[BeraniCerita #05] Kamar 408

Sepertinya suasana malam ini tidak begitu bersahabat bagi Riana. Angin yang dingin membuat dia memaki dirinya sendiri kenapa lupa membawa jaketnya yang tertinggal di mobil. Lorong yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu mulai dimatikan. Dan kenapa tidak ada orang berseliweran? Padahal masih jam 8 malam.

“Nah, sebentar lagi sudah sampai di kamar Sinta,” Riana mencoba menghibur diri sendiri karena dirinya masih merinding. Cepat-cepat langkahnya diayun, sampai akhirnya dia berhenti tiba-tiba saat melihat sebuah tempat tidur dorong melaju cepat ke arahnya.

“Maaf, Dokter. Saya sedang buru-buru,” ujar seorang perempuan muda berseragam perawat sambil tersenyum canggung pada Riana.

Riana menahan napasnya dan mengangguk cepat. Senyumnya mengembang kaku sebagai balasan sopan santun. Ya. Aku juga sedang terburu-buru.

Perawat itu berlalu. Lorong gelap kembali sepi. Riana melangkah lagi.

Sesekali, perempuan bertubuh semampai itu menelan ludah. Kengerian itu datang lagi. Riana mendekap erat tas jinjingnya di depan dada. Seakan-akan ada sebuah pesan yang ingin disampaikan jantungnya.

Riana menghentikan ayunan kakinya di depan sebuah kamar. Pupilnya membesar. Dadanya disesaki udara yang tertahan.

408. Mrs. Sinta.

Kenop pintu diputar. Kebiasaan. Sejak dulu kamu selalu lupa mengunci pintu, Sinta.

Riana mengintip ke dalamnya. Seorang perempuan yang lebih muda darinya sedang tertidur. Sinta tampak begitu pucat. Kepalanya terkulai lemah ke sisi kanan. Sebagian dari rambutnya berantakan dan menutupi wajah.

Riana menyelinap masuk. Bau antibiotik dan aroma cairan desinfektan segera menusuk paru-parunya. Ia berjingkat-jingkat dan mengendap-endap, seperti remaja yang takut ketahuan karena pulang kelewat malam.

Di sisi kiri Sinta, batin Riana meronta. Tangannya membelai tiang penyangga infus dan memandangi Sinta. Napas lemah Sinta yang naik turun sedikit menyurutkan nyalinya. Tapi rasa cemburu kembali memenuhi kepalanya. Ada Sinta dan suaminya yang menari-nari di antara semburat senja, berbahagia atas bakal calon anak mereka. Calon anak yang saat itu belum mampu diberikan Riana.

Riana tidak suka. Sangat tidak suka.

Riana memasukkan tangan kanannya yang terbalut sarung tangan ke tas jinjing, merogoh isinya dan mencari sesuatu. Sebuah tabung berukuran lima puluh cc sudah tergenggam erat di tangannya. Ada kilatan berwarna perak ketika ujung jarumnya disinari cahaya purnama yang menyusup melalui sela jendela kamar. Riana tersenyum dengan penuh kuasa yang tak meminta perlawanan.

Ada sebongkah gunung es yang jatuh di dalam dadanya. Sesungguhnya, ia takut.

Tapi semesta telah menunjukkan kuasanya. Kamu keguguran. Ini adalah pertanda. Dan aku harus menyelesaikan sisanya. Karena kamu, Sinta… telah merebut mahkota ratu yang seharusnya jadi milikku saja.

Dengan gerakan perlahan dan sangat cekatan, Riana menusukkan jarum ke karet botol infus Sinta yang isinya tinggal separuh. Ia mendorong cairan di dalam spuit hingga tak bersisa, memindahkan isinya ke dalam botol infus dan membiarkannya tercampur dengan sendirinya.

Tubuh Riana gemetar. Ia berbalik dan meninggalkan kamar 408. Kedua tangannya menggenggam spuit yang telah kosong dan dua botol plastik berlabel kuning, lalu membuangnya di tempat sampah.

Di antara langkahnya yang menjauh, hati Riana memberat. Suara mesin EKG memelan. Kepalanya dipenuhi bayangan jantung Sinta yang akan mulai berhenti berdenyut. Adik kandungnya itu akan mati beberapa saat lagi.

Tapi itu tidak penting. Riana tersenyum. Ia membelai perutnya sendiri.

Suamiku, lihat. Akhirnya aku bisa membawa calon anak untukmu.

***

Probolinggo, March 30th 2013

    • asdar
    • March 30th, 2013

    Waduh bu dok…..ini temanya segitiga yg menelan korban jiwa ya?

  1. Sadis🙂

  2. Oh bisa dipindah gitu ya calon bayinya?

    Dan (katanya) cinta, sekali lagi menghilangkan hati nurani..😐

    • Sebenernya ndak bermaksud pindah bayi sih :p
      Makasih sudah mampir ^^

  3. Ada yang sedikit membingungkan. Awalnya dikatakan kalau Riana ga bisa mengandung, dan ia cemburu pada adiknya yang bisa memberi keturunan hingga dimadu suaminya. Tapi kemudian adiknya keguguran dan Riana hamil? (kalau ga salah tangkap)
    Gimana, ya? Bingung. hehe

    • Iya, kira2 seperti itu ^^
      makasih sudah mampir

      • tapi kalau begitu ada logika cerita yang bolong, dong? biasanya, seorang pria ‘tega’ memadu wanita kalau wanita tsb benar2 tidak bs hamil lagi.🙂

      • Iya juga ya… (,_, )7
        Berarti beberapa kasus yg saya temukan agak keluar dari logika ya T.T
        Tengkyu masukannya, Mama Sulung ^^

  4. aiih… cinta buta membuat Riana lupa akan sumpah dokternya… dan darah tak selalu lebih kental dari air 😦

  5. Oh, ini toh Mbak Nina beraniceritanya, Mbak Nina dokterkah? #random xD nice post!🙂

  6. -Tidak fokus pada satu twist (saya lihat ada 2), membuat cerita bolong di beberapa tempat. *sepakat dengan sulung*

    -Kalo memang Riana niatnya membunuh sejak awal dia datang, tentu dia tak mengharap bertemu satu orang pun (bakal jadi saksi kan?). Mengapa ada tanya tentang tiada orang yang berseliweran? Justru lebih malam, lebih bagus *insting membunuh berbicara hahaha…*

    -Hmmm… di negarakah manakah latar ceritanya? Kalau di Indonesia sendiri, tidak membolehkan menikahi saudara kandung istri (itu yang saya tahu). Atau ceritanya ini Sinta selingkuh dengan suami Riana hingga hamil (dan keguguran?). Tapi tiada clue selingkuh di sini. Adanya clue ratu (saya mengartikan adanya pernikahan)

    -Kalo ceritanya Sinta keguguran dan Riana ternyata bisa hamil, tiada alasan lagi buat membunuh adiknya, toh calon penerus sekarang ada di perutnya. Kecuali kalo dendam karena selingkuh itu tadi. Tapi tabu ah wanita hamil membunuh hihihi… *eh, kan hanya fiksi*

    CMIIW

    • Wah, makasih masukannya😀
      Fiksi pun harus logis ya. Mbak Nurusyaini ndak sendirian, banyak yg protes atas hal yg sama kok x))
      makasih saran dan kritiknya, mbak ^^

      • Saya pernah ikutin TL twitter ttg kelogisan fiksi (lupa nama narasumbernya).

        Kisah Harry Potter itu gak nyata, tapi disukai karena JK. Rowling mampu merangkai kelogisan ceritanya.

        Sedang film Habibie & Ainun, kisah nyata yang difilmkan namun kelogisannya menjadi ternoda dengan kehadiran satu produk yang tidak ada dijaman cerita itu. kayaknya produk makanan ringan itu terlalu maksa masuk *ingin masuk TV kayaknya hahaha*

        Saya pun masih belajar untuk melogiskan fiksi hehehe…. ^^

      • Sama seperti dua twist yg dipaksakan di akhir FF di atas ya😉

        tengkyu masukannya, Mbak ^^

  7. sadis. hehehe… keren mba…

  8. memadu kok sama adik ipar, g kreatip nih kakak laki2nya, g ada yg lain apa? ih tp sadis gtu si mb nya

    • Yg ndak kreatif yg ngarang, Mbak :p
      Makasih sudah mampir ya ^^

  9. karena aku ini awam dibidang kedokteran, mungkin sarannya, dikasih tahu itu obat apa yang dimasukin ke dalam infusnya sinta apa ajah. biar nggak menerka-nerka🙂

    • Sebenarnya kepikiran seperti itu. Tapi takutnya, malah ngasih ide, mbak x_X
      Makasih ya, mbak ^^

  10. Cukup kaget karena ceritanya ternyata mengerikan: kakak yg membunuh sudaranya sendiri karena selingkuh dg ipar…

    Salam kenal juga. Trims sdah mampir d blog ya…

    • Hehehe fiksi ini dibuat dengan terburu-buru, Dok.
      Terima kasih sudah mampir ^^

  11. Cukup kaget karena ceritanya ternyata mengerikan: membunuh saudara sendiri karena selingkuh dg ipar. Hmhmhm.. Smg bukan terinspirasi dri kisah nyata…

    • Hehehe fiksi ini dibuat dengan terburu-buru, Dok.
      Terima kasih sudah mampir ^^

  12. don’t try this at rumah sakit lho yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: