Kartini

Namanya Kartini. Tapi ia benci namanya sendiri. Kartini bukan anak priyayi. Ataupun bangsawan dengan kasta tinggi. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Sedangkan bapaknya hanya seorang kuli.

Namanya Kartini. Tapi ia benci namanya sendiri. Kartini tidak pandai membaca. Ia tidak pernah duduk di bangku sekolah karena tidak ada biaya. Ia diberi nama Kartini sebagai singkatan dari Karyo dan Ngatini. Tidak ada arti khusus. Tidak ada harapan istimewa. Kartini hanyalah sebuah nama sederhana yang berarti buah hati bapak dan ibunya.

Namanya Kartini. Tapi ia benci namanya sendiri. Karena suatu hari di tanggal 21 April, Kartini tahu bahwa namanya sama dengan seorang pahlawan wanita. Pejuang emansipasi, katanya. Serta merta Kartini marah pada orang tuanya. Mengapa begitu gegabah memberi nama Kartini pada dirinya. Sekali dengar, semua orang berharap banyak padanya. Tapi nyatanya, Kartini hanyalah perempuan buta huruf yang bahkan tidak tahu apa arti emansipasi wanita.

Namun bagaimanapun, di dalam nama pasti ada sejumput doa. Berkat kekesalannya pada sebuah nama – namanya sendiri – Kartini mulai belajar menulis dan membaca. Ia tahu Kartini asli lahir di Jepara. Ia paham arti kalimat ‘Habis gelap terbitlah terang’. Dan kini ia sudah tahu apa itu emansipasi wanita.

Kartini mulai bangga pada dirinya sendiri. Mungkin ia tidak bisa mengubah dunia atau jutaan perempuan di Indonesia. Tapi setidaknya, ia bisa mengubah dirinya.

Dan akhirnya Kartini menyadari sesuatu. Kesamaan antara dirinya dengan Kartini asli dari Jepara.

Ah. Rupanya kami tidak jauh berbeda, pikirnya.

Di dalam hati, Kartini merasa ada takdir yang dihubungkan oleh benang merah pada perempuan bernama Kartini. Sama-sama ingin mengubah diri sendiri. Sama-sama dipersunting seorang pria bernama Singgih. Sama-sama menikah dengan laki-laki yang sebelumnya sudah memiliki tiga istri.

***

Malang, 28 August 2013

· Ngetwist ndak ya… T~T

  1. Ceritanya keren. Entah kenapa aku jadi sebel sama si Kartini ini, kayaknya pemikirannya dangkal banget…

    • jampang
    • August 29th, 2013

    menurut saya ada. tuh di akhir jadi istri keempat😀

    • jampang
    • August 29th, 2013

    eh iyah…. belum saling follow yah *follow*

  2. Keren Mba…Kartini modern tapi kurang edukasi..disentuh dengan karakter siti nurbaya😀

  3. Entah kenapa ga segreget cerita yang biasanya. mungkin karena lebih banyak pakai teknik tell kali, ya?

    • Biasanya bikin gregetan tho? Hehehe
      Mungkin gitu. Dan di sini ndak ada percakapannya. Jadi semacam datar hehehe

      • biasanya bikin gregetan banget. hm, mungkin juga karena ga ada dialognya. selain itu, diksi di cerita ini diksi yang biasa aja, sih. ga ketemu yang mbikin mabuknya. hihi

      • Eaaaa… Karena konfliknya juga biasa aja jadi pake diksinha standar nih, Pak Guru *ngeles*
        Padahal aku ndak pernah ngerti diksi yg bagus itu yg gimana T.T

      • diksi mbak nina yang keren itu ya waktu menggombal2, selain itu waktu menukar kata yang umum dengan kata khusus yang biasa digunakan dalam istilah kedokteran🙂

      • Berarti harus nggombal dong yah *ahem*
        Tengkyu kritikannya, Pak Guru :”)

    • iya.. setuju sama mas sulung, kok nggak seperti biasa mbak nina?

  4. kurang ngetwis yaaa

    kok mau sih jd istri keempat?
    dangkal bener pikirannya

    • Hehehe iya ndak ngetwist. Karena tokoh Kartininya ndak pernah sekolah, nih. Jadinya dangkal *ngeles*

  5. Mbak nina,, kemanakah dirimu yang selalu membuatku mabuk kepayang??
    Ayo bikin lagi mbak :p

    • Eaaaa… ndak mabuk ya baca ini? x(
      Kapan2 deh bikin lagi. Sementara bantai yg ini dulu ahahaa xD

  6. tapi aku tetap suka cerita sederhana ini Noi😉

  7. menurut saya kalo ga terbatas 300 kata bisa lebih dijabarkan dan saya justru seneng pake teknik telling begini, kalo lebih dari 300 kata ntar bisa lebih maknyus *menurut sayaaaa*

    iya diksinya memang sederhana tapi justru pas dengan tokoh si kartini modern. kalo menceritakan seseorang yang biasa saja dengan kata2 yang ga biasa, seperti jomplang. walaupun kata2 ga biasa itu bukan gambaran pikiran si tokoh karena di sini ditulisnya bukan orang pertama.

    • Wah… saya ndak mikir sampe ke situ loh, Mbak. Tapi memang ketika ngetik, mikirnya Kartini ini benar2 ndak tau apa-apa.

      Makasi ya, Mbak ^^

  8. terlalu banyak kebetulan yang disematkan, Nina…🙂

    • Hehehe temanya maksa2in biar jadi FF ini, Bang :p *ngeles*

      • hehehe…
        *menunggu karya Nina berikutnya yang nggak dipaksa-paksain.😉

      • *fingers crossed*

  9. Tapi, biarpun katanya biasa aja, ga seperti Noi biasanya, atau terlalu banyak kebetulan, tetep aja temanya tentang “Nama”…

    dan kupikir Noi berhasil lho di sini😉

    • Wah makasih, Mbak Carra… Diriku baca tweet Mbak Carra, yang intinya jika judul diganti apakah mengubah isi fiksi. Maunya ya ke arah situ, sih ._.

  10. Ceritanya sederhana tapi manis🙂 *eh perasaan udah komen disini ya, kok nggak ada ..

    • Makasih, Mbak ^^
      Sudah komen kah? Apa masuk spam ya… nanti saya cek lagi, Mbak :’)
      Maaf T.T

  11. Cerita miris, mengubah hidup dengan semangat Kartini malah terpasung takdirnya juga😦

    • Iya, Mbak. Mengartikannya separuh aja T.T
      Makasi sudah mampir yah…

  12. wew, istri ke 4 ,, cie buat kartini

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: