My Favorite Entrée

Mata adalah cermin. Sedangkan pikiran adalah sebuah prisma yang mendispersikan segalanya. Bisa jadi, karena dispersi yang terlalu luas dan hebat, otak kita mencerna sebuah obyek menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Seperti sore ini.

Aku duduk bersila di kursi tengah sambil membentangkan koran pagi tadi. Membolak-balik halamannya. Hanya membaca judulnya saja. Aku tidak bisa fokus membaca tentang reaksi Sergio Ramos atas kepindahan Ozil ke Arsenal. Karena pikiranku terganggu oleh bunyi klontangan dari balik bentangan koran.

Aku memutuskan untuk melipat koran dan menikmati pemandangan di depanku. Seorang perempuan yang rambut ekor kudanya bergerak-gerak seirama dengan desis minyak panas di atas wajan. Seorang perempuan yang peluhnya membanjir dari dahi hingga lehernya. Seorang perempuan yang sedang sibuk memasak.

Siapapun pasti setuju. Perempuan yang sedang memasak itu seksi. Lihat saja. Kepalanya menunduk. Matanya fokus menuju sesuatu yang ada di genggamannya. Ah. Sebuah terung. Ia memotong-motong terung berwarna ungu lalu memasukkannya ke dalam wajan yang semerbak wanginya. Lengannya bergoyang-goyang ketika mengaduk-aduk masakan. Lalu mencicipi masakan yang ia buat. Dan jantungku berdesir kala bibir merahnya mengecup ibu jari berlumur bumbu.

Seperti yang kubilang. Mata adalah cermin. Tapi saat ini, pikiranku merefleksikan hal yang luar biasa dahsyat. Rangkaian malam-malam percintaan yang tak terkendali liarnya. Dan otakku mulai merepet tak keruan, “Bagaimana jika baringkan saja perempuanmu di atas counter?”

Ide bagus!

Aku bisa saja bangkit sekarang juga. Mematikan kompor dan mendorong tubuhnya hingga terjebak di antara tubuhku dan counter dapur. Lalu mengantikan ibu jarinya dengan bibirku. Aku tidak pernah tahu bagaimana french kiss itu. Tapi aku bisa membuat sebuah ciuman lebih hebat dari itu. Bisa kubayangkan napasnya yang memburu. Dada yang naik turun. Serta lenguhan teratur yang terdengar tidak ingin terburu-buru.

Aku bersandar ke kursi dan bersedekap untuk sekadar menahan diri. Meski nyatanya sulit jika berhadapan dengan perempuanku serta pikiran yang mulai hilang kendali. Otakku memutar adegan-adegan yang pernah kami lalui. Ciuman yang meliar di sana-sini. Gerakan tubuhnya yang menggeliat penuh gairah ketika kucumbui. Serta pekiknya yang tak mampu ditahan lagi saat tubuhku mulai menginterupsi.

Sial.

Bahkan aku bisa membayangkan tubuhnya mengejang ketika kami bertukar cairan. Meronta-ronta dengan kepala menengadah serta bibir yang terbuka. Serta jari-jarinya yang mencengkeram kulit punggungku hingga berdarah.

Tiba-tiba terdengar suara pintu depan yang terbuka. Lamunanku buyar. Segera kuteguk segelas air putih . Mengguyur semua bayangan tentang perempuanku. Membentangkan lagi koran yang tadi kuabaikan. Dalam hati aku lega telah membiarkan bayanganku tetap pada tempatnya. Karena buru-buru berpakaian ketika masih diserbu nafsu sama sekali tidak menyenangkan.

“Gimana kuliah, Gas?” tanya laki-laki itu sambil menepuk bahuku.

Aku menoleh dan tersenyum pada Adi yang nampak sangat lelah setelah bekerja seharian, “Enggak gimana-gimana, Mas. As good as usual.”

Adi melepas dasi dan berjalan ke arah dapur. Memeluk perempuanku dari belakang. Lalu mengecup lehernya yang sedari tadi ingin kulumati.

“Makan malam di sini, tho, Gas? Mbak iparmu sudah masak balado terung. Kamu kan doyan banget,” ujar Adi.

Aku tersenyum. Berusaha menenangkan diri dari pikiran yang tidak tahu diri. “Iya, Mas. Sekalian aku mau nginep lagi. Numpang koneksi internet buat nyelesein skripsi.”

Adi mengacungkan jempol tangannya sebagai tanda setuju. Mengambil sebuah tahu goreng dan melahapnya sambil berlalu. Meninggalkan aku dan kakak iparku yang berpandangan dengan senyum yang beradu.

Perempuanku mengerlingkan mata sambil bertanya, “Tonight?”

Ah. She always knows my favorite entrée.

***

Malang, 4 September 2013

  • FF ini diikutsertakan untuk giveaway #CiumanUntukEros. Kalo mau ikutan, cek link ini yah ^^
  1. duh…duh…emang bener ga boleh serumah sama saudara ipar begitu ya *nyengir*

    • Tergantung orangnya sih, Mbak ._.
      *sendirinya masih sering ngungsi*

    • eda
    • September 4th, 2013

    penggambarannya oke punya😀
    keren ah critanya.. sukses GAnya

    • jampang
    • September 4th, 2013

    waduh… waduh….. jadi ngebayangin yang nggak2 nih.

    *dalam sebuah hadits, ipar itu diibaratkan dengan sifat syetan atau syetan sendiri jika tinggal serumah, karena berbahaya.*

    • Hehehe ^^

        • jampang
        • September 4th, 2013

        so…. to night?

        *clink! -ngeidipin mata*
        😀

      • *tendang*

        • jampang
        • September 4th, 2013

        aaaaakhhhh!

  2. wah~
    ada main

  3. Ih, ceweknya gatel juga ternyata.😐

  4. Aduhhh x_x baiknya klo rumah tangga tinggal sendiri ..
    Bagus ceritanya mbak😉
    Sukses GA-nya
    *bawa pompom* hehehe

  5. AAahh,, saya orgasme bacanya😆

  6. serem😐

    • Mel
    • September 5th, 2013

    hmmm… ini emang bikin deg2an.

  7. beuh,,, dia mesti senam jakun pas baca koran, haha

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: