[BeraniCerita #17] Kertas Koran yang Berminyak

From: The Roots of Design

From: The Roots of Design

 

Roni menimang-nimang sebuah benda kecil berantai di tangannya. Ia tersenyum. Benda logam itu sudah bersih dan berkilat. Untung lumpurnya sudah kubersihkan dengan air di kamar mandi, pikirnya.

Roni membungkus kalung berwarna perak itu dengan kertas koran yang berminyak di ujung-ujungnya. Kemudian Roni berjalan dengan langkah diam-diam ke samping kelas 8-H.

Sesaat, Roni mengedarkan pandang. Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga.

“Kesempatan. Mumpung sepi.”

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi, lalu membuka sebuah jendela kelas 8-H yang sudah rusak.

Tidak ada siswa-siswi penghuni 8-H yang menyadari bahwa kepala Roni sedang bertandang dan menyembul dari balik jendela belakang. Mereka semua duduk dan menekuri kertas soal masing-masing. Sebagian besar memegang kening dengan tangan kiri dan memicingkan mata. Sedang tangan kanan mereka terus mencorat-coret kertas di hadapan mereka masing-masing.

Mata Roni mengerjap-ngerjap. Di depan kelas, Pak Hasyim sedang duduk dan menunduk. Roni tersenyum. Pantas saja kelas begitu sepi dan tenang. Tidak ada yang berani mencontek saat ulangan harian bersama Pak Hasyim.

Ketika guru matematika berkumis tebal itu mengangkat kepalanya, cepat-cepat Roni menunduk agar keberadaannya tidak diketahui. Dalam hati, ia menghitung mundur. Biasanya Pak Hasyim akan mengedarkan pandang selama dua puluh hitungan. Hitungan berakhir. Roni mengintip lagi. Tepat ketika Pak Hasyim kembali menunduk dan menggores-goreskan spidol berwarna merah pada tumpukan kertas di hadapannya.

Roni menghentikan pandangan matanya pada seorang anak perempuan yang duduk paling dekat dengan jendela belakang kelas 8-H. Rambutnya ikal dan diikat ekor kuda, bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Pita berwarna biru langit terselip di sela rambutnya.

Jantung Roni berdebar. Ia sudah sering mengintip Aira dari jendela ini. Tapi tetap saja jantungnya berdebar. Aira, janji, ya. Jangan menangis lagi, katanya dalam hati.

Tanpa suara, Roni melemparkan bungkusan koran berisi kalung ke pangkuan anak perempuan berambut ekor kuda tadi. Dan melesat pergi.

***

“Ketemu di mana, Ra?”

“Eng … Tadi pas ulangan matematika tiba-tiba ada yang melempar dari jendela. Tapi aku enggak berani liat siapa orangnya. Pak Hasyim kan galak.”

“Iya. Untung juga orang yang melempar itu enggak ketahuan sama Pak Hasyim.”

“Heeh.”

“Aku lega sekarang kamu enggak sedih kaya’ kemarin-kemarin. Kalung itu berharga banget, ya, Ra?”

“Iya. Ini hadiah dari almarhum Bapak. Meski bukan emas, tapi ini kenang-kenangan terakhir. Dan aku penasaran, siapa yang rela nyari kalung ini di danau sekolah yang kotor dan bau itu. Padahal hilangnya sudah hampir seminggu. Pasti nyarinya susah. Orang yang nemuin ini baik banget. Aku mau berterima kasih. Tapi siapa, ya ….”

Dari kejauhan, ada seorang anak berkulit gelap dan berambut sebahu, berdiri dan memandangi Aira. Celana kainnya yang selutut dan berwarna hijau gelap masih basah di beberapa bagian. Ada banyak bekas lumpur dan lumut danau di sana. Sedangkan tangannya sibuk memotong-motong kertas koran bekas yang digunakan sebagai alas gorengan yang dijual bapaknya.

Roni tersenyum. Pungguk itu bahagia melihat purnamanya telah menemukan senyumnya lagi. Aira tidak perlu tahu itu aku. Dan biarkan saja begitu.

***

Malang, 26th June 2013

image

  1. touch my heart! aakkkk…good job, Chil :* :* :*

    • Eh… udah komen ajeee…
      Tengkyu, Van. Tapi ini ndak ada twistnya yak T.T

  2. Manis banget sih ceritanya. :’)

  3. aaaahh..co cwiiiiiiit..me likeeeyyy^^

    • Hehehe makasih, Mbak Orin :’)
      Prompt kali ini bener2 bingung mau digimanain. Salut sama adminnyaaa *kasih jempol*

    • Finda
    • June 26th, 2013

    aaaaahhhh selalu deh manis banget ceritanya mba ninaa..
    keren mbaa :”)

    • Biar sesuai sama orangnya *dikeplak*
      Makasih, ya… *sodorin cokelat* :’)

  4. manis sekali🙂

    • makasih, Mbak Ayu. Sudah ndak sakit perut karena mencret lagi, kan? :p *dilelepin ke laut*

  5. Roni dan Aira yg ini manis banget. Anak2 yang baik. *keplak tendang Roni dan Airaku* =)))

    • Jangan dikeplaaak.. Kasian mereka masih anak-anak, Mbak Mel :’)
      Makasih sudah mampir yaaa :*

  6. akh manis bgt mbak

  7. hei… pengagum rahasia… *TOS

  8. duh….nyari kalung yg jatuh di danau ibarat mencari sepotong jerami coklat di gunungan jarum tuh….(yaelah riga, ribet amat perumpamaan lo! hehehe)

    • bukan fiksi namanya kalo endak lebay xD
      *mencari alasan* *kemudian ngExist*

  9. ah, so sweet jugak ini ff kamu!😀

  10. cerita yang manis sekali… suka sekali lho ^^

  11. gak ada twist tapi touch story,..kereen mbak

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: