk ke hati mereka, nasehat itu cuma jadi tempelan ya… Ini aku sok2an udah ngerti aja, deh… T_T

    • hana
    • November 19th, 2013

    Aduhhhhh what make you so poor girl??

    ealahhh pokok e miris deh

  5. Sebenarnya siapa yang salah? Hehe… yang salah ya yang sekarang mulai tidak lagi memerdulikan khazanah tabu dan tidak tabu, nilai luhur kebudayaan pertiwi sudah tergerus oleh arus globalisasi yang dibawakan oleh acara televisi. Adanya waktu menonton televisi, bukankah lebih baik ke pangku adat, atau ke pengajian dan mempelajari nilai-nilai kehidupan yang mengantar kita menuju arah hidup yang teratur, indah dan berkah?

  6. pengen ta’ tujes2 itu ibunya! -_____-

    • Aku juga bete pas ngadepin ibunya, Mbak. Malah pengin cepet2 pulang, ndak nemenin anak perempuannya :”(

  7. Omo…
    aq umur 14 tahun masih main2…
    miris bener anak jaman sekarang…
    butuh banyak sex edukasi bukan hanya utk remaja tapi org tua juga

    • Setuju, Mbak Jipe… Ortu juga harus melek masalah ini T.T

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: