So Long, Alor.

Sebulan penyesuaian, dua bulan di puskesmas Kabir, dan sembilan bulan di puskesmas Moru.

Lalu apa yang didapat? Jika bisa, maka pertanyaan ini akan saya skip dan mari kita duduk bersama, berjam-jam, jika perlu hingga senja berganti berpuluh hari dan cangkir kopi kita telah beratus kali diisi.

Setahun yang lalu, nama saya tertera (bersama enam nama lainnya) di laman ropeg sebagai salah satu dokter PTT yang akan ditugaskan ke sebuah kabupaten antah-berantah bernama Alor. Sebuah kepulauan yang sebelumnya, keberadaannya tidak pernah saya ketahui. Tentu saja, kepergian saya di bandara, yang pada saat itu dilepaskan oleh berpuluh pelukan orang tua saya, meninggalkan isak tangis yang cukup dramatis. Selanjutnya, saya akan berada di sebuah lingkungan baru yang sama sekali tidak saya ketahui bagaimana cara menghadapinya.

Saya dan keenam rekan PTT periode April 2012 (@mareretha, @aninouz, @aprilianayu, @Rizki__MD, Ferry Fong dan Ilman), tiba di Alor pada tanggal 5 April 2012. Sesampainya di Alor, kejadian-kejadian unik sudah mulai bermunculan. Mulai dari kamera saku yang mati total karena tercemari air laut Sebanjar sehingga harus dikirim ke Jawa untuk direparasi, drama yang berhubungan dengan penempatan dokter PTT, keracunan massal di sebuah rumah makan Padang dua hari sebelum berangkat ke Kabir, dan peristiwa-peristiwa lain yang saking banyaknya, saya harus menyediakan waktu dan memori khusus untuk menceritakannya kembali.

Kemarin, saya ditanya, “PTT itu enak, ya?” Dan saya sempat terdiam beberapa detik. Enak adalah kata yang subyektif. Dan secara keseluruhan, saya bahagia pernah melalui masa-masa PTT.

Banyak kasus unik yang saya dapatkan selama PTT ini. Mulai dari tangan yang hancur karena tergilas balok es atau tangan yang koyak karena digigit babi, retensio plasenta yang tertunda ditangani karena pustu tidak terjangkau oleh sinyal komunikasi, kasus KDRT yang dianggap wajar, hingga amputasi jari tangan yang terpaksa dilakukan dengan gergaji besi berukuran kecil karena tidak ada perlengkapan yang memadai. Dengan keterbatasan peralatan, listrik, obat dan juga transportasi (terutama ketika saya berada di Kabir), rasanya cukup membuat otak saya bekerja lebih keras dari biasanya agar masyarakat mendapatkan penanganan yang layak.

Belum lagi budaya, kebiasaan dan bahasa yang berbeda yang tentunya harus dipahami. Sakit setengah mati untuk orang Alor adalah sakit cenut-cenut. Nyeri punggung hingga tidak bisa berdiri untuk orang Alor adalah pegel linu yang masih bisa digunakan untuk berkebun. Batuk hingga napas terasa mau habis untuk orang Alor adalah batuk keras yang terjadi tiap kali mereka mengisap rokok. Perbedaan nilai dan rasa antara saya dan warga Alor yang demikian memang cukup memusingkan ketika mendiagnosis dan memberikan terapi. Tapi beruntung ada staf puskesmas yang membantu dan mempermudah pekerjaan saya. Meskipun ritme bekerja kami sangat berbeda, tapi mereka benar-benar membantu saya dan menjadi keluarga di tempat yang asing.

Atas: Bersama staf puskesmas Kabir. Bawah: Bersama staf puskesmas Moru

Atas: Bersama staf puskesmas Kabir. Bawah: Bersama staf puskesmas Moru

 

PTT juga bukan sekadar perkara melatih kemampuan dan keterampilan. Tapi juga tentang persaudaraan. Bahkan kebersamaan itu sudah terasa sebelum saya sampai di Alor. Terima kasih banyak untuk @nugroho_bismo sebagai seksi sibuk sejak mengetahui kami diterima di Alor, mencarikan tempat kos, menjemput ke bandara ketika kami datang ke Alor untuk pertama kali dan menjadi pemandu kami dalam bersosialisasi dan berekreasi. Sukses ya, PakDok untuk residensinya.

Sok kenal, sok dekat. Itulah saya pada @keke_raid. Ketika datang ke Alor, Keke sedang pulang kampung, sehingga sampai di Alor, saya tidak kenal Keke. Bismo menunjukkan beberapa video dan foto Keke sebagai artis Alor (ahem). Dan entah kenapa, saya tergoda untuk menghubungi Keke dan menitip sebuah novel padanya. Rasanya urat malu ssaya abaikan demi bisa membaca novel Partikel yang memang baru diluncurkan ketika kami sudah berangkat ke Alor. Dan setelahnya, banyak moment yang kami lahap bersama. Curhat, masak, jalan-jalan. Terima kasih atas semuanya, Butet. Semoga ujian PPDSnya sukses dan bisa jadi dr. Anike Natalina Sirait, SpB yang keren!

Jauh sebelum datang ke Alor, seorang sahabat sering berkisah tentang seorang dokter gigi dengan banyak bakat. Dan ketika bertemu dengan drg. Puteri Gading, rasanya saya ingin memberikan sebagian lemak padanya. Kurus banget! *ditampol*. Tapi perkataan @si_nu memang benar, Gading adalah perempuan multitalenta. Balet, fotografi, dunia perkopian, ilustrasi dan gambar, bermusik, duh… apa lagi yang Gading tidak bisa? Terima kasih @jinggakecil sudah menyediakan studio foto berkali-kali, membuatkan saya kopi yang enak, meminjami saya alat snorkel dan sebagainya-sebagainya-sebagainya. Sukses ujian PPDSnya!

Ketika awal bertemu di dinas kesehatan provinsi, pertama kali yang terlintas di pikiran saya saat bertemu @mareretha adalah, “Oh… Ini mantan adiknya Odhi.” *pilin-pilin ujung jilbab* Dan selanjutnya, Retha adalah partner in crime selama di Alor. Pintar berdandan dan suka travelling. Pernah takut melihat wajah saya yang tiba-tiba jutek karena kecapekan (hehehe…). Retha sangat serius menulis. Rasanya setiap di kamar, anak ini ngetik terus. Terima kasih, Retha untuk setahun ini. Goodluck untuk proyek novelnya, yah. Semoga jadi dr. Maretha Primariayu, SpKK sekaligus penulis yang sukses!

@aninouz dan @fatimah_hsn adalah dua perempuan yang pernah serumah (dinas) dengan saya. Tidak diragukan lagi, pasti keduanya pernah (atau sering) jadi sasaran kejutekan saya jika bad mood sedang melanda. Sampai sekarang, rasanya masih teringat bagaimana kepanikan saya mencari sinyal untuk posting blog pernah merusak suasana dan meletupkan salah paham. Untuk Anin dan Ifat, terima kasih untuk kerja samanya. Semoga Anin sukses dengan jalan-jalannya, dan Ifat sukses untuk rencana-rencananya.

Kepada @DedyPraja, Bima dan Nyoboy yang mengaku takut dengan kejudesan saya (ahahaha…) semoga dilancarkan semua rencana cita-cita dan cintanya. Semoga di lain kesempatan, Bima kembali bisa menyutradarai pembuatan video klip temu kangen dokter/dokter gigi PTT Alor.

Kepada @pascalia_anna, maaf kemarin tidak sempat pamit langsung. Ayo sekolah lagi! Kepada @aprilianayu, pasti betah di tempat PTT baru hehehe… Goodluck yah. Kepada dokter selebtwit @Rizki__MD, semoga lancar rencana sekolah dan kiash kasihnya (ahem). Kepada @ezradebento, kapan nih jadi direktur rumah sakit? xD

Kepada mbak Gabrielli @GaluhKiting, semoga sukses proyek memakai softlensnya hehehe. Kepada @kaykaira, semangat menjaga Mebung, Kaka. Kepada @drg_ninaricci, ayo segera disahkan sama Fong! Kepada @bangun_lg dan kak @N3NSH3, semangat dalam menjaga Alor yah. Siapa tahu tahun depan ada nama kalian di daftar pejabat Alor x))

Kepada @hewod_87, salut sama PakDok satu ini! Semoga lancar PTTnya dan segera kembali ke keluarga tercinta. Kepada @tichewaaw dan @okarahaditya, semangat di RSB, ya. Mudah-mudahan puskemas Moru segera diisi dokter baru. Kepada @tika_widz dan @ariyoga64, terima kasih sudah sering diajak jalan-jalan dan diajari snorkeling. Mari jalan-jalan ke Bromo! Kepada Mira, Intan, Ferdian, Santoso, Maramis, Novita, dan Desi, baik-baik, ya, kalian di Alor.

Kepada kalian, semua saudara seperjuanganku selama di Alor, setahun atau beberapa bulan bukan waktu singkat yang meniadakan arti kebersamaan. Kalian adalah alasan dan penyemangat setiap kali saya merasa jenuh atau bosan. Saya mohon maaf atas segala hal yang pernah bersinggungan dan tidak menyenangkan. Semoga persaudaraan kita tidak berhenti pada ucapan selamat tinggal.

Dokter dan dokter gigi PTT Alor

Dokter dan dokter gigi PTT Alor

Banyak orang menganggap PTT adalah pengabdian. Tapi buat saya, PTT lebih dari pengabdian. Ini adalah tantangan untuk diri sendiri. Jika dilihat dengan hitung-hitungan ala pedagang, dengan jam pekerjaan yang cukup santai dan pendapatan yang besar, PTT adalah pekerjaan yang menjanjikan. Bisa jadi, PTT adalah zona nyaman baru. Tapi bagaimana pun, banyak hal yang tidak bisa dihitung. Semua itu tergantung pada apa tujuan yang ingin dicapai dengan berangkat PTT. Selembar surat SMB, pengalaman, tantangan, gaji, jalan-jalan, atau jodoh (lalu terdengar lagu We Found Love-nya Rihanna. Ahem). Salah satunya bisa kita dapat. Dan saya jamin, yang lainnya bisa juga didapat sebagai bonus. Maka, bagi dokter-dokter yang baru lulus, berangkatlah PTT. Nikmati petualangan di tanah yang asing. Dan temukan semua hal yang tidak didapat di ranah kelahiranmu. Saya? Yang saya dapat? Yah, intinya, yang terakhir itu sepertinya sulit sih (,___, )7 *mendadak curcol*

So long, Alor. Terima kasih atas satu tahun yang menakjubkan. Till we meet again :*

***

Probolinggo, Maret 2013

  1. dapet banyak temen yah dari PTT itu, btw ada bedanya gak antara PTT sama ko as? maklum #awam

    • Koko Pratama
    • March 18th, 2013

    wow engga terasa yah cil udh setahun aja disana, perasaan baru kemarin pindah ke alor … sukses terus yah cil ^^

    • Iya nih, pacar-nya orang. Diriku kembali ke peradaban. The Sims! x))
      makasih ya ^^

    • ataplaut
    • March 20th, 2013

    selamat jalan ya @noichil
    tunggu kami ya di bromo🙂

  2. aduuuh … saya pengen >.<

  3. Envy😀

    • aly
    • September 9th, 2015

    Sebuah pengalaman hίďuρ yg akan tersimpan dalam memory… #terharu😦

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: