Sebuah Cerita dari SD Teladan Bangsa

image

Sekolah geger.

Murid-murid berdesakan di depan ruang bimbingan dan konseling. Mereka menjulurkan kepala ke arah pintu dan jendela. Sedangkan murid yang lebih kecil terpaksa berjinjit-jinjit. Semuanya memendam pertanyaan yang sama. Ada apa?

“Jam istirahat sudah berakhir. Kembali ke kelas.”

Dengung murid-murid SD Teladan Bangsa meredup sesaat. Lalu mencari sumber suara yang sangat mereka kenal.

Pak Subagio. Kepala sekolah.

Dan murid-murid menangkap sosok Surti di balik punggung Pak Subagio. Siswi kelas empat itu berdiri dengan kepala tertunduk. Bahu kecilnya yang terguncang-guncang. Surti sedang menangis. Ikatan ekor kuda rambutnya terlepas dan acak-acakan. Seragamnya pun tak kalah menyedihkan. Penuh dengan noda tanah dan tercabik di beberapa bagian.

“Kembali ke kelas kalian masing-masing! Sekarang!”

Murid-murid itu berbalik dan berlalu. Sepatu mereka membuat suara yang berdecit ketika bergegas menuju kelas masing-masing dengan mengantongi rasa ingin tahu.

Pak Subagio masuk ruang BK dengan terburu-buru, diikuti Surti yang langkahnya hampir limbung. Kepala sekolah duduk di bangku di hadapan Tejo. Kedua tangannya bertaut. “Benar kamu melakukannya, Tejo?” tanyanya dengan isi kepala yang masih tak percaya.

Murid SD kelas enam itu mengangguk pelan. Ibu Tejo membekap mulut, menahan dirinya sendiri agar tidak berteriak. Matanya merah karena tangis yang tak kuasa ditahannya. Sedangkan Surti histeris. Menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bu Narti, guru BK, membenamkan kepala Surti di dekapannya.

Tangan Pak Subagio mengepal. Rahangnya mengeras. Laki-laki berusia lima puluh tiga itu menatap murid kesayangannya. Siswa yang tidak pernah lepas dari predikat juara kelas. Ia tidak mengerti, mengapa Tejo sanggup berbuat sehina ini.

“Kenapa, Tejo? Kenapa?” tanya Pak Subagio dengan emosi yang tertahan.

Tejo menggigit bibir bawahnya. Ia bingung. Sejujurnya, ia pun tidak mengerti apa yang telah dilakukannya. Ia mendongak dan menatap Pak Abu, wali kelasnya yang berdiri gagah di belakang kepala sekolah.

“Saya … Saya hanya ingin meniru apa yang dilakukan Pak Abu pada beberapa teman sekelas saya.”

***

Probolinggo, June 21st 2013
· Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

  1. Aaaahhh…ini biang keladinya si pak Abuuuuuuu *pgn ngejitak*

  2. Ih, ternyata si Pak Subagio-nya… :O

  3. duh… miris bgt

  4. FFnya bagus, Mbak. Keren ^_^

  5. owh.. pak guru emang wagu dan saru plus gak patut digugu dan ditiru… miris.. #salahsatupotret

  6. wekekeke…aku baru bikin dan ternyata ada kalimat yg agak sama maksudnya..maaf ya Nina hehehe

    • Ah iya yah?
      Ndak apa-apa…
      Idenya hampir sama, ya, Kak ^^

  7. Mbak noichil, bukannya prompt kali ini setting tdk boleh di dalam gedung sekolah/ruang kelas?

    • Iya, memang ndak boleh. Tapi saya pengin bandel :p
      *padahal karena ndak punya ide aja sik hehehe*

  8. Aish.. Niru Pak Abu?😐

  9. Keren. Kepingin ngasi jempol tapi nggak ada tombol like. Ngasi kempol di sini aja.😀

    *jempol*

    • Eh masa ndak ada tombol like-nya? T.T
      Makasih sudah mampir, mbak Komang ^^

  10. Mbaaakkkk.. aku belum paham ini Tejonya abis ngapain Surti😦

  11. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.😦

  12. Surrrttttiiiii… f*ck youuuuu…

    *nge-jamrud*

    *dikeplak Noichill*

    • Surti menangis… kecewa… Arjunanya berubaaa~h
      *ngikut ngeJamrud*

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: