G.I. Joe: Retaliation – Review (Spoiler Included)

image

Sutradara : Jon M. Chu
Penulis : Rhett Reese, Paul Wernick
Genre : Action, Sci-Fi
Durasi : 110 menit

Ini adalah film pertama saya setelah sekian lama tidak menapakkan kaki di gedung bioskop (belum apa-apa sudah lebay). Dan ada dua hal yang menjadi perhatian saya setelah nonton film ini. Pertama, sepertinya saya tertarik nonton G.I. Joe: The Rise Of Cobra. Kedua, saya menyadari bahwa betapa sulitnya membuat review film ini tanpa spoiler xD

Cerita diawali dengan aksi G.I. Joe menyelamatkan sandera di negara Korea Utara (tampaknya ada tujuan khusus mengapa Korea Utara ditampilkan di sini. Hingga akhir, ucapan sinis terhadap Korea Utara bisa kita nikmati. Mungkin, posisi Rusia sebagai musuh bebuyutan di tiap film buatan Amerika akan segera digantikan Korea Utara.) Dengan Duke sebagai pemimpin, misi penyelamatan ini tampak seperti menyelesaikan game Angry Birds level pertama dan kedua. Gampang. Mungkin, ini juga simbol bahwa Korea Utara tidak sebanding dengan pertahanan Amerika (mulailah menganalisis semuanya, Chil.)

Selanjutnya, Joe menerima perintah dari Presiden US untuk mengambil alih senjata nuklir Pakistan. Tembakan yang presisi, kerja sama yang kompak, dan letupan bom di mana-mana. Pada akhirnya, Joe berhasil. Semua bersorak. Dan Joe semakin dikenal sebagai pasukan pelindung Amerika yang paling tangguh dan berani.

Tapi rupanya, semuanya hanya jebakan. President is not President. Dan Zartan, dalam penyamarannya, menyebarkan tuduhan bahwa G.I. Joe telah mengkhianati Amerika dengan menguasai senjata nuklir untuk mereka sendiri. Sehingga Presiden Amerika mengeluarkan ulitmatum. G.I. Joe harus dimusnahkan (entah kenapa, jalan cerita ini mengingatkan saya pada serial Korea IRIS ehehehe…). Tiga anggota Joe bertahan. Dan mereka merencanakan ‘retaliation’; pembalasan.

Ada satu pertanyaan. Meskipun Roadblock mengatakan bahwa kepergian rekannya pasti untuk sebuah alasan yang bagus, tapi di mana Snake Eyes?

Satu per satu, para penjahat muncul. Firefly dengan kunang-kunangnya yang bombastis, Destro yang tidak jelas nasibnya di dalam tabung air, Storm Shadow yang memesona dengan abdomen papan caturnya, dan Cobra Commander dengan suaranya yang seksi. Snake Eyes tetap hadir dengan sikap mutisnya. Dan keterlibatan baby-faced grandpa Bruce Willis mencerahkan film dari pertengahan hingga akhir. Seperti alur cerita film kepahlawanan lain, pada akhirnya, yang benar akan mengalahkan kebatilan (meski kebenaran ini dalam konteks ‘Amerika’). 

Jujur. Banyak hal yang di luar dugaan. Dalam artian, saya mengharapkan hal-hal yang sadis, spektakuler dan mencengangkan. Tapi ketika Zartan menimang-nimang tang cabut gigi hanya untuk mainan (tanpa dilanjutkan adegan yang berdarah-darah), well… saya cukup kecewa (di sini jiwa psikopat dimulai). Saya juga berharap ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap. Entah itu siapa mengkhianati siapa, atau siapa menyamar jadi siapa, atau siapa membunuh siapa. Tapi ternyata harapan saya harus musnah seperti butiran debu. Penyusupan Lady Jaye untuk mendapatkan sampel rambut Zartan in disguise terlalu biasa. Penyelamatan presiden oleh Joe, rasanya, terlalu mudah untuk ukuran pasukan pertahanan (yang katanya) paling hebat di dunia. Terbukanya rahasia Storm Shadow pun terasa ‘kurang’. Mungkin karena memang Storm Shadow bukan inti dari film ini. Ya tapi kan kasihan Lee Byung Hun yang udah jauh-jauh terbang dari Korea Selatan…😥 *dilindes buldozer Roadblock*

Witty conversations, tremendous amunitions, gorgeous Bruce Willis and Lee Byung Hun; adalah kombinasi yang pas. Saya memberi nilai 3/5 untuk film ini. Meski mungkin pada akhirnya, Presiden US tidak lagi berani mengutak-atik gadgetnya di depan umum (karena takut dikira main Angry Birds), tapi secara keseluruhan, film ini cukup menghibur. Dan endingnya membuat kita (saya, maksudnya) keluar dari bioskop dengan isi kepala, “Yah, mungkin yang ini ndak terlalu spektakuler soalnya Cobra masih hidup.” Tapi kenapa London duluan yang dibom, sih? *peluk @TomFelton*

Sekian review (plus spoiler) G.I. Joe: Retaliation dari saya. Semoga bisa dijadikan sebagai referensi untuk menghabiskan libur panjang akhir minggu ini. Dan ada pesan dari Destro, “Sialan. Nongol cuma bentar. Keliatan muka aja nggak.”

Happy holiday! \o/

***

Probolinggo, March 29th 2013

    • Mas Alifianto
    • March 30th, 2013

    Penggemar film rupanya

  1. First off I would like to say great blog! I had a quick question which I’d like to ask
    if you do not mind. I was curious to find out how you center yourself and clear your head prior to writing.
    I have had difficulty clearing my thoughts in
    getting my ideas out. I do enjoy writing but it just seems like
    the first 10 to 15 minutes tend to be wasted simply just trying to figure out how to begin.
    Any ideas or tips? Kudos!

    • Hi, I surprised reading your comment. Thank you for the compliments. I think we shouldn’t empty the mindset before writing. For me, writing means clearing my mind by exploding all of thoughts in words. Don’t think, just write. Whether it’s good or bad enough, we could learn it later. But obviously, we could’t learn anything if we didn’t start to write at all🙂

    • dr
    • July 26th, 2014

    filmnya kurang ngetwist kak….

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: