Selamat Berwisuda, Ibu Bidan

Matahari belum selesai berjalan-jalan di belahan dunia lain. Langit masih gelap. Bahkan adzan shubuh belum berkumandang. Tapi Bapak dan saya sudah bangun dan bersiap. Jam lima pagi, kami harus sudah berangkat ke Surabaya. Ibu, yang lebih dulu ke Surabaya bersama rekan-rekan seperjuangannya hari Jumat kemarin, sudah menunggu.

Semua orang harus tahu. Hari ini adalah hari istimewa. Ibu akan diwisuda.

Ibu adalah seorang bidan yang (ketika itu) setara dengan SMA. Sebenarnya, semangat sekolah Ibu selalu berkobar. Tapi Ibu tidak meneruskan pendidikannya karena harus membantu Mbah Putri membiayai kelima adiknya hingga jadi sarjana. Meski demikian, Ibu tidak pernah berhenti memberikan semangat bagi orang-orang di sekitarnya untuk menuntut ilmu. Ibulah yang memaksa Bapak untuk kuliah S1 dan S2. Ibu juga memotivasi kakak perempuan saya untuk melanjutkan pendidikan ke strata dua setelah menyandang gelar SH. Dan saya… (tiba-tiba lupa ingatan).

Bagi Ibu, pendidikan tinggi adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya sekadar bangku sekolah atau buku-buku yang tebal, Ibu mencintai kehebatan ilmu. Ilmu bisa menaikkan derajat pemiliknya. Ilmu bisa menjadi harta yang tidak akan hanyut oleh banjir atau hangus karena terbakar api. Ilmu adalah sahabat di tempat paling asing. Ilmu adalah mata uang yang diterima di belahan bumi bagian mana pun.

Ibu selalu berkata pada anak-anaknya bahwa tidak ada hal yang kekal. Tapi ilmu adalah salah satunya. Dulu, Qinoy kecil pernah merengek-rengek pada Ibu. Kala itu, saya ingin sekali dibelikan mainan hewan peliharaan bernama Tamagotchi yang sedang populer. Dengan kondisi keuangan yang tidak berlebihan, tentu saja Ibu tidak meluluskan permintaan saya. “Uangnya ditabung untuk sekolah saja, ya. Biar Nina bisa sekolah tinggi dan bisa beli mainan yang lebih bagus dari yang sekarang diminta,” kata Ibu. Tidak hanya mainan hewan peliharaan, tapi juga semua hal-hal yang pastinya menggiurkan untuk anak-anak dan remaja. Ibu mengatakan hal yang sama.

Saya tidak pernah tahu, apakah kalimat itu benar-benar berarti demikian atau memang Ibu sedang tidak punya uang. Tapi pada akhirnya, saya menyadari bahwa tidak memiliki semua itu bukanlah hal penting. Bukan standar pergaulan yang harus dipenuhi. Dan Ibu selalu berkata, ilmu adalah warisan yang tidak akan pernah habis. Seandainya Ibu tidak ada, maka ilmu adalah pelindung bagi kami.

Ibu selalu menguatkan saya. Baik ketika saya mengalami penurunan semangat ketika menghadapi SPMB, atau sewaktu saya mulai menyerah mengerjakan tugas akhir yang seakan tak berujung, atau saat saya merasa jenuh dengan aktivitas kepaniteraan klinik. Ibu tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih atau khawatir. Saat saya harus jaga di rumah sakit selama 48 jam dan terdengar kelelahan di saluran telepon, Ibu tidak pernah memberikan ruang untuk saya merasa bahwa orang tua mengasihani saya. Ibu berkata, menjadi sukses dan berhasil itu tidak mudah. Seseorang harus bisa belajar menghadapi kesulitan-kesulitan. Ibu percaya, anak perempuannya bisa. Hingga sekarang, Ibu selalu membangkitkan kepercayaan diri saya untuk segera sekolah lagi (meski sebenarnya masih belum move on dari kegagalan yang lalu :p ).

Tahun 2007, Ibu pernah mencoba ujian untuk sekolah penyetaraan D3. Tapi gagal. Rupanya bagi seseorang yang semangat sekolahnya tak pernah padam, kegagalan cukup membuat Ibu patah hati. Di masa-masa ini, giliran kami yang memberikan dukungan agar Ibu mau mencoba lagi.

Sampai pada akhirnya, keluarlah peraturan baru bahwa untuk memperoleh ijin sebagai bidan praktek, seorang bidan haruslah lulusan D3. Mau tidak mau, Ibu harus sekolah. Dan sejak tahun 2010, Ibu memulai pendidikan D3-nya.

Mahasiswa angkatan veteran seperti Ibu menjalani perkuliahan setiap akhir minggu. Sabtu selepas shubuh, Ibu pergi ke Surabaya dengan bis. Lalu pulang di hari Minggu sorenya. Mengawali masa-masa kuliah bagi Ibu yang sudah nenek-nenek bukan perkara yang mudah. Ibu sempat kebingungan bagaimana mencari sumber literatur atau menyusun daftar pustaka. Tapi satu hal yang saya kagumi, Ibu belajar dengan cepat. Ibu tampak bahagia ketika membaca dan belajar hal-hal baru yang tiga puluh tahun yang lalu belum diterimanya. Dan semua itu langsung diaplikasikan pada ruang praktek serta segala tetek bengek manajemen pencatatannya.

Kobaran semangat itu ternyata tidak benar-benar padam. Aktivitas kampus yang dijalani sekitar setahun (sisanya digunakan untuk praktek dan penyelesaian Tugas Akhir) tidak pernah menjemukannya. Ibu hanya berpesan, “Doakan Ibu selalu sehat biar lancar sekolahnya.” (Semoga Ibu selalu sehat selama-lamanya.)

Hari ini, Ibu akan resmi menyandang titel baru. Mungkin, ini hanya sekedar formalitas belaka. Atau mungkin, D3 tidak lebih tinggi dari S3 yang sekarang dijalani kakak perempuan saya (ebuset… –“). Tapi bagi saya, pencapaian Ibu hingga ke titik ini jauh lebih tinggi dari itu. Ibu adalah anak tangga yang mengantarkan banyak orang mencapai mimpinya. Ibu adalah api unggun yang memanaskan jiwa-jiwa pejuang yang mulai kelam. Ibu adalah temali yang menguatkan lagi pondasi cita-cita yang berangsur runtuh.

Selamat berwisuda, Ibu Bidan. Semoga ilmunya bermanfaat bagi pencapaian MDG kelima. Dan semoga semangat yang berapi-api itu segera menginfeksi anakmu yang satu ini \o/

image

***

Probolinggo, 16 Maret 2013

    • ummu_syahida
    • March 16th, 2013

    waahh mbk nina mirip sama ibunya,xixixiii. .😀

    • asdar
    • March 16th, 2013

    ^_^ selamat buat ibunya ya dok!!!
    #selalu kagum untuk orang seperti beliau#
    Semoga semangatnya segera tertular…..

    • Terima kasih, PakDok
      Aamiin… semoga saya segera tertular ^^

  1. wah selamat, kakaknya sudah melanjutkan sampai S3? semoga kelak bisa berlanjut mendapatkan gelar akademik, n buat mbak nina semoga tetep semangat mengikuti jejak pembelajar ibunya njih🙂

    • Iya, mbak saya sedang menempuh S3 sekarang
      Aamiin… makasih atas doanya ^^

  2. Titip selamat untuk ibunda ya… api semangatnya semoga menyemangati org2 tersayang di sekitarnya🙂

  3. woohh, kakakmu SH, chil? Samaan kayak aku… :’)
    eniwei, selamat buat Ibumu yakk😀

    • Iyah, mbakku SH, samaan kaya bapak😀
      Makasih, Vanda… :’)

  4. Ninaaa….masih ingat akuu??
    *pelukk peluukk
    lama tak jumpa lewat tulisan ya jeng.. ^^
    salut sekali sama orangtua yang selalu haus akan ilmu seperti itu.
    dan ibumu adalah orang yang hebat =)

    • eh eh eh apa kabaaar? *jejingkrakan*
      udah jadi ibu ya sekarang? :’)
      ah, Uul… kangen :”)))

  1. December 31st, 2013

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: