Flight (Review)

image

Sutradara : Robert Zemeckis
Penulis : John Gatins
Genre : Drama
Durasi : 2 jam 18 menit

Film ini dibuka dengan adegan skandal Whip Whitaker –seorang pilot senior yang mengalami kegagalan dalam rumah tangga– dengan salah satu pramugarinya, Trina Marquez. Karena kelewat menikmati waktu berdua semalaman, mereka hampir saja terlambat untuk penerbangan pagi itu. Setelah disuguhi pemandangan salah satu anugerah Tuhan yang luar biasa indah, penonton langsung dikejutkan oleh Whip yang menghirup kokain dengan begitu lihai. Hey, bukankah dia akan menerbangkan pesawat?

Yep. Whip juga ‘terbang’ dalam menerbangkan pesawat. He was high at that time. Tapi tidak ada satupun orang yang menyadari hal ini. Whip begitu percaya diri meskipun cuaca sedang buruk. Bahkan ia mampu menembus kumpulan awan yang menyebabkan turbulensi pesawat sehingga pesawat bisa terbang dengan mulus dan stabil. Semua penumpang bersorak. Whip semakin besar kepala. Dia menambah kadar ‘terbang’ di tubuhnya dengan dua botol kecil vodka.

Tapi kesombongan Whip dipatahkan oleh semesta. Ken Evans, ko-pilot, tidak bisa mengendalikan pesawat. Hentakan pesawat membangunkan Whip yang tertidur di samping Ken. Pesawat menukik ke bawah. Lalu dengan kemampuan sebagai pilot senior, Whip mampu menyelamatkan pesawat dan penumpangnya dengan cara paling heroik. Membalikkan pesawat. Pesawat menghantam menara gereja dan mendarat dengan paksa di sebuah lapangan kosong. Hebat. Dalam kondiai pesawat yang memprihatinkan, hanya ada enam orang yang meninggal, termasuk Trina Marquez. Ken mengalami fraktur di kakinya dan diduga tidak bisa mengemudi pesawat lagi untuk selamanya. Dan di antara sanjungan banyak masyarakat terhadap sikap kepahlawanannya dalam menghadapi kecelakaan pesawat, Whip terancam dituntut dengan tuduhan kelalaian dalam bekerja.

Di sinilah konflik dimulai. Seorang pilot yang diagung-agungkan sebagai pahlawan namun memiliki sisi yang kelam. Whip harus berkelit dan berpura-pura menjadi orang yang ‘bersih’ agar terbebas dari segala tuduhan. Tapi mencandui alkohol membuatnya ahli dalam hal berbohong.

Film ini tidak bercerita tentang ‘terbang’ secara harfiah. Memang, lingkup yang digunakan adalah penerbangan pesawat yang gagal dengan cara yang cukup menegangkan. Tangki bahan bakar yang bocor, kaki yang terjepit di kabin pesawat, kepala yang terjepit di runtuhan tempat duduk. Semua hal itu memberikan kengerian tersendiri bagi orang-orang yang sering menggunakan pesawat sebagai jasa transportasi. Tapi Robert Zemecker sepertinya ingin menunjukkan ‘terbang’ dalam sudut pandang lain. ‘Terbang’ dalam makna konotasi yang sering kita jumpai pada para pecandu.

Whip adalah satu dari milyaran manusia yang tubuhnya telah mengalami adiksi terhadap alkohol. Di film ini, ditunjukkan bahwa seorang pecandu akan kehilangan semuanya. Whip tidak bisa berpikir logis. Ia kehilangan rasa kasih sayang, bahkan terhadap anak dan kekasihnya. Ia hanya berpikir bagaimana caranya agar tidak ada yang bisa merenggut alkohol darinya. Alkohol membuat pecandunya kehilangan semua hal berharga, termasuk diri sendiri. Dan di akhir film, Whip harus memilih. Di antara pikirannya yang masih dipengaruhi alkohol dan kokain, apakah ia akan mempertahankan kotak pandoranya tertutup dan mengorbankan nama baik Trina. Atau ia harus jujur dan menjalani hidup yang menyedihkan.

Akting Denzel Washington memang sudah tidak perlu diragukan. Keren. Bahkan cara dia gagap karena gugup atau ketika sedang ‘mabuk’ pun terasa nyata. Saya curiga, jangan-jangan Denzel pernah kecanduan kokain. Cara menghirupnya jago banget! Kekurangan Denzel cuma satu sih. Beliau sudah tidak secakep dulu… *mulai lost focus* *lagi pula, namanya pecandu, mau dibikin secakep apa sih…* Sayang sekali Denzel tidak menang sebagai Best Actor di Academy Awards 2013.

Untuk score atau soundtrack, saya tidak terlalu memperhatikan. Sepanjang film, saya lebih sibuk membayangkan betapa menyedihkannya kehidupan orang-orang pecandu alkohol dan/atau kokain. Tapi ada selingan yang unik di film ini. Entah hanya perasaan atau memang demikian, nuansa religi begitu terasa. Berkali-kali kita akan menemukan percakapan tentang pencarian Tuhan terhadap hal-hal buruk yang terjadi. Apakah Tuhan yang menciptakan ‘bencana’ itu benar-benar ada dan bisa disebut Tuhan? Atau apakah Tuhan yang didengung-dengungkan pasti menciptakan jalan terbaik justru menganugerahkan penyakit mematikan bagi manusia? Renungan di antara percakapan tersebut cukup ‘tricky’, bisa memberikan persepsi yang berbeda bagi setiap orang. Well, khas Amerika ya hehehe ^^

Secara keseluruhan, film ini memang layak mendapat mendapat rating 7.3/10 di IMDb dan 78% tomat segar serta 77% popcorn di RottenTomatoes.

Ah iya. Di antara kesuraman berbau alkohol di film ini, ada quote yang cukup mencerahkan. Quote ini diucapkan oleh seorang penderita fibromyxoid sarcoma di adegan pertemuan Whip dengan kekasihnya, Nicole, untuk pertama kali di tangga darurat rumah sakit. He said, “Every morning is special now. I’m grateful for that. I wish I could bounce them the feeling that I have. About how beautiful the last breath in life is.” (Maaf jika ada kata yang salah. terutama bagian ‘bounce’. Listening saya memang cukup buruk.)

Sekian review dari saya. Selamat menonton ^^,

***

Kalabahi – Alor – NTT
February 27th 2013

  1. Belum pernah nonton yang ini, penasaran sama gimana Denzel meranin sosok Whip itu, soalnya klo yang main Denzel, karakternya keliatan natural dan kuat mempengaruhi jalannya cerita

    • Boelatuk
    • March 9th, 2013

    iya keren ni pelemnya..😀,
    strugling w/ lies.. >,<

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: