Perempuan Dalam Mimpi [Episode 2]

Perempuan Dalam Mimpi [Episode 1]

Setelah pertemuan di kafe itu, perempuan dalam mimpi adalah obsesi. Entah bagaimana ceritanya, ia tak pernah membolos dari mimpi. Setiap hari.

Dan kafe tempat pertemuanku dengannya adalah persinggahan yang sama pentingnya dengan bernapas. Aku selalu duduk di sini, di no smoking area. Berharap bahwa perempuan dalam mimpiku akan muncul dan duduk di tempat yang sama sehingga aku bisa memandangnya dengan leluasa.

Asal kau tahu… Perempuan itu tetap menyusup ke dalam tidurku. Selalu di halte bus. Aku mengenalnya. Dia tidak mengenalku. Selalu begitu. Sudah tidak terhitung lagi berapa malam yang berlalu. Tapi aku tetap menjadi lelaki yang tidak berani membuka mulut. Karena masih teringat olehku, pandangan herannya ketika kami pernah bertemu.

Sampai semalam, aku memberanikan diriku di dalam mimpi untuk mendekat padanya. Dalam mimpi, tentu saja. Semalam, tiba-tiba saja perempuan dalam mimpiku menangis. Wajahnya seperti langit cerah yang tersapu hujan deras. Tanpa awan atau petir yang menyala.

Lalu kedua kakiku bergerak ke arahnya. Sekali lagi, dalam mimpi, tentu saja. Wajah sendu itu semakin jelas terlihat. Aku tidak bisa membayangkan, apa yang membuat perempuan secantik ini bisa begitu berduka.

“Ini… Air mata tidak berhak berdiam terlalu lama di wajahmu,” kataku, sambil menyodorkan secarik sapu tangan berwarna biru gelap padanya.

Perempuan itu memandang sapu tanganku sejenak, lalu memalingkan wajahnya padaku. Dahinya mengernyit. Ia mencoba melengkungkan senyum dari bibir merahnya, seperti yang dilakukannya di dunia nyata. Tapi tidak bisa. Perempuan dalam mimpiku terlalu berduka.

Dan mimpiku, berakhir. Tepat ketika perempuan dalam mimpi meraih sapu tanganku dan berkata, “Terima kasih.”

Hari ini, di kafe yang sama, aku benar-benar berharap akan memimpikannya kembali. Setidaknya, aku bisa melanjutkan keberanianku di dalam mimpi untuk sekadar menanyakan namanya. Mungkin, semesta menginginkan kami bertemu lewat mimpiku. Lalu menggiringnya menjadi kenyataan dan berakhir bahagia. Mungkin.

Tiba-tiba lamunanku buyar. Di hadapanku, ada secarik sapu tangan biru gelap yang diayun-ayunkan perlahan. Pandanganku mengikuti lengan yang menyodorkan sapu tangan itu. Lengan yang berakhir pada sebuah wajah. Wajah perempuan dalam mimpi.

“Hey, milikmu. Terima kasih,” katanya.

Kali ini, senyumnya begitu nyata. Dan bahagia. Lengkung indah itu tidak hanya ada pada bibirnya. Tapi juga di sudut kedua matanya. Bisa kaubayangkan bagaimana rupa mata yang tertawa? Ya, perempuan itu sudah tidak berduka.

Tapi…

“Bagaimana bisa sapu tangan ini ada padamu? Dan… bagaimana kamu tahu ini… milikku?”

Perempuan itu mengangkat kedua bahunya. “Entahlah… Ketika terbangun tadi pagi, sapu tangan ini sudah ada di samping bantalku,” katanya.

Lalu hening.

Ini lucu. Tiba-tiba saja kepalaku penuh dengan adegan para malaikat yang membawa-bawa sehelai sapu tangan sebagai pengikat takdirnya dan aku.

“Dan kamulah yang meminjamkan sapu tangan ini… dalam mimpiku,” ujarnya lagi. Wajahnya masih berhiaskan senyum yang kusuka.

Aku menerima sapu tangan itu dengan ternganga. Sesungguhnya aku pernah membaca bahwa dua orang akan memimpikan hal serupa jika mereka mengenakan piyama yang sama. Tapi kami, tidak mungkin mengenakan piyama yang sama.

“Selina. Namaku Selina. Jika saja kau bertanya,” katanya sambil menyodorkan tangannya kembali.

Kusambut uluran tangan itu dan mengayunnya perlahan, “Surya.”

Selina. Nama kita memiliki makna yang hampir sama. Dan malam nanti, aku ingin menyesap bintang semesta, yang terperangkap di kedua bola matamu.

***

Probolinggo, May 3rd 2013

  1. Like this

    • asdar
    • May 3rd, 2013

    Judulnya episode 1 dan 2 itu emang rencananya berseri ya dok?
    Endingnya ini saya suka……..
    #cuma kayaknya klo emang ada episode 2 nya,ntar endingnya tuis2 lg#

    • Belum tau, Dok. Ini iseng aja ngikutin arus twitter :p
      Makasih sudah mampir. Mudah2an bisa bikin lanjutannya hehe ^^

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: