Peri Api di Balik Pohon Ek

wpid-photogrid_1381198057851

Semua orang sering mendengar namanya. Peri Api. Rambut sebahu dan bergelombang, berwarna merah bersemburat jingga. Seperti api. Peri Api tidak pernah melepas seringai dari wajahnya. Kata mereka, Peri Api itu jahat, membara dan membakar.

Namun dalam beberapa minggu ini, Jerry selalu memimpikan sesosok penuh bara dengan sayap menyala dari punggungnya. Rambutnya merah bersemburat jingga. Peri Api menyusup ke dalam mimpinya. Entah mengapa.

***

Waktu berhenti di desa Musim Dingin. Seperti mati. Hanya ada gumpalan es di mana-mana. Pohon dedalu tak berdaun dan tanpa warna. Bunga tidak pernah berbunga. Manusia-manusia berbibir membiru dan pucat kulitnya.

Jerry pernah bertanya pada ibunya. “Tidakkah penduduk di desa ini bosan dengan musim dingin? Lihat … tubuh kita berderik-derik karena tulang belulang membeku di dalamnya,” ujarnya sambil menggerak-gerakkan siku yang kaku.

Ibunya tersenyum. Dia menuangkan sup daging kelinci dingin ke dalam mangkuk Jerry. “Kita sudah hidup seperti ini selama beratus-ratus tahun. Jika tidak pernah ada masalah, mengapa harus memikirkan hal yang belum pasti?” jawabnya.

Jerry mendengus. Kadang-kadang orang dewasa terlalu pasrah pada rasa nyaman. Menerima saja apa yang ada sejak dahulu kala. Atau mungkin takut pada konsekuensinya. Melangkah melawan rasa nyaman berarti memulai dari awal. Padahal Jerry tahu, ibunya sering mengeluh lututnya nyeri karena suhu di desa ini dingin bukan main.

“Sudah. Makan dulu supmu sebelum membeku,” kata ibu Jerry sambil mengelus kepala putranya.

Jerry menghela napas panjang. Mengaduk-aduk sup di mangkuk dengan kesal, “Aku bahkan tidak bisa melihat bedanya.”

Dan malam itu, Jerry kembali memimpikan pohon ek di hutan Es mencair. Sulur dedaunannya cerah berwarna hijau pupus yang menjulur hingga ke tanah. Seekor kucing belang tiga menjilati tubuhnya di bawah pohon. Sepasang kelinci berwarna cokelat dan putih bermain-main dengan keenam anak mereka.

Sedangkan di sisi timur, Jerry melihatnya lagi. Sosok itu duduk menghadap matahari yang baru saja terbit. Rambut merahnya bersemburat jingga, melambai ditera angin. Peri Api menolehkan wajah padanya. Belum sempat Jerry melihat seringai di wajahnya, mimpi telah bertemu pagi.

***

Keinginan melihat dunia yang hangat dan berwarna-warni sudah tidak mampu Jerry bendung lagi. Ia bosan dengan tubuh kaku, dingin serta semua hal yang berwarna putih. Matanya berkunang-kunang karena terlalu sering memandangi benda berwarna putih.

Maka Jerry pergi ke hutan Es. Tanpa memberitahu ibunya, tentu saja. Ia memasukkan air ke dalam botol kecil, membawa dua potong pai apel, lalu menjejalkan semuanya ke dalam tas kain yang kumal. Ia mengendap-endap keluar rumah ketika ibunya sedang melelehkan bongkahan es di belakang rumah agar bisa digunakan untuk memasak.

Jerry terus berjalan ke utara. Ia tidak tahu sudah seberapa jauh berjalan. Desa Musim Dingin sudah hilang dari pandangan. Sedangkan pohon ek yang menjulang semakin jelas di depan mata.

Sesaat sebelum memasuki hutan Es, hatinya gusar. Ini pertama kali ia melanggar larangan ibunya. Kata leluhur desa, hutan Es terlarang bagi siapa saja. Mereka bilang, hutan Es adalah tempat Peri Api senang bertapa. Sudah kepalang tanggung. Teruskan saja, pikir Jerry. Sambil mempererat genggaman pada tasnya yang kumal, ia memasuki hutan Es tanpa gentar.

Itu dia. Pohon ek berdiri kokoh di hamparan es yang luas di tengah hutan. Batang, cabang dan tangkainya dipenuhi bunga es.

Jerry mengamati kanan-kiri pohon ek. Mencari sosok Peri Api yang dimimpikannya.

Tapi nihil.

Pohon besar itu berdiri sendirian. Putih dan dingin. Tidak ada kucing atau kelinci.

Dengan kesal, Jerry duduk bersandar di batang besar pohon ek. Beristirahat sejenak sebelum kembali pulang. Ia menggigit pai apel yang sudah membeku. “Mungkin karena aku melanggar larangan Ibu, semesta tidak mengijinkan aku bertemu Peri Api,” gumamnya.

Tiba-tiba Jerry merasa ada hangat di sekelilingnya. Ia terperanjat dan bangun dari duduknya. Kepalanya mencari-cari sumber hangat yang kini menjadi panas. Jerry menempelkan tubuh ke batang pohon. Mengendap-endap ke balik pohon ek dalam diam karena takut sumber kehangatan itu pergi.

Di balik pohon ek itu, ada cahaya merah yang menyambar-nyambar dengan lidahnya yang jingga. Mata Jerry silau sejenak. Ia menutup mata dengan kedua tangan, sambil tetap mengintip dari sela jari-jari.

“Kamu siapa? Atau apa?” teriak Jerry.

Cahaya itu meredup. Perlahan, Jerry menurunkan tangan. Matanya mengerjap sejenak hingga bisa melihat sosok di depannya dengan sempurna.

Tubuh sosok itu tinggi menjulang. Mungkin hampir delapan kaki. Rambutnya sebahu, bergelombang dengan warna merah dengan semburat jingga. Kulitnya merona dengan merah di pipi. Bibirnya penuh dan ranum, merah seakan baru saja mengigit buah stroberi. Ia berbaju putih dengan rumbai cantik di bagian dada. Lalu dari balik punggungnya, ada sepasang sayap dengan surai api yang ujungnya menjilat-jilat udara.

Peri Api.

“Kamu selalu memimpikanku,” bisiknya.

Jerry menelan ludah. Ya Tuhan, dia begitu cantik. Tidak ada perempuan di desa Musim Dingin yang semenawan ini, pikirnya.

“B … Bagaimana kau tahu?” tanya Jerry lagi.

“Orang-orang yang datang ke sini selalu memimpikanku sebelumnya. Selalu begitu,” jawabnya sambil tersenyum.

Menatap senyum itu, tubuh Jerry gemetar. Orang-orang di desa salah mengartikannya sebagai seringai. Lengkung cantik itu adalah senyuman. Jerry menggigil. Aneh. Atmosfer di sekitar pohon ek ini menghangat. Tapi gemetar tubuhnya justru semakin hebat. Mungkin karena ia belum terbiasa. Atau mungkin… Jerry terlalu terpesona.

Perlahan, bunga es di pohon ek mencair. Tetes-tetes airnya jatuh ke tanah, menghidupkan rerumputan dan bunga yang tak pernah kutahu namanya. Warna-warni. Mahkota bunganya wangi. Mengundang kupu-kupu cantik hingga mereka bertengger di atasnya.

Jerry menikmati sebuah cahaya yang menyusup hingga ke dada. Jadi beginilah rasanya menjadi hangat, pikirnya. Dan Jerry menyukainya.

Jerry tersenyum melihat pohon ek dan hutan ini. Indah. Beginilah seharusnya bumi yang ia pijak. Hidup, hangat dan berwarna. Tubuhnya menggigil lagi. Kali ini karena terpana.

“Kemarilah … Nampaknya kamu sangat kedinginan, Jerry. Biarkan aku memelukmu.”

Peri Api melayang ke arah anak lelaki berumur delapan tahun itu. Ia menjulurkan lengan dan sayapnya yang membara. Meraih tubuh Jerry dan menenggelamkannya di dalam peluknya. Sedangkan Jerry seakan tidak berdaya. Jatuh begitu saja dalam sepasang sayap yang mendekapnya erat. Jerry hanya ingin bergelung di pangkuannya. Merasakan hangat lebih lama dan tak ingin kembali ke desa.

Para leluhur benar. Peri Api itu berbahaya. Pelukannya yang hangat begitu melenakan. Tanpa sadar, sendi-sendi Jerry yang membeku, meleleh perlahan. Daging di tubuhnya terpanggang. Tubuhnya hangus terbakar.

“Maafkan aku, Ibu. Aku tidak pulang. Tapi aku tidak menyesal telah jatuh padanya.”

Dalam pelukan Peri Api, Jerry melebur dan tiada.

***

Malang, 17th October 2013

    • naztaaa
    • October 17th, 2013

    Keren.. (Ɔ ‘́ ‘̯̀)ɔ

    • Emonya kok gituuu…
      Makasih, Kak Ana. Ndak ikutan ndongeng? :”)

  1. bahagia dalam tiada.

    • jampang
    • October 18th, 2013

    mantapppppp

  2. Rasanya beda sama dongeng2 yang pernah kubaca sebelumnya mbak. Aku pernah dapat tips menulis dongeng sebaiknya jangan pakai sudut pandang orang pertama dan rasanya memang beda..

    • Iya si… emang jadi aneh kalo pake POV orang pertama ya… T.T

  3. 2 jempol deh..kereeen…^^

    • Indah
    • October 18th, 2013

    Pasti Peri Api sengaja deh masuk dalam mimpi.😛
    Keren, Nin.

    • Iya juga ya… wah modus niiih perinyaaa >,<
      makasih, Kak Indah :')

  4. mba, aku mau tanya, pohon ek itu pohon kaya gimana yah😀

    • Pohon ek atau pohon oak, pohon rindang dengan batang pohon yang kokoh dan kuat. Banyak disebut di tulisan-tulisan asing. Coba dicari di mesin pencari Google untuk lebih jelasnya🙂

    • ak tadi jg mau tanya mb nina pohon ek itu kyak apa? hehe🙂

      • Wah banyak yg belum tau ya… kupikir sudah umum soalnya pohon ek sering disebut di cerita2 fiksi dan dongeng.

  5. Ending yang menarik … dan pilihan hidup memang tidak bisa dipaksakan meski sudah ada rambu-rambu yang mengelilinginya. “Tidakkah penduduk di desa ini bosan dengan musim dingin?” ^_^

    • Melisa Emelda
    • February 4th, 2014

    Keren banget nin ceritanya, g tau tnyata nina pinter nulis (^-^)
    Smoga nanti bs nelurin buku🙂
    Aamiin

  1. October 19th, 2013

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: