Ku Tak Bisa

Pernah berpikir tuk pergi
Dan terlintas tinggalkan kau sendiri

Televisi di depanku masih saja menayangkan perempuan-perempuan bermake-up tebal. Mereka berteriak-teriak dan berlomba-lomba melebarkan mata mereka. Sejenak aku berpikir, betapa capeknya pekerjaan mereka. Orang-orang ini dibayar untuk meluapkan kemarahan. Membayangkannya saja otakku langsung terasa lelah.

Aku melirik jam dinding. Pukul delapan kurang lima belas menit. Seharusnya, lima belas menit lagi aku sudah berada di tempat itu.

“Kapan lagi, Ndro? Kalo nggak pernah nyoba, kamu nggak akan pernah tau gimana enak dan serunya dunia malam.”

Suara Baskoro tadi siang bergaung di kepalaku.

Sesungguhnya, aku penasaran. Sekali-kali, aku ingin pergi ke sebuah tempat yang berudarakan gairah. Sebuah tempat dimana semua napas orang-orang di dalamnya mengejar lonjakan adrenalin dan berburu hasrat yang menggebu. Sesungguhnya, aku penasaran sekali.

“Kamu perlu selingan, Ndro. Istrimu itu kuno sekali. Pendiam dan jarang berdandan. Ayolah … Nanti kukenalin sama cewek-cewek yang oke.”

Aku menoleh dan mendapati Rahma yang tengah asyik merajut sebuah kaos kaki berwarna hijau. Kaos kaki mungil yang ia siapkan untuk bakal anak kedua kami.

Rahma begitu polos. Wajahnya bersih tanpa riasan apapun. Tubuhnya dibalut daster batik yang itu-itu saja. Ia memang pendiam dan penurut. Baskoro bilang, terlalu penurut. Baskoro bilang, istriku adalah tipe perempuan yang membosankan.

Ponselku bergetar. Nama Baskoro tertera di layarnya. Mataku menatap ponsel dengan ragu. Egoku sebagai laki-laki sangat ingin untuk pergi.

“Mas, katanya jam delapan ada makan malam sama klien? Kok belum siap-siap?” tiba-tiba Rahma menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh dan memandang matanya. Bening tanpa curiga.

“Eh iya … Aku hampir lupa,” jawabku.

“Itu hapemu getar-getar terus, Mas. Jangan-jangan kamu sudah telat. Buruan berangkat. Kusiapin kemejamu, ya …” kata Rahma. Ia meletakkan rajutan kaos kaki yang belum selesai dan beranjak menuju kamar kami.

Ponselku bergetar lagi. Kebimbangan itu datang lagi. Kali ini ada yang berteriak-teriak di dalam hati. Suaranya begitu kecil, sehingga butuh konsentrasi untuk menangkap maksudnya.

Aku beranjak dan menuju kamar. Kudapati Rahma sedang menyiapkan kemeja, celana panjang dan sepatu untukku. Tubuhnya yang sedang mengandung lima bulan itu tetap cekatan.

Tiba-tiba kenangan sepuluh tahun terakhir menjelma menjadi bayang-bayang di depan mata. Aku meminangnya karena cinta. Hanya bermodalkan cinta. Belum ada rumah atau tabungan. Kami berdua menaklukkan cobaan dan tantangan dengan jalan yang terseok-seok. Tapi kami saling menopang. Dan Rahma tidak pernah mengeluh atau mengungkapkan betapa sebenarnya memulai hidup berdua denganku telah membuatnya begitu merana.

Aku dan Rahma layaknya baju yang menutupi kekurangan satu sama lain, dan perhiasan yang berharga bagi satu sama lain.

Aku berjalan mendekat istriku. Menimbang-nimbang ponsel yang sedari tadi tidak berhenti bergetar, lalu menekan tombol merahnya. Kudekap Rahma dari belakang. Kurasakan ia terkejut dengan sikapku yang tidak biasanya.

“Bajumu sudah siap, Mas,” ujarnya dengan suara yang lirih.

Aku tersenyum.

Kadang-kadang, kita harus berjalan dan mendekatkan diri pada hati kecil diri sendiri agar bisa memahami apa yang ia katakan. Kukecup pipi Rahma yang wangi bedak bayi, “Baskoro bilang, makan malamnya dibatalkan. Dan mumpung si mbarep sudah tidur, aku ingin malam mingguan sama kamu aja.”

Ku tak bisa jauh
Jauh darimu

***

Ku Tak Bisa – Slank
Kalabahi – Alor – NTT
February 6th 2013

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: