Seorang Tamu yang KeGRan

Bulan haji adalah bulan yang (katanya) baik untuk melaksanakan ijab kabul pernikahan. Enggak heran, invitation event pernikahan bertebaran di halaman Facebook. Yang menjadi pertanyaan, apakah undangan via Facebook ini ‘sah dan terpercaya’?

Beberapa tahun lalu, saya punya pengalaman yang cukup memalukan. Selepas lulus kuliah, setiap ada rekan sejawat yang menikah, undangan yang diunggah di grup angkatan telah menjadi undangan resmi. Kami tidak pernah mempermasalahkan apakah undangan itu dalam bentuk fisik atau elektrik. Siapa saja yang merasa sebagai rekan sejawat seangkatan seperjuangan (alah) diwajibkan datang. Karena tentu saja, tidak sah hukumnya jika tidak ada foto bersama rekan-rekan seangkatan di acara resepsi pernikahan.

Prinsip itu berjalan cukup lama, setidaknya bagi saya. Hingga suatu saat, ada invitation pernikahan salah seorang teman SMA. Ia adalah rekan yang bisa dibilang ‘akrab’. Sering ke kantin bareng, kabur ke perpustakaan bareng, atau nggosip bareng. Beberapa bulan sebelumnya pun kami pernah ngobrol tentang rencana pernikahannya. Sebagai teman, saya ikut senang, dong yah. Dan perasaan turut bersuka cita itu semakin memuncak ketika membaca invitation via FB tersebut. Sialnya, saat acara resepsi berlangsung, saya sedang bertugas jaga di rumah sakit. Saya bela-belain bawa kostum pesta, make up seadanya serta sepatu high heels di dalam ransel jaga saya.

Menjelang acara, saya ijin pada perawat untuk pergi ke resepsi sebentaaa~r saja. Gimana-gimana, ini kawan akrab saya semasa SMA. Masa’ iya enggak datang. Kalo ke acara resepsi kan paling datang, tanda tangan, nyemplungin amplop, salaman, makan, trus pulang. Setengah jam udah kelar.

Setelah berdandan sekadarnya dan berkolusi dengan perawat-perawat, saya kabur dengan hati tenang. Meski sebenernya ngenes juga. Sudah cantik begini kok ya datang ke kawinan sendirian (hiks). Sesampainya di lokasi resepsi, saya (yang sendirian) tanda tangan, nyemplungin amplop lalu tibalah waktu bersalaman dengan mempelai di pelaminan. Begitu kaki menaiki pelaminan, saya tersenyum cukup lebar, berusaha memberi kesan sempurna bagi kawan lama meski saya datang sendiri saja.

“Hey, selamat, ya…,” ujar saya sambil menyalami sang kawan dan membubuhkan kecupan di pipi kiri dan kanannya.

“Iya, makasih, Noy. Ehm… aku lupa. Kamu terima undangan ndak, ya?”

. . .

Ada jeda yang cukup panjang di sini. Undangan?

“Errr… Facebook?” jawab saya dengan wajah bingung dan dungu.

Kawan saya pun melongo dengan bingung dan du… ah bukan. Dia takjub karena (sepertinya) saya tidak tahu malu.

Akhirnya saya buru-buru turun dari pelaminan dan menuju meja yang dipenuhi makanan. Saat itu rasa malu dan kesal bercampur jadi satu. Banyak pertanyaan yang mengapung di kepala saya. Mengapa dia menanyakan masalah undangan ketika saya datang? Apakah karena sejak awal saya tidak diundang? Mengapa saya tidak diundang? Jika memang tidak berniat mengundang, mengapa membuat ‘undangan’ di Facebook?

Setiap makanan yang masuk ke mulut, kepala saya berteriak, “Pahit.” Saya semakin merana. Bayangkan. Kabur dari jaga, datang sebatang kara, dan kenyataannya, kehadiran saya menjadi satu hal di luar dugaan mempelai berdua. Pahit.

Ketika menikmati makanan yang terasa mencekik kerongkongan, saya disapa oleh kawan-kawan lama yang datang bersama-sama. Abaikan pertanyaan pertama dari mereka (“Datang sama siapa?” maksudnya). Meluncurlah obrolan basa-basi seputar kabar dan sebagainya. Hingga akhirnya saya iseng bertanya, “Eh, yang nganter undangan kalian siapa?”

Dan yang mengejutkan adalah kawan saya yang menjadi pengantin lah yang mengantar sendiri undangan pernikahannya untuk mereka.

O k e.

Jadi saya adalah tamu tak diundang. Ah bukan. Tepatnya tamu yang keGRan mengira undangan via Facebook adalah NYATA.

Fool me.

Mendengar jawaban tadi, rasanya ingin segera memukul-mukul kepala sendiri. Atau memutar waktu dan memutuskan untuk tidak datang ke resepsi itu sama sekali. Nelangsa… Kami adalah kawan akrab, ternyata terlupakan untuk urusan undangan. Atau saya saja yang merasa akrab? Meskipun demikian, rasanya pertanyaan tentang undangan tadi terlalu menyakitkan.

Kasian, ya? Iya.

Saya kembali ke rumah sakit dengan pikiran yang berantakan. Sedih, malu, dan terluka. Tapi bagaimanapun, saya telah datang dengan membawa doa. Semoga kekesalan saya sepulang dari sana tidak mengubah bobot doa yang sudah terucap untuk mereka berdua.

Sejak saat itu, saya tidak percaya lagi pada undangan pernikahan via Facebook, sampai ada undangan fisik atau undangan langsung via lisan yang datang pada saya. Saya paham, urusan pernikahan memang tidak hanya perkara undangan. Tapi berpikir positif aja lah. Jika memang tidak ada undangan fisik (atau lisan), berarti budget untuk makanan tidak disiapkan. Dan membuat invitation di Facebook adalah salah satu cara paling cepat mengumumkan kabar gembira. Sekaligus wadah paling oke menerima doa untuk pernikahan di kolom komentarnya.

Tapi ini hanya pendapat pribadi saya. Berdasarkan pengalaman pribadi pula. Masalah apakah undangan di Facebook itu sah atau tidak, dikembalikan ke keyakinan masing-masing, yah ^^

Demikian cerita dari saya. Selamat menikah bagi yang merayakan. Selamat menempuh perjalanan lebih jauh bagi yang belum menemukan belahan jiwa.

***

Malang, Oct 6th 2013

  1. wogh! rasanya pengen ditelan bumi aja. ya nggak usah tanya2 di pelaminan napa, sih? kan bisa entar2 aja selesai acara, beberapa hari setelahnya. ikutan emosi ini bacanya.😀

    • Hehehe iya, Mbak. Pas itu gemes banget. Sampai sekarang saya belum ketemu sama ybs. Kayanya bakal canggung sih .____.

      • tapi aneh juga sih, ngapain coba dia cerita2 ttg pernikahannya? terus, kenapa undang lewat FB juga kalo emang GA NIAT ngundang? ih gemes deh.
        lagian, jaman sekarang emg lbh enak ngundang lewat social media, ga nambah2 budget buat kertas undangan yang naudzubillah mahalnya. lagian, pake undangan fisik, belom tentu disimpen sama yg kita undang, palinan jg dibuang2! sayang, udah mahal2 tapi masuk tempat sampah juga.

        terus, klo emg makanannya dikit, ya ga usahlah pake ngundang2 di fb segala. -______-

        makin emosi sayah. maap ya noi.😀

      • Ihihihi sabar, Mbaaak… :p

        Ngundang via sosmed memang praktis dan ramah lingkungan. Tapi risikonya ya akan banyak orang yg nganggep undangan itu enggak serius atau malah terlalu banyak yg datang (alias banyak yg keGRan ihihihi).

  2. lah, kok temen deket malah ga diundang, sedih😦

    • Sepertinya saya yg keGRan mengira kami dekat :p

      • been there.. sakit ya ceu..huhuhu

      • Banget. Tapi sekarang udah gapapa, sih. Yah anggap aja dulu dia lagi banyak urusan jadinya lupa hehehe…

    • Indah
    • October 6th, 2013

    Kalau via FB atau apa pun sejenis sih aku anggap bukan undangan Nin, yah cuma sekedar informasi aja. Teman dekat dulu juga nggak kirim undangan fisik/langsung tapi via email. Kartu undangan di scan sama ybs karena jarak kita yang udah jauh dan ybs nggak sempat nganterin.

    • Sekarang saya gitu, Mbak. Misal ndak ada omongan langsung dari ybs ya ndak merasa diundang hehehe…

    • jampang
    • October 6th, 2013

    jauh dekat itu relatif😀

    tapi… kalau ngundang via facebook saya abaikan. mungkin kalau bentuknya message… ya bisalah ditolerir

  3. jadi undangan via facebook gak nyata ya..?? klo gak terlau kenal ya gak sy respon, tpi klo temen deket, biasanya selain via fb, undangan langsung juga…

    • Enggak. Kalo niat ngundang ya pake undangan fisik atau setidaknya ngomong langsung. *self toyor*

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: