Malaikat Juga Tahu

Minggu pagi ini begitu cerah. Matahari benar-benar melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Embun di pucuk-pucuk daun mangga masih tersisa. Menyatu dengan harapan dan doa. Manusia duduk melingkari sebuah meja. Mereka semua menyimpan sejumput rasa penasaran akan seorang gadis yang dinanti kehadirannya.

Itu dia.

Gadis yang selama ini kulindungi dengan segenap jiwa dan raga. Gadis yang kucintai di atas segalanya. Ia sungguh cantik dengan balutan kebaya berwarna putih. Sanggulnya tidak terlalu tinggi, tapi terlihat begitu tepat di kepalanya. Riasan wajahnya tidak terlalu tebal, tapi senyum dan matanya sudah cukup berbicara. Lewat senyumnya, ia menyampaikan sebuah pesan padaku. Hari ini, ia bahagia.

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu, bahagiaku pasti

Tidak ada hal lain yang kuinginkan selain kebahagiaannya. Tapi seiring dengan langkahnya yang sedikit terganggu oleh lilitan jarik batik Jawa, dadaku terasa sesak. Aku teringat seluruh pertikaian dan perdebatan yang selama ini seakan tak bisa sirna. Antara dia yang memiliki kehidupan sendiri, dan aku yang hidup untuknya.

Kami terlalu sulit mencapai kata sepakat. Aku sulit menerima dia yang keras kepala. Dia sulit menerima kata-kataku dan menganggapnya sebagai penjara.

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan

Napasku memberat. Aku berdoa agar jantungku tidak kelelahan berdenyut begitu cepat. Pagi ini, tubuhku dibebani perasaan haru dan hati yang berkata agar aku bisa menahan air mata. Sesungguhnya, aku ingin melindunginya lebih lama.

Tangan kananku berjabat dengan pria yang duduk nyaman di sampingnya. Aku memandang wajah keduanya untuk yang kesekian kali. Berusaha meyakinkan diri bahwa memang inilah saatnya untuk melepaskan.

“Saya nikahkan kamu dengan anak kandung saya yang bernama Karmina Larasati dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu juta dua puluh dua ribu tiga belas rupiah, tunai.”

Maka seluruh tanggung jawabku sudah selesai. Gadis kecilku telah kuserahkan pada pria yang kini menjadi suaminya.

Tapi aku tahu ia tahu. Bahwa meskipun sejak detik ini telah ada pria yang selalu menjaganya, tapi aku tidak pernah berhenti untuk melindungi dan mencintainya.

Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Aku yang jadi juaranya

***

Malaikat Juga Tahu – Dewi Lestari
Kalabahi – Alor – NTT
February 10th 2013

 

    • mia melinda
    • February 10th, 2013

    Jempol buat para ayah….

    • Kadang ayah terlalu gengsi utk mengatakan sayang ke anak2nya :’)
      Makasih sudah baca, dr. Mia ^^

  1. berkaca-kaca bacanya mbak😦

  2. terharu ih..

  3. Wow… keren. Good luck ya….

  4. romantis, meskipun ini penyampaian seorang ayah..🙂

    • Romantisme ndak cuma untuk pasangan kekasih😉
      Makasih, Mbak Rochma. Ditunggu kabar baiknya x))) #ngarep

    • ndazhou
    • May 14th, 2013

    aaaah terharu bgt mba.. :’)

    ga kepikiran kalau itu bapaknya..

    karakter si anak kayak aku, keras kepala.. hehe..
    jadi ngebayangin saat2 ku nanti akad *mengkhayal*

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: