Pria yang Belajar Mencintai

“Kobokannya mana?”

Maryam terkesiap. Tubuhnya gemetar. Bibirnya kering dan pucat. Ia melirik sajian di atas meja. Daun singkong rebus, tempe goreng, ikan asin, segelas air, serta sambal.

Maryam panik. Jemarinya beradu begitu erat hingga telapak tangannya terasa sakit. Ternyata menyiapkan sarapan sejak shubuh masih belum sempurna.

“Apa aku harus cuci tangan pake rambutmu?”

Maryam menunduk hingga dagunya hampir menyentuh dada. “Ma … Maaf, Mas. Sebentar aku ambilkan,” lirihnya. Suaranya tercekat. Perlahan, Maryam beringsut mundur dan bermaksud mengambil mangkuk berisi air di dapur.

Tapi begitu terdengar suara gesekan sandal tipis yang beradu dengan lantai plester sederhana, sebuah tangan kekar mencengkeram lengan Maryam. “Sini! Perempuan sialan!”

Paimo bangkit dari duduknya. Menyeret istrinya ke sudut ruangan. Lalu menghempaskan tubuh Maryam ke lantai.

“Nyiapin sarapan aja ndak becus! Anjing!”

Paimo meraih piring berisi daun singkong rebus dari atas meja. Melemparnya ke tubuh Maryam yang meringkuk ketakutan. Piring itu tepat mengenai lengan Maryam. Isinya berhamburan. Piring itu terpental ke lantai. Pecah. Seperti pekik Maryam yang memohon-mohon untuk dimaafkan.

“Maaf … Aku salah, Mas. Maaf ….”

Paimo berkacak pinggang. Mendengus pelan. Baginya, laki-laki harus bisa mengajari perempuan untuk bisa sempurna. Bahkan dalam menyiapkan sarapan.

“Sarapan itu penting, Mar. Kalo sarapanku ndak bener kaya’ tadi, gimana aku bisa kerja? Otakmu dipake! Jangan cuma bisa minta uang belanja aja!”

Paimo meludah. Mukus dari mulutnya jatuh dan mengenai kaki Maryam. Perempuan itu terkejut dan berusaha menarik kakinya. Tapi Paimo lebih cepat. Diinjaknya kaki kurus itu. Lalu ditekan ke lantai. Berkali-kali. Pecahan kaca piring yang menempel di alas sandal Paimo melukai kulit Maryam.

Maryam meronta. Tangisnya pecah. Air matanya berderai akibat sakit di kaki dan hatinya. “Ampuuun, Maaas ….”

Mendengar istrinya menangis, Paimo muntab. Ia menginjak-injak kaki istrinya semakin keras. “Bisamu cuma nangis! Dikutuk apa aku ini dapat istri yang lembek macam kamu? Tuh! Putri lihat ibunya nangis kaya’ gini. Kamu yang kasih contoh ke dia jadi anak cengeng!”

Maryam ingin menahan tangisnya. Tapi rasa sakit dan terhina ini tak bisa dipendam lagi. Samar-samar, ia bisa melihat Putri yang masih balita mengintip dan ketakutan dari balik tirai kamar. Hati Maryam semakin tercabik-cabik. Harga dirinya mati. Berkali-kali.

“Jangan nangis lagi! Diem ndak? Anjing! Apa perlu aku injak perutmu sampai taimu keluar?”

Maryam meringkuk dan terguguk. Ia menggigit dasternya yang lusuh, berusaha meredam isaknya yang menjadi. Luka di hatinya semakin menganga. Ia meragu, sampai kapan dirinya akan bertahan.

Paimo menghentikan aksi kakinya. Ia meneguk air putih di gelas belimbing. Lalu memandang istrinya dengan nanar. “Aku keras gini karena aku sayang kamu, Mar. Aku ndak mau kamu diremehkan Putri dan adiknya yang sedang kamu kandung.”

Paimo berjongkok di depan Maryam. Membelai rambut istrinya dengan lembut. “Sudah … jangan nangis. Yang penting kamu tahu salahmu. Jangan diulangi lagi. Ya?”

Paimo tersenyum. Tulus. Sangat tulus hingga mata Maryam menangkap kelembutan Paimo yang dicintainya dulu.

Dan Paimo lega. Ia merasa telah berhasil mencintai. Mungkin orang lain hanya bisa melihat, Paimo adalah lelaki kasar dan tidak tahu diri. Tapi sesungguhnya Paimo hanya belajar bagaimana caranya mencintai. Ia hanya meniru cara Bapak mencintai Ibu sejak ia masih kecil.

***

500 kata

Malang, 16 Juli 2013
• Tantangan prompt #21 dari Mbak Mel ~ Lagu Cinta Matiku oleh Mantra.

  1. Melas istrinya😦

  2. jahat amat sih, Chil T~T

    • Ada kok yang kaya gini. Kalimat2 itu ada yang pernah kudengar langsung :”(

  3. samar2 aku inget zaman dulu ada sinetron yg kek si Paimo ini Noi *haiyah sinetron qiqiqiqi*.

    Kalo aku jd si maryam mah udh kabur dari kapan taun deh *sigh*

    • Sinetron forever xD

      Iya, Mbak. Mending lari sambil bawa anaknya T.T

  4. Sadis banget si Paimo ituh *kok saya yg sewot*😀

  5. duh,,,,,😦
    oya, kelebihan 4 kata tuh, Nina. Jangan sampe cerita bagus jadi kena diskualifikasi.🙂

    • Katanya boleh kurleb maks 4 kata, sih, Bang…
      Etapi nanti dipas-in lagi, deh hehehe
      Makasih ya ^^

    • Akhirnya bisa pas, Bang! Ehehehe
      Makasih ya :”)

    • junioranger
    • July 16th, 2013

    Gila. trauma masa lalu? contoh yg salah

  6. kenapa maryam ngalah aja ya? sedih

    • Ehm… mungkin level penerimaan sakitnya lebih tinggi dari orang lain.
      Terima kasih sudah mampir ^^

  7. Baca ini aku langsung Jleb!
    Ini lebih sadis dan nyata dan sangat termungkinkan terjadi di kehidupan kita dibandingkan film RD (hahaha).

    Suka banget penggambarannya dan langsung kebayang situasinya. Apalagi cerita ini tanpa ending yang memenangkan Maryam, aku jadi merasa malang bener nasibnya. Noi menghentikan cerita begitu saja tanpa solusi. Asem. Maryam pasti sengsara habis sampai matinya pun kita nggak ketahui.

    Kalau saja keharusan 500 kata nggak ada, paragraf terakhir dihilaangkan, bakal kerasa deh gelapnya. Duh panjang komentarnya.

    • Wah makasih banyak, Mbak Mel
      Paragraf terakhir itu sebenarnya ego saya ingin menunjukkan bahwa apapun yang dilakukan orang tua akan ditiru oleh anaknya. Tapi kata2nya semacam kurang kuat, nih… hehehe

      Tengkyu, Mbak. Menangiiin *eaaaak* *fakir gratisan* :p

      • Kamu sudah menang kok Noi.. Kamu memenangkan hatiku.. Aku padamu..

        *halaagh😀

      • Hwaaa… makasih, Mbak Rini. Hatinya kubawa pulang yaaaa #MalahSerem :p

  8. mencintai harus begitu ya?

    • Karena sejak kecil Paimo melihat begitulah cara bapaknya mencintai ibunya. Metode koping yg salah T.T

      • 😦
        tapi kan dia juga mengajarkan Putri mencintai dengan cara yang seperti itu juga.

      • Dia mengajarkan Putri seperti inilah caranya dicintai.
        That’s why… ini semacam lingkaran setan.

  9. hhuhuhuhuhuhu ternyata kekejaman juga menurun T_T

    • Iya, Mbak. Dan hal semacam ini banyak saya temukan ketika saya tugas di Alor – NTT. Banyak banget :”(

  10. mak jleb mbak. mak jleb

  11. sadis ya😦 itu udah gangguan kejiwaan kali..

    • Mekanisme pembelaan ego yang salah. Gagal melewati fase-fase stress T.T

  12. Waduhh KDRT emang mengerikann…
    Puk-puk maryamm

    • Banget, Mbak. Perempuan2 korban KDRT akan merasa bahwa dirinya tidak cukup baik untuk dicintai secara layak. Kasian :”(

  13. Huaaaaaa jadi ikut hanyut dalam ceritanya.. *amit2 daaaah*..
    Mbak, mukus itu apa gag di huruf miring-kan?

  14. mencintai dengan cara yg salah😥

  15. duh, ini cinta yang kaya apa namanya ya?

  16. aduh mbak, setengah mati saya bacanya. ikutan ndredeg.
    Akkk.. digantung lagi endingnya… gelap banget ya punya suami kayak gitu. amit amit jabang bayi >.<

    • jampang
    • July 18th, 2013

    sepertinya bisa dipastikan bahwa apa yang dilihat anak-anak dari orang tuanya akan ditirunya….. cepat atau lambat

    • Benar. Cepat atau lambat. Sedikit atau banyak.
      Tengkyu sudah mampir, Kak :”)

        • jampang
        • July 19th, 2013

        sama-sama🙂

  17. Walah .. malangnya si istri *kenapa nggak minta cerai ajaaa .
    Anak belajar dari orang tuanya, jd ortu mesti hati2 bertindak supaya contoh yg baiklah yg ditiru..

    • Banyak pemikiran perempuan2 tertindas yg mencengangkan kita. We judge tapi ndak menyelesaikan masalah dan ketakutan terbesar mereka. Karena rata2, mereka ndak takut dipukul. Mereka lebih takut kesepian. *jadi panjang*

      Makasih sudah mampir, Mbak ^^

  18. jadi keingetan sepupuku. dia (mereka tepatnya) bukan tinggal di daerah, tapi di jakarta. dan, suaminya begitu. waktu hamil pertama, istrinya keguguran. beberapa bulan kemudian baru ketahuan bahwa kegugurannya gara2 ditendang suaminya.😦
    sekarang udah hamil lagi dan udah lahir. tapi, tetep aja, sepupuku yang selalu disakitin dan suka ngancam pake golok beneran (aku ngeri aja dia salah lempar, kena anakya yg masih bayi) :(((((((

    keluarga besarku udh nyuruh ceraiin, sepupukunya yg ga mau. entah karena masih cinta atau apa. alasannya simpel: ga mau anaknya ga punya ayah. ayah macam apa yg selalu menyiksa istrinya seperti itu???? *pengen nabok+gamparin deh rasanya*

    • Duh, Mbak… sedih setiap ada cerita KDRT gitu… :”(
      Tapi ya itu, ketakutan korban KDRT kadang menurut kita ndak rasional. Lebih takut ditinggalkan daripada takut tersiksa :”(((

  19. kabur aja deh… sebel ikutan aku jadinya….

    • Makasih sudah nyempetin komen sebelum kabur ya, Mbak #eaaaa hehehe :p

  20. bagus kok mbak penggambaran *kejamnya. Nice menurutku

    • Makasih, Mbak Sri…
      Cuma ndak ngerti nih bakal nyambung ndak sama lagunya hehehehe X_x

  21. Pesannya dapet banget ^^b

  22. Sadis dan memilukan..tapi faktanya di era modern ini masih ada loh suami dan istri seperti ini…

  23. Aku muless..😦

    *laporin suami Maryam ke Komisi Perlindungan Ibu dan Anak

    • Laporin, yuuuk. Sekalian dilempar ke Tempat Pembuangan Akhir T.T

  24. mules bacanya…
    nyesek

    • Pas bikin juga nyesek, Mbak T.T
      Makasih sudah mampir ya…

  25. haha oke deh. kirain maryam mau bangkit dan bunuh paimo. ternyata pasrah aja. tapi masih kurang kuat penggambaran ‘cinta’ paimo. terlalu panjang di memukul dan memaki. mungkin kalau porsinya digeser sedikit…

  26. Alunan ceritanya mantabb nih. Saya suka. Cuma agak setuju ama mbak Latree endingnya kurang jleb.

    • Wah… Makasih sudah mampir, Mas😀
      Iya, endingnya kurang ‘ngerem’, nih. Malah kaya tempelan ya T.T

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: