Lelaki di Balik Kostum Badut Kelinci

The Rabbit Clown (by Minoru Chan)

The Rabbit Clown (by Minoru Chan)

“Berapa, sih, bayaran seorang badut?”

Pertanyaan Andre menghentikan gerakan jari-jariku di atas laptop. “Hah? Apa?” tanyaku sambil memandang laki-laki di sebelahku yang nampak sedang memerhatikan sesuatu.

Kuikuti arah pandangannya.

Sekitar sepuluh meter dari kedai kafe tempat kami sedang menghabiskan malam, ada sesosok badut yang dikerumuni anak-anak. Badut itu mengenakan kostum kebesaran bermotif polkadot warna-warni. Kepalanya tenggelam dalam topeng kelinci dengan telinga yang usang dan panjang. Telinga kanannya tertekuk ke depan, menutupi gambaran mata kanan yang sudah mulai mengelupas warnanya. Mulut topeng itu menganga, membentuk sebuah senyum – yang nampak seperti seringai bagiku – lebar dengan dua gigi kelinci yang khas. Besar. Jika seseorang mengintip di balik lubang mulut yang besar itu, mungkin akan ditemui sesosok wajah pemilik tubuh yang menghidupkan si badut. Tubuhnya berdansa kecil, ke kanan dan ke kiri, membuat perut pendulumnya bergoyang-goyang. Gerak langkah badut itu pun terbatas karena ia memakai sepatu besar merah yang terlihat sangat berat dan tidak nyaman.

Andre menolehkan kepala dan memandangku. “Badut. Berapa bayarannya sekali tampil?” katanya sembari meraih segelas kopi dan menyesapnya pelan. Dahinya berkerut, matanya menyipit, alisnya hampit menyatu di tengah. Nampaknya Andre penasaran sekali.

Aku terdiam sesaat. Pertanyaan itu seperti lubang hitam besar yang mengisap segala hal di sekitarku. Aku menghela napas, mengangkat bahu dan kembali sibuk dengan tulisanku, “Ndak tahu.”

Andre nampak heran dengan reaksiku. Tidak perlu melihat raut wajahnya untuk mengetahui hal itu. Aku bisa merasakannya. Laki-laki itu meletakkan gelas kopinya di atas meja dan mencondongkan tubuh padaku, “Kok gitu?”

Aku menelan ludah. Memutuskan untuk diam saja sebelum akhirnya berkata, “Kok gitu kenapa?”

Aku berharap untuk mendiamkannya saja. Pertanyaan yang baru saja terlontar bukan kalimat yang bagus untukku. Karena pertanyaan itu menggiring ingatanku pada kejadian yang menyesakkan. Sesuatu yang tidak pernah kukemukakan pada Andre. Hal yang tidak perlu ia tahu. Hal yang menjadi alasan mengapa bahasan badut tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan bagiku.

“Enggak biasanya kamu nanggepin datar gitu,” lirihnya. Lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.

Aku terdiam. Berkutat dengan lonjakan emosi yang membabi-buta seketika. Untuk beberapa saat atmosfer di antara kami menjadi seperti ruang hampa udara. Segalanya mengambang. Tanpa jawaban.

Manusia bisa saja berada di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Menghadapi kopi yang sama. Namun nyatanya, kami terdiam dalam pikiran masing-masing yang pastinya berbeda. Andre dengan pertanyaan absurdnya tentang bayaran seorang badut. Dan aku dengan segala kenangan buruk tentang badut.

Aku menyesap sedikit kopi latte yang sudah dingin. Seharusnya ada rasa manis dan gurih krimer di sana. Tapi yang terkecap oleh lidahku hanya pahit. Karena ada badut yang menari-nari di ingatanku. Tepat ketika ibu pergi dulu.

Andre masih memerhatikan badut ketika aku mengerling padanya. Badut kelinci itu tengah membagi-bagikan mangkuk kecil yang berisi es krim. Oh, aku mengetahuinya dari sebuah stan di belakang si badut. Sepertinya ada promo. Badut itu membagikan es krim pada anak-anak dengan harapan mereka akan meminta dan merajuk pada orang tuanya untuk membeli es krim dalam ukuran besar. Modus operandi yang licik, pikirku.

“Mudah-mudahan bos badut itu ngasih bayaran yang bagus. Lihat, tuh. Banyak anak kecil yang kepincut sama si badut.”

Rasanya ingin menyambar dan berkomentar bahwa bayaran menjadi badut tidak pernah bagus. Tidak peduli semenarik apapun ia ketika beraksi di balik kostum. Badut hanya dibayar karena dia mau berpura-pura. Tidak lebih.

“Kadang aku mikir, orang-orang yang mau jadi badut ini, kok, nyari duit sampe segitunya. Pakai kostum yang kebesaran dan berat. Berpura-pura menghibur sedangkan mungkin saja dia dan keluarganya tidak bahagia dengan hasil yang didapat.”

Andre meneruskan ocehannya. Dan aku semakin kesal. Kuteguk habis latte yang tinggal separuh. Aku berusaha tidak memandang lagi badut yang sedang dibicarakan Andre. Namun mataku kembali tertambat di sana. Memerhatikan sang badut kelinci sedang berputar-putar dengan sejumlah anak-anak di belakangnya yang berbaris layaknya kereta. Sesekali, badut itu tersandung kakinya sendiri. Tentu saja, sepatunya kebesaran.

“Kemarin aku sempat baca beberapa postingan tentang badut di Twitter. Sebagian besar dari mereka tidak suka badut. Entah karena benci atau takut,” lanjut Andre.

“Pantas untuk mereka. Badut itu penipu.”

Entah dari mana asalnya, namun kata-kata itu melesat begitu saja. Aku bahkan menggigit bibirku sendiri setelah mengucapkannya. Aku berpaling dari badut kelinci yang kubenci dan berusaha untuk tidak berkedip. Sekali saja mataku mengatup, air mata tidak mampu kubendung lagi.

Laki-laki yang baru dua minggu menjadi pacarku itu memandangiku dengan lekat. “Penipu? Maksudmu gimana?”

Seketika, kenangan-kenangan buruk berseliweran di pelupuk mata. Ada sorak sorai di sana. Tawa dan pekik bahagia teman-teman masa kecilku ketika seorang badut memberi kami hadiah berupa mainan dan gula-gula. Aku pun begitu, pada awalnya. Namun sepulang dari pesta itu, aku tidak lagi menemukan ibu di rumah. Ibu minggat. Pergi entah ke mana. Semua itu karena kekesalannya pada orang di balik kostum badut yang memberi kami mainan dan gula-gula. Orang yang allih-alih memberi istri dan anaknya kebahagian, justru menebar tawa di luar sana demi sejumput rupiah yang tak seberapa. Orang itu adalah laki-laki yang kusebut bapak.

Badut adalah manusia dengan topeng yang mengerikan. Topeng yang seharusnya tidak perlu dikenakan bapak karena uang yang ia dapat tidak bisa menghidupiku dan ibu. Topeng yang pernah membuatku terlena dan tertawa akan mainan serta gula-gula. Topeng yang membuat ibu pergi dengan tega dan tak pernah kembali.

“Aduh!”

Terdengar teriakan dari stan badut di sana. Seorang anak laki-laki yang mungkin berusia delapan tahun jatuh dan tersungkur. Mangkuk es krim terpental dari tangannya. Wajahnya membentur ubin. Sang badut membantu anak laki-laki itu untuk berdiri dan segera menenangkan tangisnya. Badut itu melepas topeng kelincinya, lalu mengusap-usap jidat anak laki-laki itu dengan lembut. Meniupnya pelan, kemudian membubuhkan sebuah ciuman di sana. Tangis anak laki-laki itu mereda. Tak lama kemudian, seorang wanita yang mungkin adalah ibunya datang, menggandeng anak laki-laki itu dan berlalu.

Dadaku sesak. Nyeri. Seperti ada makhluk cebol yang menusuk-nusuk dindingnya dengan logam tajam. Mengingat semua kebencianku pada bapak membuat hatiku sakit. Seharusnya bapak bisa lebih dari sekadar menjadi badut. Seharusnya.

Andre menyentuh lembut bahuku ketika akhirnya bilur air jatuh dari sudut mata. “Kara … kamu kenapa?”

Segera kukemasi laptop dan kabel catu dayanya. Menjejalkannya begitu saja ke tas ransel yang teronggok di samping kakiku. “Yuk, kita pulang aja.”

Andre nampak bingung dengan sikapku. Namun ia mengiyakan dan membantu membereskan buku catatan naskah yang tertinggal di atas meja. Ia tergopoh-gopoh mengikutiku yang sudah bangkit dan bergegas pergi dari kafe ini.

Tiba-tiba semesta membunyikan loncengnya. Memberikan waktu padaku dan badut yang sudah melepas topeng kelincinya. Membiarkan kami berpandangan selama beberapa jeda untuk menyambung jarak yang rapuh dan terputus setelah sekian lama.

Sial. Sudah susah-susah bergegas, rupanya kami bertatapan juga.

Aku menelan ludah. Pertemuan ini sungguh tak kuinginkan. Ada keterkejutan yang nyata di wajahnya. Mulutnya bergerak-gerak, menyebut sebuah kata, yang kuduga adalah namaku.

Aku masih membencimu.

Aku tahu, tidak semestinya seorang anak membenci bapaknya sendiri. Semua orang bilang begitu padaku. Namun ada luka yang belum bisa sembuh. Rasa tercampakkan dan tidak pantas diperjuangkan. Bapak menyerah untuk berjuang membuat ibu tetap tinggal. Dan ketika bapak menyerahkanku pada panti asuhan, aku merasa bapak telah menyerah pada segalanya.

Aku mempercepat langkahku dan segera pergi. Aku harap isi hatiku itu bisa sampai padanya. Pada laki-laki di balik kostum badut kelinci yang seharusnya masih kupanggil bapak.

***

Malang, 31 Oktober 2013

PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1

  1. ini sedih (tapi bagus) lho…
    apalagi bacanya masih pagi gini, huaaaaa…. T~T

    • hwaaa Vanda udah baca :”)
      Makasih, Vanda :*
      *sodorin tisu*

  2. dan saya semakin minder untuk bikin cerita badut yang deadline hari ini😀

  3. hampir-hampir aku tak sabar menanti penulis menceritakan alasan ‘aku’ membenci badut. porsi ‘kecerewetan’ andre terlalu banyak kayaknya. oya, pada saat pertama ‘aku’ menatap badut yang ternyata bapaknya sendiri, kenapa tak ada percikan emosi apapun ya? entah itu berupa kerutan di kening, gemeretak geraham, tangan yang mengepal menandakan kebencian, atau yang lain. cuma ada kalimat ‘aku masih membencimu’.

    Salam.🙂

    • Iya, tadi pas dibaca ulang memang wagu ceritanya :p
      Banyak yg bolong. Keburu pengin posting aja ahaha…
      Makasih sarannya, Kak ^^

  4. Badut itu bapaknya Kara? Tapi pas si Badut buka topeng buat nenangin anak kecil, si Kara biasa aja? Kaget kek, atau mrengut gmn gitu? Atau gak buka topeng pun si Kara tau kalo itu bapaknya? Sbenernya cerpen bisa lebih banyak ngejelasin!

    IMHO …🙂

  5. here comes the ‘Joker’

  6. badut yang sedih…

    • Entah kenapa aku seneng banget Mbak La mampir ke sini :”)
      *terharu*

  7. Wah…😦

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: