Sempat Melayani Hatimu

Sempat kau berharap kau tak harus pergi
Sempat kau katakan kau rindu padaku

Hari Minggu sudah berjalan selama delapan belas jam. Dan makan malam istimewa masih belum sepenuhnya kuselesaikan. Sedikit lagi. Tersisa seekor ayam berlumur bumbu taliwang yang belum dipanggang. Sedangkan plecing kangkung sudah siap di meja makan. Dan puding mangga tinggal mengeluarkan dari lemari es saja.

Ini memang akhir bulan. Tapi sengaja kulonggarkan pengeluaran demi menyambut belahan jiwa yang sudah pergi selama tiga puluh hari. Ia adalah lelaki istimewa. Maka setidaknya, masakan yang tidak biasa ini bisa menunjukkan betapa selama tiga puluh hari ini aku merindukannya.

Sudah seminggu ini rasanya aku tidak bisa tidur. Penantian akan kedatangannya terasa lebih mendebarkan dari biasanya. Tapi bagaimanapun, senyum tak bisa lepas dari bibirku. Sudah kubayangkan malam-malam yang akan kami lewati untuk menikmati rindu yang sudah tertumpuk sekian lama.

Sempat saling berdekapan dan menghangatkan
Menyaksikan malam penuh bintang

Kumasukkan ayam yang sudah berlumur bumbu ke dalam panggangan. Kubersihkan jejak-jejak minyak dan kotoran bekas memasak dengan cepat. Lalu aku mandi dan mengenakan pakaian terbaik yang kupunya. Malam ini harus sempurna.

Berkali-kali aku mencuri pandang pada jam tangan. Pukul tujuh malam. Seharusnya, dua jam lagi ia sudah mendarat di bandara. Dadaku sesak oleh rasa bahagia. Kerinduan ini sudah semakin membabi-buta.

Sempat kunikmati kecupan senyummu
Sempat kuresapi redupnya matamu

Tiba-tiba, tayangan kartun di televisi berhenti dan digantikan oleh tayangan headline news. Seorang penyiar lelaki mengucapkan selamat malam dengan wajah muram. Dan mendadak, aura di ruang keluarga ini begitu menyesakkan. Perhatianku kini telah tertuju pada layar televisi yang sebelumnya kuabaikan.

“Telah terjadi kecelakaan pesawat Airbus A330-300 ketika hendak mendarat di lanud Halim Perdanakusuma. Kecelakaan pesawat ini menyebabkan seluruh penumpang yang berjumlah 98 orang dan 12 awak meninggal dunia. Penumpang pesawat yang merupakan Kontingen Garuda ini baru saja menyelesaikan misi di Lebanon…”

Suara penyiar itu menjauh perlahan.

Rasanya jantungku berhenti. Melihat badan pesawat yang sudah hancur tak berbentuk itu membuat air mataku mengalir tanpa kusadari. Dan rasanya aku tidak sanggup membaca nama-nama korban yang telah terpampang di layar kaca.

Ini tidak benar. Ini pasti tidak benar.

“Kolonel Arga Bimantara. Bu, itu seperti nama Bapak…”

Anak lelakiku yang masih berusia tujuh tahun itu bimbang memandang ibunya yang sangat berduka. Ia menanti jawaban. Tapi suara Dirga tenggelam. Seperti jiwaku yang ikut terbenam bersama kekasih yang telah tiada.

Sempat saling mendengarkan ombak bersuara
Dan kita berkhayal keliling dunia
Dan sempat kumelayani hatimu

***

Sempat Melayani Hatimu – Titi DJ
Kalabahi – Alor – NTT
February 24th 2013

  1. Ihh, aku mau puding mangganya! *gagal fokus*

  2. kalimat bernuansa kerinduan n penggambaran suasana latar tokohnya detail, sementara imajinasi tergiring kesana, pembaca gak bakal menebak klo berending musibah🙂

    • Sebenarnya dari lagu udah ketebak kalo sad ending hehehe
      Makasih sudah baca yah ^^

      • waduh dimaafkeun lha wong gak pernah denger lagunya je😀

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: