[BeraniCerita #10] Yang Terlupakan

Malam sudah larut. Mungkin sudah hampir pagi. Tapi Liza masih terjaga. Tidak ada suara apapun di rumah ini. Sepetinya, Ayah dan Ibu sudah tidur sejak tadi.

Hanya ada gulita di sekitar Liza. Kecuali wajahnya, terpantul cahaya televisi yang masih menyala. Entah film apa lagi yang masih diputar di malam selarut ini. Pandangan Liza hanya terpaku pada lembaran-lembaran foto yang tengah digenggamnya.

Pikirannya kacau. Sesekali ia menekan-nekan kepalanya sendiri. Ia kalut. Batinnya semrawut.

Tiba-tiba ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat, “Liza,” katanya, “Aku sedang mencarimu; masuklah ke ruang kerjaku.”

Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya.

Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

Ayah Liza memandang Liza dengan tatapan tidak suka. Perlahan lelaki itu membuka amplop putih dan mengeluarkan selembar kertas dari sana. Lalu meletakkannya tepat di hadapan putrinya.

Liza dapat membaca nama pemilik kertas itu. Dirinya sendiri.

“Liza… please, explain,” kata ayahnya, sambil menunjuk sebuah tulisan bercetak tebal yang pernah terbaca oleh Liza sebelumnya. Plano test: positive.

Liza menunduk. Saat ini ia tidak berani memandang mata ayahnya. “Seperti yang tertera di sana. Liza hanya ingin Ayah tahu,” jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya.

Di ruang kerja ini, Liza bisa merasakan bahwa ayahnya murka. Ada bilur-bilur udara yang semakin sulit dihirupnya. Amarah dan rasa jijik ayahnya telah luntur dan mencemari malam. Bercampur dengan rasa takut yang kini menjamahi seluruh tubuh Liza.

“Anak bodoh! Kamu itu masih SMA! Gimana nasib masa depanmu kalau sudah bunting begini? Kamu mau bikin aku malu? Iya?” geram ayah Liza sambil mengeretakkan giginya. Kedua tangannya mengepal penuh emosi di atas meja. Tubuhnya gemetar dan menegang. Pembuluh darah karotis hampir saja mencuat dari kulit lehernya.

“Siapa laki-laki kurang ajar yang melakukan ini padamu?” hardik ayahnya lagi.

Liza masih saja terdiam. Tiba-tiba, ia membayangkan bagaimana reaksi ibunya jika mengetahui hal ini. Tiba-tiba, ia merasa bersalah karena telah berbuat melampaui batas. Wajahnya memanas. Dan sedetik kemudian, air mata sudah merebak di kedua matanya.

“Pacarmu? Hah? JAWAB!”

Kali ini laki-laki itu tidak bisa menahan emosinya. Ia merenggut kertas berisi hasil pemeriksaan kehamilan itu dan melemparnya tepat ke wajah Liza.

Dengan gentar yang berusaha dilemparnya keluar, Liza meletakkan helai-helai foto yang dipegangnya sedari tadi di atas meja. Ia memberanikan diri mengangkat wajah dan melihat bagaimana reaksi ayahnya. Tepat seperti yang diperkirakan. Ayahnya terkejut atas sebuah kenyataan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

“Maaf, Yah… Tapi semoga… foto-foto ini tidak membuat Ayah lupa.”

Senyum getir mengambang di bibir Liza. Kengerian tampak nyata pada mulut ayahnya yang menganga. Liza hanya ingin mengingatkan pada ayahnya yang sudah lupa, bahwa mereka berdua pernah melewati malam-malam penuh peluh dan cinta yang melenguh.

***

Probolinggo, May 3rd 2013

image

    • asdar
    • May 3rd, 2013

    Waduh…….incest ya dok!!
    #lagi2 endingnya ndak terduga#

    • junioranger
    • May 3rd, 2013

    endingnya tersirat halus gegara ada sesuatu yg di pegang Liza. Mencoba meraba alur #eh overallisgood. ngetwist halus. #MaaftelahLancangMengkritik. pdhl saya pun msh bnyk kekurangan😉

    • Hello, Ranger.
      Iya, (buatku) memang susah bikin twist hehehe
      Makasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di sini yah :’)

  1. Twistnya dapet, mbak. Cuma masih ada beberapa yg bolong dh, kayaknya.

    Dari prompt dikatakan kalau si ayah mencari Liza, tapi kenyataannya Liza hanya duduk diam di depan tv. Jadi agak janggal.

    Kemudian karakter berbicara si ayah. Dari prompt tampaknya si ayah adalah orang dg karakter bahasa yang halus dan sopan. Kemudian ketika marah, tiba-tiba saja si ayah berkata kasar (bunting itu bermakna negatif dibanding penggunaan kata hamil). Jadi terkesan ga sinkron karakternya.

    Yg terakhir, sejak dikatakan si Liza hamil dan dia memegang foto, udah ketebak kalau dia main tembak2an sama ayahnya sendiri.
    Hehe. Maaf oot. This is just from my humble opinion🙂

    • Hehehe iya. Saya bingung sama prompt yg ini. Meskipun memang ndak pernah berhasil bikin FF, tapi prompt yg ini semacam ‘aneh’ dari awal. Cuma karena ini tantangan ya udah dibikin aja. Dan seperti yang sudah-sudah, saya gagal lagi bhahahaks xD

      Makasih saran kritiknya yah ^^

  2. serem..

  3. iyya, syerrem T_T. tapi saya selalu suka pilihan kata mbak noichil, puitis2 gimana gitu🙂

    • Duh, kayanya saya gagal nulis lagi nih T.T
      Makasih sudah mampir ke sini ya, mbak Mardiana ^^

  4. buset itu bokapnya lagi mabok yah?? mpe segitu pikunnya

  5. ngeriiii, skrg banyak yg model gini kok d kehidupan nyata…

  6. iya nih mbakdok, agak sedikit bolong, awalnya dikatakan rumah sepi semua orang sudah tidur, tapi tiba2 ayah mencari Liza dari tadi hehe.

    tapi seperti biasa diksinya bagus😉

    • Hooh. Nulis FF pake prompt itu tantangan yang susaaah :p (alibi karena males mikir hehehe)

      makasih ya mbak Orin :”>

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: