[BeraniCerita #28] Firasat Bunda

Hujan turun dengan sangat deras. Jika saja bisa bicara, mungkin wiper mobil ini sudah meronta dan meminta untuk segera diistirahatkan. Kunyalakan dek musik dan mencari channel radio. Apa saja. Asal ada suara.

Bukan. Bukan karena aku sudah bosan. Tapi untuk menghangatkan suasana dalam mobil yang terasa seperti kutub utara. Dingin luar biasa.

“Maafkan Niar, Nda. Tadi sedang ada rapat, jadi terlambat menjemput Bunda di bandara. Lagian enggak biasanya Bunda ke Surabaya tanpa kabar. Ada apa, tho?” tanyaku. Dengan sejumput harap bahwa pertanyaanku akan melumerkan aura dingin dan menusuk hingga ke tulang. Kedatangan Bunda kali ini begitu tiba-tiba. Sama sekali tanpa berita. Perilaku spontan Bunda dan atmosfer canggung ini adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak benar.

Tapi Bunda diam saja. Tangannya dilipat di depan dada. Pandangannya masih tak lepas dari balik jendela. Bibirnya menipis dan nampak begitu kencang. Aku menelan ludah. Ini tidak bagus. Sangat tidak bagus.

“Bagaimana Abangmu sekarang?” Bunda melepas pandangan dari jalanan.

“Baik saja. Tak apa-apa,” kubilang. Aku menarik nafas, sambil terus melaju di jalan tol. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku nanti?

“Dusta. Jika tak apa-apa, tidak mungkin Abangmu mengabaikan telepon Bunda. Sudah hampir tiga bulan … Bunda sama sekali tidak mendengar suaranya.”

Aku bisa mendengar dengusan panjang Bunda. Lalu beliau menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi penumpang. “Kita langsung ke rumah Abangmu,” ujarnya lagi.

Tanganku menggenggam kendali mobil dengan lebih erat. Menguatkan nyali untuk menghadapi hal besar yang sesaat lagi akan terjadi. Pikiranku melaut jauh. Berlayar pada sebuah pesan Abang agar aku tetap tutup mulut. Ah. Uang dan rahasia. Dua hal yang sama sekali sulit untuk kupegang.

Menjelang Maghrib, kami sampai di rumah Abang, aku segera meraih payung di bawah jok dan melindungi Bunda supaya tidak kehujanan hingga ke teras depan. Nampaknya Abang belum pulang. Mobilnya tiada. Lampu rumahnya belum menyala.

Kurogoh tas ransel kumal dan mencari-cari kunci duplikat rumah Abang. Butuh waktu yang cukup lama sebelum akhirnya aku menemukannya.

“Bunda langsung istirahat di kamar aja. Niar masak air buat Bunda mandi sekalian bikin teh panas,” ujarku sambil meletakkan tas bawaan Bunda di sebuah kamar.

“Kamu telepon dulu Abangmu biar cepat pulang,” jawab Bunda sambil menjatuhkan diri di sebuah sofa.

Untuk kesekian kalinya, aku menelan ludah. “I … Iya, Bunda.”

Kuhamburkan diri ke dapur, merogoh ponsel dan mengetik sebuah pesan pada Abang. Bunda datang. Memintamu untuk segera pulang.

Kuraih sebuah panci dan mengisinya dengan air dari keran. Mendaratkan pantat panci di atas kompor dan menyalakan apinya. Di sela-sela udara dingin, tubuhku yang gemetar dan rasa cemas yang merajalela, terdengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah.

Aku mendengar langkah ringan Bunda menuju pintu depan. Kaki dan tanganku terasa kebas. Perutku mulas. Dadaku terasa berhenti bernapas. Aku menuju pintu depan dengan setengah berlari.

Terlambat.

Bunda telah sampai di ambang pintu. “Iya, Mbak? Cari siapa?”

Seorang perempuan berambut panjang berdiri di depan sana. Ternganga memandangi Bunda, aku, dan layar ponsel yang digenggamnya secara bergantian. Bibir merahnya bergetar. Suara baritonnya pecah, “B … Bunda?”

***

Malang, Sept 24th 2013

  • Ndak ngetwist, yah… Su lama sekali na son bikin FF T~T

IMG-20130919-WA0000[1] (1)

  1. Jadi…
    Hhhmmm…, good luck!

  2. Ngetwist mba…abangnya bberubah gender ya…
    Kereeen…🙂

    • jampang
    • September 25th, 2013

    banyak yang mengubah jenis kelamin😀

    • Ahahaha aku ndak kreatif ya T.T

        • jampang
        • September 25th, 2013

        bukan…. maksudnya dikejadian nyata. ceritanya mah bagus

  3. ngetwist kok.
    tapi ada sedikit ganjalan. suaranya masih ga berubah kan ya, jadi masih bisa telepon. mungkin yang bikin bunda khawatir karena beberapa bulan tidak pulang, tidak mau ditemui..

    • Hehehe iya, Mbak. Bener banget ituuu… Makasih kritik-sarannya ^^

    • eda
    • September 25th, 2013

    wah…ganti kelamin nih..hihihi

  4. Hihihihhi….operasi suara ada gak yaaa…😛

    • Ada, Kak. Tanpa operasi, ada latihan khusus bagi para transgender untuk mengubah suara. Kalo operasi juga ada hehehe… Cuma kalo di FF ini semacam ndak jelas, sih… >___<
      Maafkan T.T

  5. huwahhh…si abang transgender rupanya *shock*

  6. Kayaknya yg gugup ketemu Bunda tuh si Abang? Padahal kan dia udah disms ama si Aku? Tapi Bunda bentar lagi juga kaget! Hehe..

  7. Huwaaaa…. ternyata…

  8. hiyaaaa… ini bikin deg-degan :))

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: