Pelangi, Hujan dan Degup Jantung yang Memburu

“Kamu tahu, mengapa ada pelangi setelah hujan turun?”

Aku menoleh dan menunggu jawaban darinya. Dia memandang langit yang baru saja reda dari hujan. Mulutnya mengerucut. Dahinya berkerut. “Hmmm …,” gumamnya.

“Aku sudah sangat lama menunggu jawabanmu atas perasaanku. Jangan lagi kamu tambah dengan menunggu jawaban atas pertanyaan sederhana ini,” godaku.

Dia tergelak. Rona merah mulai merayap di pipinya. Setelah puas memukul-mukul lenganku, ia menyesap kopi yang tak lagi panas. Lalu menekuk kaki dan memeluk keduanya.

Ia kembali mendongakkan kepala. Tersenyum memandang langit. Sejenak kami berdua terdiam. Sisa air hujan yang menetes dari atap teras rumahnya terdengar seperti lagu pengiring bagi kami yang tenggelam dalam pikiran masing-masing. Pikirannya tentang pelangi dan hujan. Dan pikiranku tentang senyum manisnya.

Ah. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli mengapa muncul pelangi setiap hujan reda. Tidak penting. Yang penting bagiku adalah…

“Ah, lupa! Yang jelas, cahaya matahari itu polikromatik. Ketika hujan turun, bilur-bilur airnya membiaskan warna putih yang biasa kita lihat menjadi berwarna-warni,” pekiknya sembari memalingkan wajah ke arahku.

Lamunanku buyar ketika pandangan kami bertabrakan. Duh, Gusti. Wajahnya sangat cerah dengan sebaris senyum di bibirnya. Bersaing dengan sinar matahari yang perlahan muncul dari balik awan.

“Eh, bener nggak, sih?” tanyanya sambil menekan pinggangku dengan siku kanannya.

Aku mengerang dan membungkuk. Merintih dan berpura-pura merasa kesakitan. Berharap ia mengkhawatirkanku, memegang tanganku dan bertanya, “Kamu nggak apa-apa?”

Tapi rupanya dia sudah tahu trik yang kugunakan. Alih-alih memberi sejumput perhatian, perempuan manis itu malah menjejalkan sepotong kue cokelat ke mulutku. “Nih diabisin! Awas, yaaa … kalo sampe ngerjain lagi. Jadi gimana? Jawabanku bener?” tanyanya.

Aku terpaksa menghabiskan kue cokelat di mulutku hingga terbatuk-batuk. Kali ini sungguhan. Namun perempuan manis ini tidak menganggapnya demikian. Sialan.

“Enggak tahu. Aku juga lupa,” ujarku. Kuseruput kopi hitam yang dibuatkannya untukku. Pahit. Dia tahu aku suka kopi pahit. Tanpa gula. Karena kehadirannya sudak cukup manis, tentu saja.

Senyumnya hilang. Digantikan bibir yang merengut dan terlihat sungguh menggemaskan. “Huuu … Payah!” cibirnya.

“Tapi aku enggak pernah kepayahan nunggu kepastian dari kamu,” bisikku.

Terdengar guntur dari langit yang kembali gelap ketika matanya membulat mendengar kalimat yang baru saja kuucapkan. Lalu ia tersipu dengan wajahnya yang merona.

Tiga bulan pendekatan adalah waktu yang pas untuk meminta kejelasan, bukan? Seminggu lalu aku menyatakan cinta. Namun hingga kini, dia lempeng-lempeng saja. Rasanya aku sudah tidak mampu lagi menahan diri untuk mencurahkan segala yang kupunya. Aku pikir, tidak terlalu berlebihan jika aku berkata bahwa dia juga suka. Dia tidak pernah keberatan dengan semua perhatian yang kuberikan. Bahasa tubuhnya, pupilnya yang membesar setiap kami berbincang, napasnya yang memberat saat ka…

Ups!

Hujan turun lagi. Hujan yang deras. Bukan gerimis seperti tadi.

Petir memekik. Guntur bergemuruh. Keduanya seakan beradu dengan degup jantung kami yang memburu. Ketika bibirnya mencium bibirku.

***

Malang, 31 Oktober 2013

  1. wow….. sukaaa bangetttt,

  2. “Kamu tahu, mengapa ada pelangi setelah hujan turun?” | “Pelangi terjadi karena peristiwa pembiasan sinar matahari oleh air hujan yang menghasilkan spektrum cahaya.” *ternyata dia anak fisika*

  3. yaaa kaga usah nunggu jawaban kalee, udah “mukul2 manja” gitu mah udah kejawab hahaha

  4. aw…aw…aw… qiqiqiqi

    • junioranger
    • October 31st, 2013

    Mba Nina ikutan #Ngumpet

  5. keren banget. haha
    malah senyum sendiri bacanya

    mampir juga ke blog ku ya mbak

    • hehehe… jangan mupeng ya😉
      makasih sudah mampir ^^
      *silaturahim balik*

  6. gak usah ngomong, di jawab pake gerakan wekekeke
    :uhuk

  7. *nari2 ujan lala

  8. Iki manis banget…:) *senyam senyum sendiri*

    Berarti aku kena gombalan tulisan mbak Nina. Duh..

  9. Romantis dan manis aja! Gak nge-twist …🙂

  10. huwaaaa… jadian! hore!! *salaman selamat*

  11. mantep ini dok

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: