[Review] Hujan dan Teduh

hujan teduh

 

Label Juara Pertama 100% Roman Asli Indonesia di cover depannya telah menarik hati saya. Label tersebut telah memberikan keyakinan bahwa novel ini telah melalui masa-masa sulit dan panjang dalam prosesnya hingga terpilih sebagai juara dan naik cetak. Novel terbitan Gagas Media ini telah mengalahkan ribuan naskah yang pasti tidak kalah bagusnya. Jika Winna Efendi sebagai juri mengatakan, “Menyentuh dengan sederhana, real apa adanya, cara bertutur yang tidak rumit, tetapi jujur dan indah,” maka kalimat itu bisa dijadikan sebagai jaminan bahwa novel ini layak untuk dibaca.

Konflik yang diangkat oleh Wulan Dewatra tentang cinta memang tergolong tidak biasa. Biseksual, dan detail konflik lain yang tak kalah menariknya. Novel diawali dengan prolog seorang perempuan yang sedang dilanda demam dan bimbang di sebuah negara yang sedang dihujani salju. Kemudian mengalirlah cerita yang diawali dengan masa SMA seorang Bintang.

Bintang adalah anak perempuan yatim dengan seorang ibu yang sangat protektif dan tidak membiarkan putri semata wayangnya itu hidup susah. Di masa SMA, Bintang pernah mencintai sesama perempuan, Kaila. Tentu saja, cinta pada Kaila pupus dengan akhir yang cukup mengenaskan.

Sedangkan Noval, seorang pria yang pernah mendapatkan lemparan lumpur dari Bintang sehingga mengobarkan bendera perang dingin secara diam-diam, justru menjadi pria pertama yang mendapatkan cinta perempuan itu. Sikap Noval yang cukup manis telah merebut perhatian Bintang. Tanpa ada pertentangan batin mengenai orientasi seksualnya yang dulu pernah menyimpang, Bintang menyerah dan bertekuk lutut di cinta Noval.

Novel ini ditulis dengan alur maju-mundur-maju-mundur. Tapi bahasa dan tutur kata yang indah membuatnya tetap mudah untuk diikuti. Diksi yang dipilih dan pemenggalan kalimat terasa pas. Sehingga bisa dibilang, menamatkan novel setebal 248 halaman ini tidak butuh waktu yang lama.

Namun buat saya, ada banyak hal yang terasa ‘kosong’. Yang pertama adalah tentang pembagian timeline kisah cinta Bintang: SMA dan kuliah. Awalnya saya mengira, ada korelasi inti yang menghubungkan keduanya. Di tengah-tengah saya sempat berharap, ada orang dari masa lalu Bintang yang akan menyelamatkan perempuan putus asa ini dari dilema dan kubangan gundahnya. Tetapi harapan saya tidak muncul hingga halaman terakhir. Masa SMA dan kuliah adalah cerita tersendiri. Tanpa korelasi. Ini sama seperti kita disuguhi salad buah sebagai appetizer seporsi rawon daging. Kurang pas.

Yang kedua adalah karakter Bintang dan konflik batinnya. Mencintai sesama jenis bukanlah hal yang mudah untuk diterima, bahkan untuk diri sendiri. Tapi tidak bagi Bintang. Mulanya saya berpikir, inilah emosi dan gairah remaja. Tidak peduli, yang penting mencintai. Tetapi ketika Noval datang, Bintang juga menyambut dengan hati terbuka. Semudah itukah? Atau Bintang dan Noval disatukan oleh ketertarikan fisik semata? Saya bukan seseorang yang ahli di bidang kejiwaan. Tetapi menerima sikap diri yang bertolak belakang dari masyarakat umum, kemudian melanggarnya lagi, pada umumnya akan menimbulkan letupan-letupan konflik batin atau sosial dan, pastinya, untuk melalui itu, dibutuhkan keberanian.

Terlebih lagi, Noval bukanlah pria sempurna. Bahkan, dengan yakin saya bisa menyebut Noval adalah laki-laki brengsek. Di saat Bintang berada di titik terbawah, dengan hati yang terluka, kecewa dan dikhianati cinta heteroseksualnya, saya pikir, akan ada orang lain yang menjadi pahlawan bagi Bintang. Tetapi kebingungan saya kembali muncul ketika Noval datang secara tiba-tiba dan menjelma menjadi laki-laki sempurna. Ke mana kebrengsekannya itu pergi? Well, sometimes people change. Tapi mengubah sifat yang sudah dibawa sejak lahir bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam beberapa saat saja.

“Bintang Dewatra, kenapa lo bikin semuanya jadi begitu sulit?”

Tidakkah Noval berkaca bahwa dia-lah yang membuat segalanya menjadi rumit? Justru, Bintang membuat segalanya menjadi mudah karena ia adalah perempuan pemaaf yang tidak pernah membiarkan rasa kecewa mengelabui rasa cintanya pada Noval yang berkali-kali membuatnya terluka. Terlepas dari masa lalunya sebagai homoseksual, secara batiniah, Bintang adalah perempuan ideal hehehe.

Bagaimanapun, novel ini menampilkan pesan moral yang cukup kuat dan kompatibel dengan isu pergaulan remaja saat ini. Tema biseksual dan pergaulan bebas memang masih jarang dan sering dianggap tabu. Tapi Wulan Dewatra mampu menuliskannya dengan indah dan enak untuk dinikmati tanpa perlu mengkhawatirkan konten-konten vulgar yang tidak perlu.

Oke. Kepada Mbak Wulan Dewatra, ditunggu karya-karya lainnya ^^

***

Malang, March 24th 2013

    • luckty
    • March 24th, 2013

    ternyata review kita sepemikiran ya,
    kita ‘terebak’ dengan label Juara Pertama 100% Roman Asli Indonesia

    dan ternyata isi review kita sehati, hehe.. :p
    http://luckty.wordpress.com/2013/01/09/review-hujan-dan-teduh/

    • He’eh, Mbak. Kalo baca review di goodreads juga banyak yang sepemikiran hehehe ^^
      Terima kasih sudah mampir :”>

    • luckty
    • March 24th, 2013

    hobi ngereview buku?
    Ayo gabung di Blogger Buku Indonesia:
    Ayahku (Bukan) Pembohong http://t.co/aGk7N3l4No

    ditunggu loh..😉

  1. Review-nya keren! Aku juga udah pernah nulis review novel ini, tapi gak sebagus ini😀 di sini: http://sindyisme.blogspot.com/2013/03/resensi-novel-hujan-dan-teduh-wulan.html *malah promote*😀

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: