Bulan Sabit Merah

Rabbu almasyriqayni warabbu almaghribayni

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththiban[1]

Ini adalah surat Ar Rahman keempat. Berarti waktu Maghrib sudah dekat.

Aku melambai-lambaikan tangan ke udara. Berusaha merasakan hangat sinar matahari. Katanya, langit sore berwarna kuning. Lalu jingga. Merah. Kemudian gelap. Selanjutnya bulan perlahan naik dan menerangi malam. Purnama sudah lewat seminggu yang lalu. Berarti malam ini, giliran bulan sabit.

Aku tersenyum. Kata Ibu dulu, bulan sabit itu sama bentuknya dengan lengkung senyumku. Kata Ibu dulu, bulan sabit itu sama artinya dengan harapan pada bulan yang baru.

Bulan baru. Ramadhan sudah kurang seminggu.

Aku teringat pada hari-hari dua puluh tahun lalu. Ibu baru saja sahur dan shalat shubuh. Ia menghampiriku yang diam-diam terbangun. Memelukku dan melantunkan surat Ar Rahman di telingaku. “Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththiban. Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan? Tidak ada, Nduk. Tidak ada.”

Otakku yang masih berusia lima tahun tidak mampu memahami. Nikmat Tuhan? Yang mana? Yang kutahu hanyalah gelap.

Belum sempat pertanyaan itu terlontar, Ibu menggendongku dan berjalan entah ke mana. Tiba-tiba aku merasakan hangat di wajahku. Lalu leherku. Dan hangat itu menjamahi seluruh kulitku.

“Faiza suka? Ini namanya pagi. Matahari selalu lebih ramah ketika pagi. Coba rasakan … Mataharinya hangat. Hidung Faiza jadi enggak buntu lagi …,” kata Ibu sambil merentangkan tanganku hingga telapaknya menengadah.

Iya. Hangat. Menelusup hingga rongga sempit yang membeku semalamam. Malam yang selalu dihiasi mimpi buruk. Mimpi yang hanya dipenuhi gelap dan rasa takut.

“Wah … Ada burung camar. Dia bersiul-siul. Kira-kira camar itu sedang menyanyikan lagu apa, ya, Sayang?” seru Ibu.

Kepalaku bergerak-gerak. Mengarahkan telinga pada sumber suara yang dimaksud Ibu. Aku mendengar cicit burung camar itu tengah beradu dengan siulan Ibu yang amburadul. Aku tertawa. Lalu tawa itu semakin nyaring karena aku mendengar suara tawaku sendiri.

Tiba-tiba Ibu memegang  tanganku dan menempelkan ke wajahnya. Ujung bibirnya bergerak naik, membentuk sebuah ceruk kecil di pipinya.

“Ibu tersenyum,” kataku.

Ibu mengangguk. Lalu jari telunjukku basah. Kutelusuri air di pipi Ibu hingga ke atas. Air itu berasal dari kedua matanya.

“Ibu menangis,” ujarku lagi.

Ibu merengkuhku ke dalam dekapannya. “Ibu menangis bahagia, Nduk. Melihatmu tersenyum dan tertawa, Ibu bahagia. Ndak ada nikmat Tuhan yang bisa Ibu dustakan.”

Aku terdiam. Mematung di dekapnya. Bagiku, inilah nikmati itu. Bisa menghayati degup jantung dari dalam dada Ibu. Degup jantung yang menghidupkanku. Degup jantung yang mengasihiku.

“Faiza melamun lagi?”

Aku menoleh. Ini suara Bu Narti, kepala panti asuhan. Aku tersenyum, “Enggak, Bu. Faiza sedang menikmati sore. Warna apa yang sekarang ada di langit barat?”

“Merah,” jawab Bu Narti sambil menggenggam tanganku yang mulai dingin.

Merah. Berarti sesaat lagi gelap. Seperti yang ada di penglihatanku selama ini.

Merah. Seperti perasaan yang membakar. Tanyakan padaku, seperti apa rasa yang membakar itu. Marah dan kecewa. Aku bisa mendeskripsikan semua rasanya dengan sempurna.

Merah. Seperti ingatanku pada sebuah suara pukulan keras, diikuti suara pekik dan tangis Ibu yang melengking. Menyayat hati. Dan bekas sayatannya tidak memudar hingga kini.

“O iya. Barusan ada lagi gelandangan yang di bawa ke sini. Seorang bapak tua. Tubuhnya kurus. Ada borok di kakinya. Besar dan bau. Dan mata yang sebelah kiri membesar. Mungkin hampir sama besarnya dengan bola tenis,” ujar Bu Narti.

Lamunanku buyar lagi. “Namanya siapa?”

“Belum tahu. Dia ndak mau ngomong sama sekali.”

“Faiza mau ketemu. Orang-orang seperti itu pasti kehilangan harapan. Dan saya tahu … bagaimana rasanya.”

Aku berjalan di belakang Bu Narti. Tidak. Aku tidak perlu dituntun. Aku sudah hapal letak pintu dan perabot di rumah ini. Sama seperti aku menghapal diriku sendiri. Lalu tercium olehku, bau busuk seperti sampah yang terbakar. Kuikuti bau itu sebagai penglihatanku. Pasti gelandangan itu ada di ruang tamu ini.

“Assalamualaikum. Namanya siapa, Pak?” tanyaku.

Tapi hening. Gelandangan itu tidak menjawab. Aku bertanya lagi. Tapi tetap saja, gelandangan itu tidak menjawab.

Aku menghela napas dan merasa maklum. Lalu duduk di sebuah kursi rotan. “Seminggu lagi sudah Ramadhan, Pak. Bapak di sini saja. Banyak orang baik di sini. Ndak usah ke mana-mana lagi, ya,” ujarku pada gelandangan itu.

Sesungguhnya, aku berusaha memaknai kalimatku tadi untukku sendiri. Ibu … banyak orang baik di sini. Tapi aku ingin Ibu hidup dan menemaniku. Tidak ada nikmat Tuhan yang kudustakan, Bu. Namun jika boleh memilih, aku berharap Tuhan mau mengirim Ibu lagi untukku.

Perlahan air mataku jatuh. Kuikuti lantunan surat Ar Rahman yang masih terdengar dari pengeras suara masjid. Merdu. Tapi tidak ada yang mengalahkan ke kesyahduan suara dan degup jantung ibu.

Yas-aluhu man fi alssamawati waal ardi kulla yawmin huwa fi sha’nin

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththiban[2]

Tiba-tiba ada yang melolong dan meronta. Aku terkesiap. Ada suara benda-benda berjatuhan. Sepertinya, gelandangan itu mengamuk dan membabi-buta. Ia berteriak-teriak. Suaranya parau. Ia memanggil-manggil sebuah nama.

“Faiza … Faiza ….”

Mendadak, kepalaku sakit. Ingatan-ingatan itu datang lagi.

“Buang anak itu! Sejak dia lahir, kamu ndak bisa bantu aku jualan lagi. Kamu lebih banyak menghabiskan waktu buat dia!”

Aku meringkuk di atas ranjang. Diam tak bergerak. Terdengar olehku, suara Ibu yang sempat-sempatnya mengaji.

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththiban.

Kemudian aku mendengar tangis Ibu semakin keras. Ibu merengek dan memohon. “Dia anakmu juga, Pak. Dia anakmu ….”

“Aku ndak pernah minta anak yang cacat macam dia. Dan itu salahmu. Kalo kamu lebih hati-hati, anak itu ndak akan lahir prematur. Ndak buta seperti itu!”

Suara gedebak-gedebuk itu terdengar lagi. Teriakan Ibu semakin menjadi.

Lalu aku mendengar suara derap kaki. Ibu berlari. Ibu merengkuhku ke dalam peluknya. Kunikmati lagi degup jantungnya. Degup jantung yang menghidupkanku. Degup jantung yang mengasihiku.

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththiban.

Hingga akhirnya aku mendengar sebuah hantaman keras. Lalu degup jantung Ibu berhenti. Tidak ada lagi.

Bu Narti mendekap tubuhku yang bergetar hebat. Bau busuk itu semakin pekat. Gelandangan itu mendekat.

Tiba-tiba ada tubuh bergetar yang mendekapku. “Faiza ….”

Aku kenal suara itu.

Suara parau Bapak, yang membunuh Ibu dan membuang aku.

***

Malang, 4th July 2013


[1] Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan? (Ar Rahman 17-18)

[2] Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan? (Ar Rahman 29-30)

  • Cerita pendek ini juga dimuat dalam buku kelima Kejutan Sebelum Ramadan oleh NulisBuku.
    • jampang
    • September 11th, 2013

    keren.

    keduanya dipetermukan menjelang ramadhan. semoga kebaikan untuk keduanya

    • naztaaa
    • September 11th, 2013

    Wuih.. Keren! Kenapa ndak masuk di buku terbaik ya.. ._.

    • Karena cerpen lainnya lebih kueeereeeennn! Apalagi punya Kak Ana :”) Punyaku ini semacam butiran debu ._.
      Makasi, ya Kak ^^

  1. aku sedih😦

    • Mel
    • September 11th, 2013

    Iya, kenapa nggak masuk yg terbaik ya. Ini bagus banget. Btw, namanya kayak nama anakku: Faiza.

    • Kalah keren sama yang masuk di terbaik, Mbaaak…
      Salam buat Faiza, ya :”)

  2. Nice story :’)

  3. Saya sangat suka isi surah Ar-Rahman ini, seperti sajak, sangat indah isinya, pengambaran segala nikmat di dalam surah ini sangat detail.🙂 *lospokusberat*
    Nice story bu dok😉

  4. Ah Faiza yang malang, kuatkah kamu memaafkan orang yang telah membunuh ibumu? Saya suka ceritanya, salam kenal dari akang🙂

  5. Huhu.. Kalo maen kesini, mata gue memerah, ubun2 gue mendidih, tanduk gue mencuat, kuping gue melancip! Huh, kapan gue bisa bikin cerita sekeren ini?

    GROMPYAAAANGG!

    *ngamuk

    • Hwaaa… ada siluman serigalaaa
      Eh serigala ndak punya tanduk ya T.T
      Hehehe
      Makasi banyak kak eksak :”)

  6. judulnya menarik. bisa menjadi inspirasi

    • Saya pikir malah aneh karena mirip sama lambang palang merah x_x
      Makasih, ya sudah mampir ^^

    • ciz
    • September 16th, 2013

    jadi inget my mom😥 gak ada kebaikan di dunia ini yg bisa mengalahkan kebaikan seorg ibu kepada anaknya

    • Siscaaa… aku jadi kangen sayur asem plus ikan asin buatan ibumu :”(
      Iya, kasih ibu itu ndak ada yg ngalahin :”)

  7. ah…ceritanya Noi emang keren selalu yak *envy*.

    Dan aku jg suka bgt surat ar-Rahman, maknaya begitu ‘menampar-nampar’ kita sebagai manusia <~ statement macam apa ini?

    • Iya, Mbak. Ar Rahman ini manjur dibaca ketika mulai banyak mengeluh.

      Makasih sudah baca, ya, Mbak Orin… Aku malah ngiri mbak Orin bisa bikin cerita yang kompleks. Ndak menye-menye kaya gini .__.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: