Enam Tiga Puluh

I don’t wanna hurt him anymore
I don’t wanna take away his life

Tubuhku telah basah oleh keringat. Napasku memendek. Terdengar desakan di setiap hela napas. Disertai beribu doa yang tak henti kulantunkan di dalamnya.

Aku menoleh pada alat elektrokardiogram. Still asystole. Damn!

“Epi 1 mg!” teriakku, sambil terus mengerahkan seluruh tenaga untuk membuat jantung Tn. Arta berdenyut kembali.

Seorang sejawat memasukkan epinefrin melalui plug yang terpasang. Tangannya gemetar. Sama seperti tanganku yang mulai tidak konstan melakukan pijat jantung ini.

Dokter Aulia, seniorku, menepuk pundakku yang mulai pegal karena melakukan resusitasi dalam waktu yang cukup lama, “Ifa, hentikan. Ini sudah lebih dari tiga puluh menit. Umumkan saja.”

Tapi aku menggeleng dengan kuat. Selama ini, aku tidak pernah kehilangan satu pasienpun. Aku tidak ingin kehilangan Tn. Arta. Dan tidak akan pernah.

“Ifa. Ini perintah! Make a call!” Tapi aku tetap terdiam. Kuabaikan perintah seniorku itu. Kutahan air mata yang siap tertumpah.

If you don’t wanna make a call, then I will!

Sedetik, dua detik, ruangan UGD hanya dihiasi suara mesin elektrokardiogram yang berdengung begitu lantang.

“Saya, dr. Aulia, mewakili dr. Ifana. Telah meninggal dunia, Tn. Arta Wijaya, Sabtu, 16 Februari 2013 pukul 06.30 Waktu Indonesia Tengah.”

Keheningan telah pecah. Dokter Aulia kembali menggengam lenganku sebagai perintah. Dan aku, terkesiap tanpa kata. Tanpa memedulikan tubuh yang lelah.

Gerakan tubuhku terhenti. Membeku memandangi dada yang tidak bergerak karena sumbatan di pembuluh darah koronernya. Mematung di atas tubuh Tn. Arta yang jantungnya telah berhenti berdenyut sejak lebih dari setengah jam yang lalu.

Pertahananku runtuh. Untuk pertama kalinya, kau harus menghadapi kematian pasienku sendiri. Rasanya jantungku ikut mati. Bahkan dr. Aulia harus membantuku untuk bangkit dan menegakkan diri.

I don’t wanna be
A murderer

“Jangan salahkan dirimu, Fa. Kamu sudah berusaha. Jangan salahkan dirimu,” ujar dr. Aulia sambil memeluk pundakku.

Tapi air mataku sudah jatuh. Membanjiri penyesalan yang akan kubawa sampai kapanpun. Rasa bersalah dan berdosa menyergap nurani. Seharusnya aku bisa lebih memaksanya untuk tetap tinggal di rumah sakit. Bukan malah menyodorkan surat penolakan perawatan. Seharusnya aku lebih gigih. Seharusnya…

***

Unfaithful – Rihanna
Kalabahi – Alor – NTT
February 16th 2013

  1. mati jam stgh tujuh…
    hem…
    sukses buat GAnya😀

    • mia melinda
    • February 16th, 2013

    Cerita yg megingatkan kembali satu memori buruk saat jadi dr jaga ugd 10 th yg lalu, satu pasien
    meninggal…sampai sekarang masih menyesal dan blm bisa memaafkan diriku sendiri….nice story…thanx

    • Iya, Dok. Pengalaman saya sama pasien anak. Liat ibunya meraung2 gitu rasanya ikut sedih😦

  2. i feel this! so far, this is your BEST, Chil!

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: