[BeraniCerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

Malam minggu. Pantai. Lampu warna-warni.

Sudah hampir tiga puluh menit. Kami masih saja duduk berdua menikmati desir angin yang membelai kulit. Sesekali debur ombak meramaikan suasana yang sunyi. Tapi kemudian, hening itu datang lagi.

“Kamu tahu… Rindu adalah penunjuk jalan paling akurat,” katanya.

Keheningan itu pecah dan berantakan. Sama seperti hatiku yang tak keruan sejak mengenalnya.

Aku menoleh. Kutemukan wajahnya masih menghadap pantai. Ia sedang tersenyum dengan mata terpejam. Rambutnya yang ikal dan diikat ekor kuda terayun-ayun oleh angin laut yang tidak bisa diam.

“Maksudnya?” tanyaku.

“Iya. Perasaan rindu telah membentuk petanya sendiri. Dan secara tidak sadar, manusia akan mengikuti ke mana rindunya melangkah.”

Tiba-tiba saja ia membalas pandanganku. Kedua mata kami bertemu. Dan kalian harus tahu. Ini adalah sepuluh detik terindah dalam hidupku.

Aku menunduk ketika menyadari ada dentum tak beraturan di dalam dada ini. Kadang-kadang, tubuhmu ingin sekali mengerjai hatimu. Aku tahu tubuh ini tahu, hatiku sangat menikmati pandangan itu. Tapi, sepertinya ia sedang ingin bercanda. Karena yang tercipta justru gerak-gerik aneh dan canggung padaku. Seperti saat ini.

“Tidak hanya manusia. Semua rindu akan mencari pemiliknya,” kataku.

Aku meneguk es jeruk yang sudah tak lagi manis karena esnya telah mencair. Hambar. Sama seperti rinduku yang belum juga pulang padanya.

“O ya?” tanyanya. Suaranya meninggi, lalu melekuk indah seakan angin pun telah menyerah pada kelembutan suaranya.

Kami berpandangan lagi. Aku bisa melihat bagaimana pupilnya melebar, matanya membulat dan lesung pipinya menukik sempurna karena telah jatuh pada senyumnya.

Cantik.

Ah, Tuhan. Mudahkanlah, untuk malam ini saja.

Aku merogoh kantong celanaku dan meraih sebuah kotak beledu yang sudah lusuh. Kuusap perlahan permukaannya, dan menariknya ke luar. “Iya. Seperti cincin ini,” lirihku.

Aku bisa merasakan bagaimana jantung ini berdebar hebat. Tapi kepalang tanggung. Sistem navigasi rinduku sudah berkedip-kedip dan berteriak. Rinduku telah menemukan rumahnya.

“Ini… cincin kawin ibuku. Sudah lama ia kehilangan pemiliknya. Sejak Ibu meninggal sebelas tahun yang lalu. Kamu tahu… ia juga merindu.”

Aku bisa melihat dahinya berkerut. Aku bisa melihat napasnya memberat. Aku bisa melihat rona merah pada pipinya yang pucat.

Aku meraih tangan kirinya yang gemetar, lalu menyematkan cincin ibuku di jari manisnya.

Pas.

“Dan malam ini, rindu telah mempertemukannya lagi padamu. Perempuan yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Maukah?”

***

Malang, May 11th 2013

*Maaf, ya… Memang ndak ada twist. Hanya sedang kangen nulis yang nggombal dan manis. Bhahahaks xD

image

    • junioranger
    • May 11th, 2013

    *Pingsan* boleh dicontoh nih buat diaplikasikan di dunia nyata😀

  1. walah kupikir orang pertama itu cewek, ternyata cowoknya ta?

  2. diksinya mantap bangettt….i like it😀

  3. wahh..🙂 sweet sekali..

  4. so sweet, Nina….🙂

    • Makasih sudah mampir, Mbak. Ini ngetiknya sambil ngarep juga xD *curcol*

  5. maniiiisss
    ga pa2, deh ga ngetwist. udah berhasil menangin hatiku. #eaa
    btw, kalimat yg ini agak rancu. apakah salah ketik?
    “Kadang-kadang, tubuhmu ingin sekali mengerjai hatimu.”

    • Gpp deh ndak menang banner, yg penting udah menangin hati Mas Sulung :”>

      Itu maksudnya… respon tubuh kadang2 ndak sesuai sama isi hati. Enaknya dibikin gimana ya biar ndak rancu? T.T

      • hm… i see.. mungkin diperbaiki aja susunan kata2nya, mbak. atau cari diksi yang lain😉

      • Hmmm… sekarang belum kepikiran lagi, sih… Nanti deh kalo pas tiba2 muncul hidayahnya hehehe
        Tengkyu advice-nyaaa ^^

  6. Bagus… Cincinnya kebmali ke ‘calon ibu’, ya?🙂

    • asdar
    • May 12th, 2013

    So sweet doc….^ ^
    apalagi kalimat ” rinduku telah menemukan rumahnya ” …….suka bgt!

  7. ceritanya sesuai dengan tagline blogmu mbak, “…Tapi aku pemintal rindu yang handal. ” ahay😀

    • Wah, merhatiin juga rupanya ^^
      Makasih sudah baca dan meninggalkan jejak aksara di sini ya :”)

  8. So sweet, mbak. Jadi pengen dilamar dg cara seperti itu🙂

  9. uhuk…
    manissssss

  10. Kapan aku punya keberanian untuk menulis fiksi. Kalo liat tulisanmu jadi mupeng dan mengkeret nih diriku😦

  11. ngasih liat tulisan ini ke ehemm..
    aku: aku mau kayak gini
    ehemm: aku gak ngerti puisi, emangnya itu ngapain?
    oalah ehemmku gak romantis sama sekali..

    kereeeenn bak nina. aku mau dong digombalin kek gini >.>

    • Sesungguhnya akupun ngarep, Mbak Ayu xD
      Salam buat si ehem ya :”)

  12. Romantis bgt!🙂

  13. kalimatmu memang sedari dulu selalu indah, Chil🙂

    • Makasih, Mbak Rochma. Selama ini saya selalu tersendat pada ide. Ndak pernah benar2 beda T.T
      Makanya pengin rajin ikut berani cerita hehe :’)

  14. Aih! So sweet.🙂

    • Karena ndak bisa bikin twist, MasMo xD

      • Twist-kan enggak harus mengejutkan, Noi. Bisa saja mengharukan atau malah bikin terbahak-bahak di endingnya.🙂

      • Hehehe iya… rasanya mindset-ku perlu direset T.T

  15. waw…seharusnya aku baca cerita ini sebelum aku menikah dl..jd bisa ngelamarnya kayak gini juga hehe

    • Ndak pernah ada kata terlambat untuk mencoba romantisme ^^
      makasih sudah mampir yah…

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: