[BeraniCerita #07] Si Pendiam yang Aneh

morning-laptop-black-coffee-mug-cup-paper-news

Namanya Dipo. Usianya sekitar sembilan tahun. Atau sepuluh. Entahlah. Aku tidak tahu dengan pasti. Dia hanya tersenyum setiap kali aku menanyakan berapa usianya. Rambutnya ikal dan berwarna kecokelatan. Ada tanda lahir di pergelangan tangan kanannya, berbentuk bulat dan kehitaman. Tubuhnya kecil dan kurus. Ada lekukan tulang iga yang menonjol di balik kulit dadanya. Tapi ia tak pernah menyentuh donat atau roti isi yang kutawarkan. Rasanya, Dipo tidak pernah mengenal kata lapar.

Aku baru mengenal Dipo selama tiga bulan. Anak itu selalu membawakanku secangkir kopi hitam tanpa gula, lalu meletakkannya sejajar dengan mouse di meja kerjaku. Tepat jam delapan lewat sepuluh di pagi hari. Pas, lima menit setelah aku duduk di kubikelku. Tidak kurang. Tidak lebih. Dipo selalu datang tepat waktu.

Bisa dibilang, Dipo adalah anak yang tidak banyak bicara. Dia menanggapi semua kata-kataku dengan bahasa tubuhnya. Gelengan, anggukan, atau sebaris senyum lebar yang menggemaskan. Bahkan aku tahu namanya dari bordiran huruf di kemeja putih bagian kanannya. Tapi aku tidak bosan bercakap-cakap dengannya. Atau sekadar berkeluh kesah. Well, dia memang tidak pernah memberiku saran atau kalimat apapun. Namun entah sejak kapan, kehadirannya sama pentingnya dengan secangkir kopi hitam untuk pagiku. Wajib.

Tapi pagi ini berbeda. Sudah hampir jam sembilan, secangkir kopi hitam tanpa gula belum tersedia. Dan Dipo yang pernah kukira mengidap mutis itu tidak kunjung tiba.

Empat puluh menit tanpa ada tanda-tanda kehadiran Dipo, aku sudah mulai merindukannya. Aku rindu aroma kopi di sisi mouse-ku. Aku rindu sikapnya yang misterius. Aku rindu senyumnya yang lugu dan tulus.

“Ndro, Dipo kok nggak datang?” tanyaku pada Endro yang kubikel kerjanya tepat berada di sampingku. Tak mungkin Endro tidak tahu. Bisa jadi, Dipo pergi tanpa sempat memberitahuku. Dan memikirkannya saja membuatku dirundung cemburu.

“Di… Dipo?” tanya Endro. Kalimatnya terbata-bata. Matanya awas menyelidik ke sekitar meja kerjaku yang berantakan. Atau mungkin melirik tangan kiriku yang jari-jarinya mengetuk-ngetuk flipchart dengan tidak sabar. Aku tidak tahu.

“Iya. Anak kecil yang biasanya pake kemeja putih trus nganter kopi ke kubikelku tiap pagi,” repetku dengan tidak sabar. Irama ketukan jariku di atas flipchart semakin tak menentu. Sama seperti napasku yang terburu-buru.

Aku bisa melihat, dahi Endro berkerut seperti baru saja kena tilang. Rekan kerjaku itu menelan ludah. Lalu melihatku dengan gamang, seperti ada angin yang memasangsurutkan kata-katanya.

“Gayatri, nggak pernah ada Dipo atau anak kecil manapun yang nganter kopi ke kubikelmu.”

Aku bingung.

Kutolehkan kepala. Tepat di samping mouse, tiba-tiba ada secangkir kopi hitam di sana.

***

Malang, April 14th 2013

banner-BC#07

  1. medeni n_n”

  2. so, Dipo itu cuma imajinasi?
    spooky, chil…😐

    • bisa imajinasi. bisa jadi…
      Van… jangan nengok ke bawah ranjang. Pokoknya jangan…

  3. Imajinasi hantu terhororku waktu kecil = hantu bawang ranjang….
    Gelap dan lembab….grrrrgrrrrrgrrr

  4. wah, ternyata horor …😀

    • Bikin FF ini asal2an, jadi ndak ngerti juga mau diapakan x))
      makasih sudah mampir ^^

  5. Trus kopi itu? Jgn2 slama ini kamu meminum secangkir darah! Rrwrrr…

  6. selalu suka dengan cara ceritamu bertutur, Chil.. Nice, aku banyak belajar darimu.. Eia, twistnya mungkin biasa tapi karena diksinya keren jadi ending yang luar biasa….🙂

    • Aduh, makasih banyak, Harry…
      Aku juga suka karya2mu sejak di jejakubikel ^^
      Semangat berfiksi ria! \o/

  7. Aih.. sereemm… Bisa aja nih Mbak Nina idenya🙂

  8. Hororr.. -____-

  9. wow…setelah deg-degan berakhir dg kaget luar biasa. Keren😉

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: