[BeraniCerita #19] Terus atau Berhenti

image

Dari BeraniCerita.com

Semesta sudah berbisik pada hatimu untuk berhenti. Tapi kamu justru memilih untuk berlari.

***

Warna merah pada lampu zebra cross masih menyala. Di trotoar, para pejalan kaki berjejer dan menunggu. Beberapa orang mengamati lampu seolah melamatkan mantera agar warnanya segera berubah menjadi hijau. Sedangkan yang lain lebih memilih menikmati lalu lalang kendaraan untuk mengusir rasa bosan. Mungkin sekadar memerhatikan merk mobil-mobil mewah yang belum mampu mereka punya, atau teringat kekasih lama yang mengendarai kendaraan yang sama.

Aku di sini. Di salah satu ujung zebra cross. Berdiri dan menahan napas ketika melihat punggungnya beranjak pergi. Di antara kendaraan yang berlalu lalang dan jajaran orang di seberang jalan, aku melihatnya melangkah dan menjauh. Mungkin, tidak akan kembali.

Sial. Lampu merah zebra cross ini tidak juga berganti.

Hijau. Segeralah engkau menjadi hijau.

Tapi manteraku sia-sia.

Semesta menyuruhku untuk berhenti. Tapi jika aku berhenti, maka cintanya takkan pernah kumiliki.

Akhirnya aku berlari. Kuterobos lampu merah zebra cross tanpa menoleh ke belakang lagi. Sebuah mobil van terlambat berhenti. Tubuhku terpental. Dan mati.

***

Ah tidak … tidak … tidak. Itu bayangan burukku saja. Selalu ada jalan keluar. Selalu ada pilihan selain terus atau berhenti.

Aku masih berdiri di sini. Di ujung zebra cross sambil melirik lampunya yang berpendar. Masih merah. Kendaraan masih berlalu lalang di jalan raya yang membentang di hadapan. Di seberang sana, orang-orang masih berjajar dan menunggu.

Dan oh… itu dia. Di trotoar di seberang jalan raya. Aku masih bisa melihat punggungnya beranjak. Berlalu dan pergi.

Bagaimana ini? Aku tidak pernah mengira, menyeberang jalan akan menjadi serumit ini. Terus atau berhenti? Menyerah atau mati?

Aku mencari-cari celah waktu yang tepat. Pasti akan ada saat di mana jarak antara kendaraan itu meregang dan aku bisa menyeberang sesegera mungkin.

Dua mobil baru saja lewat. Lalu tiga motor. Di belakangnya, ada satu mobil lagi yang sama sekali tidak memberi jarak.

Argh! Kenapa, sih, lampu zebra cross tidak ada yang berwarna kuning? Apakah pilihannya benar-benar hanya terus dan berhenti? Lalu kapan aku harus berhati-hati?

Ragu-ragu. Aku takut melangkahkan kakiku. Bayangan tubuhku sendiri yang terpental dan berdarah-darah sama sekali bukan skenario yang menyenangkan.

Tapi terlambat sepersekian detik saja, aku kehilangan cintanya. Lihat. Punggungnya hampir menghilang. Danang segera menghilang.

Tidak ada waktu lagi. Mungkin, semesta menyuruhku untuk berhenti. Tapi jika aku tetap di sini, maka cinta Danang takkan pernah kumiliki.

Akhirnya aku berlari. Kuterobos lampu merah zebra cross tanpa menoleh ke belakang lagi. Sebuah mobil van terlambat berhenti. Tubuhku terpental. Dan mati.

***

Aku membuka mata. Rasa pusing meraja di kepala. Dahi dan tubuhku basah oleh keringat. Dadaku disesaki rasa takut yang menyeruak.

Oh. Hanya mimpi.

Aku bangun dan menghela napas. Lalu meraih ponsel yang layarnya berkelap-kelip.

Sebuah pesan. Danang.

Hidup dan berbahagialah, meski bukan dengan aku. Karena aku tidak bisa berpisah dari istriku. Maaf.

Aku menelan ludah. Menggigit bibirku sendiri dan menangis.

Terus atau berhenti. Semesta telah menunjukkan tandanya. Maka aku tidak bisa ke mana-mana lagi.

Kulirik sebuah strip yang kukencingi tadi pagi. Dua garis merah.

Merah.

Nak, apakah hidupmu harus kuakhiri juga?

***

Malang, 5th July 2013
Please kindly vote this FF in here

image

FlashFiction ini juga diikutsertakan dalam #ProyekCinta oleh @bintangberkisah ^^

  1. Ini settingnya di Jepang? Kok pas lampu merah, kendaraannya malah jalan? Atau aku yang salah tangkep ya? Hmm… Yang bagian pertama itu nyata, yang kedua mimpi, dan yang ketiga nyata? Gitu bukan sih?

    • Sebenernya maksud lampu rambunya itu rambu bagi pejalan kaki yg biasa ada di ujung2 zebra cross, Kak. Maaf jika bingung.
      Masalah mana yang mimpi dan mana yg nyata, terserah pembaca aja hehehe
      makasih banyak ya :’)

  2. tombol like-nya mana sih? mau mencet tiga kali nihhh…

    • Saya ndak ngerti cara munculin tombol like-nya, Kak T~T
      *gaptek level advance*

    • junioranger
    • July 6th, 2013

    MIMPI diatas mimpi…apik😉

  3. wah… mimpi ya..
    dua garis merah terakhir artinya hamil ya?

    • Kira-kira begitu, Kak :’)
      Terima kasih sudah mampir, yaaa ^^

  4. weeh…jangan nrobos lagi, sebelumnya jg udh cross the line…seru euy…bagus

  5. mbak,,. errr. kemudian berkabut matanya

  6. Huah dok noichil.. sepichles sayah dengan diksinya. nggak pernah bisa bikin yang beginian bahasanya

  7. Me likeeyyy..

    • Hehehe tengkyu, Mbak…
      Kalo lampunya merah, jangan ragu untuk berhenti :”)

    • irfanaulia
    • July 10th, 2013

    Yang begini ngaku gak pake twist??? Sial, keren!

    • Tumben2an nih dakuh bisa bikin twist. Biasanya terkesan maksa T.T
      Makasih, Kak Irfan :”)

  8. sukaaa…
    pertama bayangan, kedua mimpi, ketiga kenyataan.. hiks.. apa kabarnya si anak?

    • Anaknya belum tau akan diapakan, Kak :”(
      Terima kasih sudah mampir ke sini ^^

  9. Waah… ada hubungan terlarang🙂

  10. Keren.. ide cerita, alur, dan diksi kereennn..

    Mbak, aku punya bukumu lho ^^

    • Wah, makasih, Mbak Ayu… Sebenernya aku malu banget, cerpen itu semacam cupi T.T
      Tapi mudah2an cerita yg lain ndak semengecewakan cerpen saya hehehe
      Terima kasih banyak, ya… ^^

  11. Wew! Keren! Inception. *kagum*

  12. oalaa, hamil, ahh keren nihh.. dihamil ehh, dimimpi lagi bayangin, umm..

    • Hehehe mimpi buruk yang kenyataannya justru lebih buruk T.T
      Makasih sudah mampir yah :”)

  13. Aku sukaaaa….!😀

  14. baca ini berasa lagi lari larian gitu,bagus :v

  15. Kereeenn banget.
    Nin saya likeeee banget😉

  16. mbak, itu anaknya mending titipin kayak mas Fandi aja
    tapi sisipin testpacknya di keranjang. #kabur

    • tika
    • July 20th, 2013

    Kaka engkau begitu.. mengagumkan!😀 sukses terus

    • Halo… terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Ini Tika yg mana btw? :”) #malu

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: