Lelaki Berbaju Koko

Tiap jumat siang, aku selalu datang ke sini. Sebuah sudut di belakang gedung kampus yang sama sekali tidak rindang, tapi banyak orang yang datang. Mereka semua mengerumuni sebuah gerobak bakso yang nangkring di dekat sebuah pos satpam. Kami menyebutnya bakyur, bakso sayur.

Sebenarnya bakso ini biasa saja. Bakyur atau bakso sayur bukan berarti karena baksonya terbuat dari sayur. Tapi pembeli diperbolehkan mengambil sayur sebanyak-banyaknya. Sayurnya hanya sawi dan daun kol. Plus mie kuning dan bihun bening. Dengan harga murah meriah, pantas saja gerobak bakso ini selalu laris dan dikerumuni pembeli yang rata-rata adalah mahasiswa. Seperti aku, contohnya.

Dan siang ini, kembali aku menempati sebuah sudut di depan pos satpam. Lengkap dengan semangkok bakyur di tangan dan segelas es degan di sampingku. Tapi ritual jumat siang ini belum usai. Mataku mencari-cari sesosok pria yang pasti datang juga.

Aku melirik jam tangan. Seharusnya beberapa saat lagi, ia datang. Sambil mengunyah sepotong bakso, aku memerhatikan ujung jalan di depanku. Mataku awas, menanti kedatangannya.

Nah. Itu dia.

Tiba-tiba duniaku berjalan begitu lambat. Otakku sibuk menyimpan sebuah video indah yang tengah dimainkan semesta. Laki-laki itu tampak tampan dengan baju koko warna biru langit dan celana kain berwarna hitam. Ditambah sandal gunung yang sepertinya sudah lapuk. Di tangan kiri, ia menggenggam sebuah peci hitam.

Kami berhadapan selama beberapa detik. Ia menyunggingkan senyum padaku yang berwajah dungu karena terlalu jelas telah terpesona padanya. Kubalas senyumnya dengan canggung, lalu buru-buru menundukkan muka dan berpura-pura menikmati bakso yang tinggal dua. Sial. Aku malu sekali.

Aku berusaha merapikan lagi puing-puing hati yang sempat kocar-kacir karena senyum lelaki berbaju koko tadi. Dan kuteguk es degan dengan cepat untuk mendinginkan perasaan yang membara. Ah picisan sekali. Tapi bukankah perempuan yang jatuh cinta selalu begitu?

Semangkok bakso dan segelas es degan telah kutuntaskan. Begitu juga dengan rasa rindu yang mengendap selama seminggu. Bertemu dalam beberapa detik saja rasanya sudah cukup. Kini saatnya aku harus kembali ke kampus dan menjalani dua jam kuliah yang aku tahu, pasti akan sangat membosankan.

Aku berjalan ke arah gerobak bakso dan menemui bapak penjual bakyur, “Berapa, Pak?”

“Yang biasa, Mbak? Lima ribu,” jawabnya.

See? Murah meriah. Lima butir bakso daging dan sayur yang melimpah dihargai lima ribu saja. Bahkan segelas es degan saja harganya tiga ribu rupiah.

Aku melirik sekilas si lelaki baju koko yang tengah menambahkan kuah pada mangkok baksonya yang isinya menjulang. Mata kami bertemu kembali. Kulemparkan sebaris senyum dan berbalik. Pergi.

Tapi lima langkahku terhenti ketika ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku berbalik lagi, dan mendapati lelaki berbaju koko itu berdiri di depanku, beserta semangkok bakyur di tangan kirinya.

“Mbak, boleh minta nomor hape? Atau alamat? Ada yang mau kukembalikan,” tanyanya sambil merogoh saku dengan tangan kanan dan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam sana.

Jangan tanya bagaimana perasaanku. Tentu saja senang karena telah diajak bicara dan bingung tentang apa yang telah dibawanya. Tanganku kebas. Kakiku lemas. Mungkin beberapa menit lagi, aku sudah tidak sanggup berdiri.

“Eng … emang apa yang harus dikembaliin?” tanyaku.

Saat ini sinaps-sinaps di otakku sedang memutar seluruh adegan seri televisi dimana pemeran utamanya bisa menjalin cinta hanya karena barang yang ketinggalan. Apa aku perlu pura-pura terjatuh sekarang agar lelaki baju koko ini menangkapku dengan kedua tangannya? Ah, terlalu berisiko. Kuah bakyur itu panas sekali.

Lelaki berbaju koko itu salah tingkah. Senyumnya canggung. Pipinya memerah, “Senyum kamu. Selama berhari-hari sudah bergentayangan di kamarku. Di kosku. Di mana saja.”

Sekarang, boleh kuminta iklan dulu?

Rasanya aku mau pingsan.

***

Kalabahi – Alor – NTT
February 15th 2013

PS: Penulis lagi kangen sama bakyur di belakang Universitas Negeri Malang. Aaak!

  1. this is SWEET, chil!😀

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: