[BeraniCerita #02] Cinta Tak Bisa Menunggu

image

Pandu menjalani pagi dengan gairah yang membumbung tinggi. Senyumnya yang dipenuhi keyakinan mengembang tanpa henti. Meski butiran peluh membanjiri kening dan tubuhnya, ia tidak peduli. Rasanya, matahari yang terik tidak mampu menandingi semangatnya yang berapi-api.

Ujian akhir semester tinggal hari ini.

Fisika. Pelajaran yang menjadi momok bagi teman-temannya, justru menjadi candu bagi Pandu. Ia mencintai Fisika dengan gaya tariknya tentang dua muatan yang saling berlawanan. Seperti laki-laki dan perempuan. Ia mencintai teori Einstein tentang relativitas, bahwa gravitasi bukanlah sebuah gaya seperti yang dikatakan Newton. Gravitasi adalah konsekuensi dari sebuah sebuah kurva ruang dan waktu. Konsekuensi yang sama yang harus dihadapi Pandu ketika mulai jatuh cinta pada Keira, teman sekelasnya sejak mereka duduk di tahun pertama SMP.

Pandu begitu menggilai Fisika. Sama seperti ia mengagumi Keira. Pandu telah menghabiskan hari-harinya demi memaknai Fisika. Sama seperti beratus-ratus hari yang ia habiskan untuk memahami isi hati seorang anak perempuan yang rambut sepunggungnya selalu dikepang dua.

Hanya dengan mengingat Fisika dan Keira saja, senyum Pandu semakin lebar. Dalam hatinya ia berkata, “Ujian Fisika hari ini tidak boleh gagal. Dan siang nanti, aku tidak boleh menunda waktu lagi. Siang nanti, akan kunyatakan pada Keira bahwa aku telah jatuh hati.”

Pandu melangkah dengan hati riang menuju kelas IX-A. Seperti yang diduga, ia mendapati wajah muram teman-temannya.

Di sebelah Keira, Pandu duduk dan meletakkan tas ranselnya yang berwarna biru. Ia menoleh, berharap Keira akan membalas senyumnya. Tapi Keira terdiam. Matanya sembab.

Keira sedang bersedih. Sepertinya, Keira baru saja menangis. Pandu bertanya-tanya. Apa yang telah menjatuhkan air matanya?

Ibu Tin memasuki kelas. Wali kelas Pandu itu berhenti di depan mejanya dan melihat wajah anak-anak didiknya dengan pandangan yang sama suramnya. Perempuan berusia empat puluhan itu menghela napas panjang. Ia memejamkan mata sebelum akhirnya berbicara, “Ujian ditunda. Hari ini, kita semua akan melayat ke rumah salah seorang teman yang kemarin siang, sudah lebih dulu meninggalkan kita. Kita doakan, semoga Pandu diterima di sisiNya.”

Pandu ternganga dalam duduknya. Tiba-tiba ia merasa lemah. Sekelebatan suara klakson dan decit mobil mulai memenuhi kepalanya. Ia bisa melihat seorang anak laki-laki terpelanting. Kepala dan tubuhnya berdarah-darah. Kelopak matanya memberat. Bayangan kedua orang tuanya yang menangis begitu pilu mengaburkan pandangannya.

“Tidak. Ini tidak adil. Telah kupersiapkan semuanya demi hari ini. Semua yang terbaik. Demi Fisika dan Keira yang sangat kucintai. Mengapa Tuhan tidak mau menunggu barang sehari?”

Di sisa jiwanya yang mulai tiada, Pandu melihat kilat air mata. Keira menangis. Perempuan yang rambutnya dikepang dua itu berduka. Tapi Pandu tidak pernah tahu, bahwa Keira pun menyimpan pertanyaan yang sama.

Keduanya terlambat menyadari. Cinta itu spontan. Cinta tidak butuh persiapan. Cinta itu ada tanpa kenal waktu. Dan cinta tak bisa menunggu.

***

Kalabahi – Alor – NTT
March 10th 2013

  1. sepertinya cinta itu belum sempat diucapkan ya?

  2. Wah keren banget inihh,.. suka

  3. Mbak noichil ini jagoan kalau soal FF😀

    • Waduw… ndak juga sih. Masih belajar terus nih x_X
      Btw, makasih ya ^^

  4. hiks….
    pandu mati….

    • Pandu dibunuh karena saya bingung mau bikin twist apa T.T

  5. Cerita yang mengharukan Noichil. Twistnya cukup ‘kena’. Keep writing yaa😉

  6. Wah keren… jago bener bikin FF mbak… *angkat jempol tinggi2*

  7. wohhh… I’m shock! :O

  8. #mewek
    #speechless

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: