Be My Serendipity

Jonathan : How’d you find this place?

Sara : I first came in because of the name: Serendipity. It’s one of my favorite words.

Jonathan : It is? Why?

Sara : It’s such a nice sounding word for what it means: a  fortunate accident.

[Serendipity]

***

11 Mei 2013, 15:29 WIB

Serendipity.

Ketika mendengar kata itu, di dalam kepala sebagian besar orang, akan diputar sebuah adegan di mana Sara dan Jonathan berebut sarung tangan berwarna hitam, menuju sebuah kafe bernama Serendipity dan menyerahkan perasaan mereka pada nasib, yang untungnya, berakhir bahagia.

Dan kata serendipity itu kini membuatku sesak napas dan tidak bisa berpikir jernih. Ini semua karena seorang perempuan yang kutemui selama dua puluh lima menit. Iya, dua puluh lima menit yang sangat berharga.

Tiga puluh menit yang lalu, aku melihatnya sedang duduk sendirian. Di depannya ada sebuah meja bundar dengan dua kursi berhadapan yang salah satunya sudah ia tempati.

“Kursi ini kosong?” tanyaku.

Perempuan itu mengangkat wajahnya dan mengangguk cepat.

Manis.

Kulitnya tidak putih. Tapi sawo matang. Pipinya pun tidak merah. Tapi sawo matang. Iya, bayangkan saja sebuah sawo matang yang aromanya membuat semua orang ingin mengigitnya. Dan sialnya, dengan melihat pipinya yang mengembang ketika ia mengunyah udang goreng tepung, aku sudah mulai gemas.

“Saya duduk di sini, ya…” kataku. Sekali lagi, ia mengangguk cepat dan tidak lupa membubuhkan senyum di wajahnya.

Entah aura apa ini. Tapi blus lengan panjangnya yang sederhana, bermotif garis-garis hijau dengan sedikit aksen bunga di bagian pergelangan tangan membuatnya semakin bersahaja.

“Nunggu jam nonton juga?” tanyaku memberanikan diri.

Sesungguhnya, aku sudah tahu jawabannya. Food court ini berada tepat di depan bioskop. Dan membeli makanan di food court ini tidak lebih dari sekadar menghabiskan waktu karena harganya yang tidak masuk akal.

“Iya. Mas juga?” tanyanya.

Dan aku mengangguk sambil merayakan keberhasilanku dalam menebak.

“Pulang kuliah?” tanyaku lagi. Aku yakin, kali ini tebakanku juga tidak meleset.

Tapi semangatku surut ketika dia menggeleng sambil tertawa, “Enggak… Saya pulang kerja.”

Aku tersenyum kecut. Sekaligus takjub. Kulirik sepatu kets dan tas ransel berwarna jingga yang teronggok pasrah di samping kakinya. “Kerja di mana, Mbak?” tanyaku dengan hati-hati.

“Baru pulang jaga dari rumah sakit. Ndak mungkin, kan, kerja kantoran pake sepatu beginian ahahaha…” jawabnya sambil tergelak.

Sial. Dia tahu isi kepalaku.

Dan selanjutnya, meja bundar itu menghangat dengan obrolan tidak penting seputar film yang akan kami tonton. Ia berkata, Tony Stark telah membawa sebagian besar kejeniusan Sherlock Holmes.

“Jadi, Robert Downey Jr belum bisa melepas karakternya di masing-masing film?” tanyaku sambil tertawa.

Perempuan itu mengangkat bahunya, “Entahlah. Keduanya hampir sama bagiku. Atau mungkin… Stark dan Holmes telah tercemari Downey Jr?”

Kemudian dia tertawa. Renyah.

Dan aku tergoda untuk melahapnya saat itu juga.

Ketika aku bersiap menanyakan nama dan nomor teleponnya, tiba-tiba ia bangkit setelah mengamati layar ponselnya dengan wajah muram.

“Maaf, saya pergi dulu.”

“Loh, nontonnya?”

“Batal. Ada panggilan dari rumah sakit.”

“Tiga puluh menit lagi filmnya main lho!”

Tapi perempuan itu menyambar ranselnya tanpa menjelaskan apapun. Aku hanya bisa terdiam. Termenung melihat punggungnya yang berlalu di balik kerumunan. Entah kenapa, sejak saat itu, aku berharap serendipity akan berpihak padaku juga.

Hingga lima menit kemudian, aku menyadari ada sesuatu berwarna putih yang terjatuh di samping kursi yang diduduki perempuan sawo matang tadi. Sebuah pin dengan tulisan yang kuyakin, itu adalah nama pemiliknya.

Nena.

***

11 Mei 2013, 15:31 WIB

Kenapa, ya, aku dipanggil lagi?

Aku menggerutu dan bertanya-tanya di balik kemudi. Seharusnya sore ini menjadi sore yang sempurna. Pulang dari jaga pagi, sorenya sudah memegang sebuah tiket film yang happening saat ini (hell yeah, I am that mainstream), dan bertemu seorang laki-laki asing yang bisa-bisanya mendebatkan Downey Jr bersamaku.

Kuinjak pedal gas dalam, berharap segera sampai di rumah sakit. Aku ingin secepatnya menyelesaikan urusan yang entah apa itu dan kembali ke bioskop. Semoga bisa.

“Lho kok dokter balik lagi?” tanya pak Amir, tukang parkir di rumah sakit.

“Barusan ditelepon, Pak. Katanya ada yang penting jadi harus balik.”

“Owh ya ya… Selamat bertugas lagi, ya, Dok.”

Aku tersenyum kecut. Sebenarnya ini sudah bukan jam kerjaku. Urusan sepenting apa, sih, yang membuat perawat itu meneleponku? Di dalam kepalaku sudah terpampang berbagai kemungkinan. Hingga yang terburuk. Termasuk ketakutan ada kelalaian yang kuperbuat selama jaga pagi tadi. Duh, membayangkannya saja perutku sudah mulas.

Pintu UGD sudah tinggal lima langkah lagi. Tapi tiba-tiba pikiranku terhenti di lima belas menit yang lalu. Sebagian dari jiwaku masih menginginkan bertemu dengan Tony Stark dan laki-laki asing itu.

Sebentar, kenapa harus dengan laki-laki itu? He’s just another strange man in a very random moment. Tapi kenapa, ya, rasanya sayang sekali ketika melewatkan kesempatan ngobrol lebih lama dengannya?

Aku masuk ke UGD dan segera menuju meja perawat dengan langkah yang terburu-buru. “Mbak, kenapa tadi nelepon saya? Ganggu acara saya aja, deh,” tanyaku dengan nada merajuk pada seorang perawat perempuan berkacamata.

Yang ditanya langsung mendongakkan kepala dan ternganga. Ada jeda beberapa detik hingga kemudian perawat itu berteriak. Sepertinya ia menyadari sesuatu yang tidak seharusnya.

“Aduh, Dokter Nena, maaf banget. Saya salah telepon tadi. Harusnya Dokter Nendra yang saya telepon, tapi salah lihat kontak gara-gara namanya berurutan. Dokter, maaf banget yaa,” racaunya. Serta merta ia menggenggam kedua tanganku untuk meminta maaf kemudian melepaskannya dengan cepat. Lalu ia meraih sebuah buku telepon berwarna biru dan mengecek barisan nama dokter di sana.

Aku gemas sekali mendengar alasan yang diutarakan perawat itu. Kutengok jam tanganku. Robert Downey Jr akan beraksi 10 menit lagi. Sebenarnya aku bisa ngebut dan kembali ke bioskop. Tapi aku tidak pernah suka terlambat masuk bioskop dan melewatkan bagian awal film meskipun hanya beberapa menit.

Dan mana bisa aku melanjutkan pertemuan dengan laki-laki yang brewoknya unyu itu?

Kulimpahkan kekesalanku dengan menendang kaleng minuman yang teronggok dekat tempat parkir dan menjatuhkan tubuhku di jok pengemudi mobil. Kutimang selembar tiket dan memandangi jam tayang Iron Man 3 yang tertera di sana. Lima menit lagi. Haruskah aku kembali ke bioskop?

Ah, sudah lah. Toh tiket sudah terlanjur kubeli. Nikmati saja menit-menit aksi Robert Downey Jr yang tersisa. Lagi pula, jadwal jagaku sampai minggu depan adalah masuk sore. Jika tidak nonton sekarang, maka tidak akan ada kesempatan lagi.

Dan kekecewaanku semakin menjadi. Aku melewatkan lima belas menit pertama Iron Man 3. Sepasang muda-mudi yang duduk di samping kananku begitu bising. Nampaknya mereka membutuhkan sumbangan dana untuk menyewa hotel. Dan ketika film sudah usai, hingga seluruh penonton keluar dari bioskop, aku tidak menemukan pria asing tadi.

This is not my day. Definitely.

Aku bingung dengan diriku sendiri, mengapa bisa sekecewa ini. Egoku berkata, ini bukan karena pria asing nan brewok unyu tadi, kok. Tapi kenyataannya adalah, wajahnya yang melankolis itu masih jelas dalam ingatan dan membuatku senyum-senyum sendiri.

Sebelum menyalakan mesin mobil dan meluncur pulang, kusempatkan mengetik sebuah kicauan melalui akun Twitterku.

@DocNena: Dicari cowok dg ciri tinggi ±170 cm, kulit bersih, brewok unyu, tgl 11/5/2013 memakai polo shirt hijau muda di Dieng 21 cc: @infomalang (11/05/2013 06:31 pm)

Tweet sent.

Kulempar ponsel ke tas ransel yang teronggok di jok samping pengemudi. Dan aku baru menyadari. Pin kebanggaanku sudah tidak tersemat di sana lagi.

***

11 Mei 2013, 18:29 WIB

Malang sore ini diguyur hujan.

Sudah lama Malang tidak digempur hujan. Dan aku sama sekali tidak menaruh curiga ketika langit sedikit mendung tadi pagi. Kenapa tadi enggak bawa mobil aja, sih?

Setelah mengosongkan kandung kemih di toilet bioskop, kuputuskan untuk kembali ke food court dan menunggu hujan reda. Hujan sore ini tidak main-main. Deras. Dan mengendarai motor tanpa jas hujan sama sekali bukan pilihan yang tepat.

Aku melangkah ke sebuah kedai kopi di pojok food court dan memesan secangkir espresso. Namun ada sesuatu yang menyelusup di sela pikiranku. Entah apa yang membuatku tersenyum dan kemudian berkata, “Espressonya batal, Mbak. Saya pesan caramel iced coffee saja.”

Sejujurnya, aku tidak pernah menyukai kopi dingin. Apalagi di cuaca yang cukup dingin seperti sore ini. Bagiku, kopi dingin bukanlah kopi. Tapi ada sesuatu yang membuatku menginginkannya.

Caramel iced coffee mengingatkanku pada perempuan sawo matang. Tawanya adalah kafein yang membuat pendengarnya mampu merelakan waktu mereka untuk tetap terjaga. Senyumnya manis dengan sederhana, seperti karamel, yang melekat erat pada ingatan seakan-akan tidak bisa terlepas. Dan berbincang dengannya menimbulkan letupan yang sama dahsyatnya ketika kopi itu diteguk dan dinginnya memengaruhi isi di kepala.

Kubuka akun Twitterku. Mengecek apa yang sedang terjadi di timeline. Dan jempol kananku mulai mengetik.

@DanuPra: You’re a cup of caramel iced coffee. Your laugh is a stunning spell. Your smile remains in my head. Your words explode in every inch of me. (11/05/2013 06:37 pm)

Tweet sent.

Caramel iced coffeenya, Mas,” kata barista perempuan itu. Aku menerima segelas kopi dingin itu dan berjalan dengan tetap mengamati layar ponsel. Ketika menggulirkan linimasa, ada sebuah kicauan dari akun info yang mengejutkanku. Mungkinkah?

Belum usai keterkejutanku, aku melihatnya. Caramel iced coffee. Perempuan sawo matang itu tengah membungkuk-bungkuk di antara kursi dan meja bundar tempat kami mengobrol tadi. Ia masih mengenakan blus garis-garis hijau lengan panjang dan sepatu kets di kakinya. Tas ransel berwarna jingga masih menempel di punggungnya.

Ada rasa haru yang menyelundup perlahan, seiring dengan langkah kakiku yang mendekat padanya. “Nyari ini?” ujarku sambil menyerahkan pin putih bertuliskan ‘Nena’ padanya.

Ia terdiam sesaat, memandangi pin itu lekat-lekat. Lalu tangan kanannya meraih pin itu sambil menegakkan badan hingga kami berhadapan.

“Sepertinya tadi terjatuh karena kamu pergi terburu-buru,” kataku lagi.

“Aaah… Terima kasih banyak, Mas. Saya tadi sempet panik pas tahu pin ini udah enggak ada,” katanya sambil membungkukkan badannya berkali-kali. Wajah yang tadinya sempat tersapu mendung kini kembali cerah seperti pertama kami bertemu sore tadi.

“Sama-sama. Sengaja saya simpan. Just in case, suatu saat kita bertemu lagi.”

Ia memberiku sebuah senyuman paling lebar padaku, “Makasih banyak, ya. Mau ditraktir apa, nih?”

“Enggak usah. I have this already,” jawabku sambil menggoyang-goyangkan segelas caramel iced coffee di tangan kiriku.

Dia memamerkan senyum manisnya. Semanis karamel yang sebentar lagi akan kusesap.

“Tapi… laki-laki berbrewok unyu ini enggak keberatan, kok, diajak ngobrol-ngobrol lagi. Tentang seberapa penting pin putih itu, mungkin?” kataku memberanikan diri. Karena jika tidak sekarang, mungkin tidak akan ada lain kali. Kehidupan nyata tidak seindah skenario film. Termasuk serendipity.

Mendengar kalimatku tadi, perempuan sawo matang itu terkekeh dan tersipu. Ia berusaha menyembunyikan rasa malunya di dalam pipinya yang merona.

“Ehm, itu… jadi pin itu…”

Dan di sinilah kami. Menempati lagi kursi yang berhadapan di antara sebuah meja bundar. Mengurai rasa penasaran dan benang takdir yang tadinya kusut dan tak mampu terburai. Tentang pertemuan yang tak terduga, tentang pin putih yang jatuh dan tertinggal, serta tentang hujan yang datang tiba-tiba.

Di tengah tawa dan percakapan kami yang hangat, kusempatkan diri menuliskan sebuah kicauan.

@DanuPra: Serendipity itu ada. (11/05/2013, 07:57 pm)

Tweet sent.

***

Tulisan ini adalah hasil kolaborasi manis dan penuh cinta dari @noichil dan Maretha Primariayu (@mareretha) dalam rangka mengikuti #ALoveGiveaway oleh @WordsOfPeotica ^^ MENANGIN YAAAH! *kiter-kiter sambil bawa caramel iced coffee*

    • hanifah
    • May 11th, 2013

    Ada pemutarbalikkan fakta kayaknya eaaaaaa hahahaha

    • Ahahaha
      Iki iseng, survey lapangan buat ikut lomba
      Dan bikin cerita itu paling gampang kan memang dari melebaykan keadaan ehehe xD

    • aritunsa
    • May 11th, 2013

    apakah keisengan ini terinspirasi dari kehidupan pribadi? hihi…

    • Mwahahaha ndak kok. Ini beneran fiksi ^^
      Makasih sudah mampir ya…

  1. Keren .. Kate Beckinsale nya jadi sawo matang🙂

    • Karena cantik yg putih sudah terlalu mainstream😉
      makasih sudah mampir, Mas Arip ^^

  2. Reblogged this on Segoro Tresno and commented:
    Cerpen ini adalah hasil kolaborasi saya dan @noichil dalam rangka mengikuti #ALoveGiveAway oleh @WordsOfPoetica. Enjoy it *sruput caramel ice coffee*

  3. awww.. suka suka sekali :))

  4. Kuchil n retha…sukak banget…
    Pas baca yg versi awal agak bingung, setelah dikolaborasi….sukak….
    Love both of u…

  5. apik tulisannya.

    ♥ able.

    siapa nih cowok brewok unyu-nya.🙂

    keren idenya.

    • Hwaaa eL kasih komen \o/
      cowok brewok unyunya adalah hasil imajinasi retha ihihihi
      Tengkyu udah mampir ya, eL :’)
      *terharu*

    • Brewok unyu. Anyone here? :p

  6. Reblogged this on Note Of Me and commented:
    Leave a comment please

    • Ijank
    • May 15th, 2013

    Simple, ringan, interesting the doc name, nena, reminds me of my neighbour..great story

    Ps: ur pict look scary, change it..hehehe, just kidding

    • Hwaaa Pak Dokter Ijeeenk… Makasih udah nyempetin baca beginian. Refreshing dulu lah, masa baca jurnal doang x))

      tetangga yg mana ini? *kedip2*

      fotonya kaya lagi ngesot ya? T.T

    • devid ruru
    • May 15th, 2013

    Waaahh ternyata mbak nina suka yg brewokan wkwkwkwkwkwk smoga menang ya mbaaakk

    • Ahahaha itu yg bikin brewokan unyu si Rethaaa… xD
      Etapi cowok brewok (asal rapi) lucu sih emang #eaaa
      Makasih sudah mampir ke sini, ya, Devid :’)

  7. Sukaaaaaaaa… pake banget!
    🙂

    • Makasih sudah mampir, Mbak Rini ^^

      • Sama-sama…🙂

        Selalu suka diksi dan cerita yang noichil buat..😀

      • Ini kolaborasi sama Maretha, Mbak… kita lagi iseng ikut lomba hehehe :p

      • Iya. Yang di blognya Teguh Puja kan ya?🙂

      • iyah. Mbak Rini ikut juga?😀

      • Belum tahu.. Hehehe

    • Savtr
    • May 18th, 2013

    ceritanya seru… semoga menang dan salam kenal🙂

    • asdar
    • May 22nd, 2013

    Serendepity itu ada……..
    #saya juga pengen percaya#

    Nice sweet story ^^

    • Pokoknya, kalo jodoh ndak lari ke mana, Dok. Asal jangan lupa dikejar :p
      Semangat!

  8. Menarik coretan-coretannya; semangat. Salam kenal.

  9. Naaaaah, baca dari awal akhirnya.. Bener sukaaakk..
    Tu film juga suka banget *serendipity*, gilaaa bener hahahaha jodoh emang gak kemana..
    Bumbu ceritanya ttg keseharian dokter jadi mikir,ini ceritamu mbak hihihihihi dan asli inget ciciku, tiap ada panggilan darurat, yang nesu kami :))))

    Maap baca fiksimu banyak2, susah tidur lagi abis nyusuin baby -_-” *emak2 curhat*

    • Waduh… makasih sudah baca ya, Mbak. Mudah2an bisa jadi pengantar tidur yg ampuh😉

    • sisca
    • November 6th, 2013

    kisah pribadi ya dok?🙂 nice ^^

    • Sebagian dari itu pengalaman pribadi ahahaha
      Makasih udah baca, Siskaaa :*

  1. August 9th, 2013

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: