Antara MTV, Hyun Bin dan Kamis Sore Yang Menakutkan

Kamis, 31 Januari 2013. Kamis pagi cukup cerah dan tidak terlalu melelahkan. Pasien di puskesmas Moru tidak sebanyak biasanya. Bahkan kami, tiga dokter puskesmas Moru, sempat berbagi cerita tentang novel dan film. Meski ada satu waktu dimana obrolan kami terinterupsi seorang pasien dengan TB paru yang telah mengalami drop out OAT sebanyak dua kali.

Jam sebelas siang, kami beranjak meninggalkan puskesmas. Ifat dan Nina (Ricci) pergi ke kota Kalabahi untuk sebuah urusan. Sedangkan saya tetap tinggal di rumah dinas dan bersantai. Beginilah kegiatan dokter PTT. Tampak begitu santai dengan jam kerja (resmi) yang pendek. Jam sebelas siang sudah berada di rumah. Tetapi sesungguhnya, di luar jam itu, kami diwajibkan siap untuk melayani pasien dengan kondisi gawat dan darurat.

Tapi mulai dari paragraf ini, cerita ini tidak berjalan setenang Kamis di pagi hari. Cerita ini akan membawa kita pada jabaran yang cukup panjang (atau karena cara penyampaian saya yang sedikit lebay). Maka siapkan cemilan dan minuman ringan sebagai pendamping. Jangan lupa, bagi-bagi pada mereka yang belum gajian :”(

Sekitar jam setengah satu siang, Irma Boling, nona yang tinggal bersama kami, pergi ke desa Boteng untuk mengambil sirih yang akan dijual di pasar. Irma adalah nona asli Alor yang selama ini membantu dokter-dokter PTT di Moru. Termasuk kami. Anaknya lucu, sering meledak-ledak ketika berbicara tapi pintar memasak.

Setelah kepergian Irma, saya sendirian di rumah dinas. Segera saya kunci semua pintu dan jendela, sambil mengecek apakah masih ada keributan di teras rumah. Dan benar saja, segerombolan anak muda masih nongkrong di teras sambil makan kacang, tapi tanpa nongkrongin MTV (yakalik). Sebenarnya keberadaan mereka cukup mengganggu. Karena selain kongkow dan makan kacang, mereka tidak segan minum sopi atau jenis alkohol lain sehingga mabuk di sekitar area rumah dinas dokter dan puskesmas. Tapi keluhan seperti ini, hanya dianggap angin lalu oleh pihak puskesmas.

Pernah sekali, Irma menegur mereka ketika berbuat demikian. Tetapi yang didapat adalah ancaman, “Awas saja eee. Kalo sebentar malam kita ada mabuk, kita lempar ini rumah!” Dan mereka membuktikan ancaman itu. Atap rumah dinas dilempar pada malam harinya, tepat saat kita memasuki sudah rumah setelah menjahit luka seorang remaja yang robek karena terkena kayu. Kejadian itu juga telah kami sampaikan kepada staf puskesmas, tetapi tindak lanjtunya nol besar. Jadilah kami menahan-nahankan diri mendengarkan mereka berteriak-teriak, mengumpat atau menggebrak dinding rumah dinas.

Lalu apa kegiatan saya ketika sendirian seperti Kamis siang itu? Ya apalagi jika bukan nonton TV. Siang itu, RCTI sedang memutar ulang tayangan audisi X-Factor Indonesia. Kebetulan sekali, saya memang belum pernah nonton acara ini (iya, saya kasian banget). Taufik Hidayat dari Ternate ini suaranya unik, jilbab membuat Rossa semakin cantik, dan kenapa Anggun hanya titip nama sebagai juri?

Ah entahlah. Yang jelas, tidak beberapa lama saya menikmati acara ini, tiba-tiba saya mendengar suara teriakan yang saling bersahut dari luar rumah. Waktu itu sekitar pukul setengah tiga sore. Saya mengintip dari balik jendela depan. Yang terlihat adalah dua motor yang salah satunya berwarna kuning, terparkir manis tepat di depan pintu rumah, seorang anak yang kira-kira berusia sepuluh tahun bermain-main dengan pagar besi puskesmas, dan anak muda yang tadi bergerombol di teras kini berkeliaran di jalan aspal dengan gerakan yang mulai sempoyongan. Saya tidak bisa memastikan, tapi mengingat kebiasaan anak muda Moru, kemungkinan besar mereka sedang dalam keadaan mabuk. Saya hanya berdoa di dalam hati, semoga tidak ada baku pukul atau kekerasan lain.

Tidak lama setelah itu, saya tertidur di depan televisi. Dan bangun pada jam empat sore. Segera saya mengambil air wudhu dan sholat Ashar. Setelah itu, kembali saya mengintip dari balik jendela kamar kondisi di luar rumah. Orang-orang masih ada di luar, berlalu-lalang di jalan. Sesekali teriakan kembali terdengar. “Puki … puki … puki …!!!” begitu bunyinya (jangan ditiru. Puki itu umpatan kasar (tapi ditulis juga di blog (ini kenapa bisa ada tanda kurung di dalam tanda kurung yang berada di dalam tanda kurung? #KurungCeption))).

Saya menutup jendela dengan korden lalu kembali menonton TV. Kali ini adalah serial lama Korea berjudul My Lovely Kim Sam Soon. Ya, sebenarnya saya sudah pernah menonton serial ini. Tapi dulu sekali. Waktu Hyun Bin masih sedikit cupu dengan jas berwarna pink tapi Daniel Henney tetap ganteng.

Di tengah keharuan saya melihat Sam Soon yang diPHPin (lagi) oleh Sam Shik, sekitar pukul setengah lima sore, saya dikagetkan oleh suara debum keras di dinding samping rumah dinas. Keras sekali. Dinding yang saya jadikan sandaran punggung pun ikut bergetar. Rumah ini telah dilempar oleh sesuatu. Kala itu, jantung saya langsung berdetak sangat kencang. Sampai-sampai saya bisa mendengarnya melalui telinga sendiri. Napas saya memberat, seperti tertahan oleh perut yang mulai terasa mulas.

Dan ketakutan menyergap dengan cepat ketika dinding rumah sebelah depan berdebum lagi dua kali. Rumah ini dilempar lagi. lalu suara umpatan puki terdengar lagi, bahkan semakin riuh. Duh Gusti… Jujur, saya tidak pernah setakut ini (well… pernah sih. Ketika itu saya sedang koass interna dan akan mempresentasikan laporan kasus SLE, padahal malam sebelumnya saya jaga di UGD sehingga sama sekali tidak belajar #KhasKoass #CeritaYangKeluarJalur).

Setelah mendengar bunyi lemparan, merasakan tembok rumah yang bergetar dan suara makian dari luar sana, rasanya bingung mau berbuat apa. Dan refleks untuk meminta pertolongan pun seperti mati rasa. Dengan dada yang berdebar, saya mengintip dari balik jendela kamar. Di depan warung bakso, terdapat seorang lelaki di atas motor yang sepertinya ditenangkan oleh beberapa orang. Sedangkan yang lainnya sedang menenangkan seorang lelaki berbaju biru yang berjalan sempoyongan. Lalu lelaki berbaju biru itu berjalan cepat ke arah lelaki di atas motor sambil mengacungkan bogem tangannya. Tapi warga segera melerai. Saya melihat beberapa orang menyeret si lelaki berbaju biru ke tempat yang agak sepi.

Kamis sore di Moru mendadak seperti terjadi peperangan. Umpatan dan teriakan terdengar dari mana-mana. Segera saya mematikan televisi dan listrik, lalu berbaring dan meringkuk di lantai dan memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa (bisa kebayang kan bagaimana #GalauAbis-nya saya). Saya tidak berpikir untuk mengatakan kehebohan ini kepada siapapun, bahkan nyali saya sudah menciut ketika mendengar pintu belakang digedor oleh seseorang. Dalam hati, saya berdoa agar keributan di luar sana segera berakhir dan Ifat atau Irma segera datang. Setidaknya, saya tidak sendirian.

Jam setengah enam, kericuhan sudah berakhir. Tapi saya tetap merasa tidak aman dan ketakutan. Lampu sengaja saya biarkan padam. Saya meringkuk dalam gelap dan sepi, serta memainkan game burung-burung yang marah karena mereka selalu dilempar-lempar ke segala arah. Kalian harus tahu, suara Angry Birds tidak pernah semenyenangkan ini. Hingga pada akhirnya Ifat datang pada jam enam sore. Saya segera menceritakan semuanya.

Usai sholat Maghrib, datanglah tiga orang polisi untuk meminta keterangan kami. Rupanya, Pak Camat telah melapor bahwa ada kejadian pelemparan terhadap rumah dinas dokter. Dan kami berdua kaget ketika melihat dinding rumah yang sudah pecah dan berlubang akibat lemparan batu yang cukup besar sore tadi (tembok rumah bagian depan juga ada yang sudah berlubang karena kejadian yang sama setahun yang lalu. Kaca jendela juga ada yang pecah. Tapi tadi lupa tidak difoto. Kapan-kapan deh ya…).

Sisi samping rumah dinas yang bolong. Pas di bagian kamar mandinya masaaa T.T

Sisi samping rumah dinas yang bolong. Pas di bagian kamar mandinya masaaa T.T

Rasanya perut saya mulas. Kondisi Moru sangat tidak aman. Rasanya ingin segera ke Kalabahi saja. Tapi malam ini, tentu jalan sekitar Moru tidak aman untuk dilalui.

Saya marah, tapi Ifat lebih marah lagi. Ifat sudah hampir dua tahun menjadi dokter PTT di Moru. Tahun lalu, ia mendapat perlakuan yang lebih tidak menyenangkan. Jendela kaca dilempar batu hingga pecah di tengah malam. Tetapi sejak saat itu, tindak lanjut dari pihak puskesmas bisa dibilang tidak ada. Dalih mereka adalah, semua itu terjadi karena anak muda yang sering mabuk. Kampret! Jadi mabuk bisa dijadikan pembenaran? Apakah benar mereka minum minuman keras di sekitar puskesmas, meracau tiada henti dengan suara yang mengganggu dan mendengarkan musik dengan volume sangat kencang hingga dari malam hingga shubuh? Bahkan pernah ketika saya terbangun dan bersin-bersin pada pukul tiga dini hari,  mereka justru menertawakan dan menirukan suara bersin saya dari luar rumah dinas. Menyebalkan, meski sebenarnya lucu juga mendengarkan orang mabuk merasa lucu mendengarkan suara bersin saya yang lucu #LucuCeption.

Akhirnya, Jumat pagi, saya dan Ifat memutuskan untuk tidak melakukan pelayanan di puskesmas dan melaporkan kejadian tidak menyenangkan itu ke polsek setempat. Meskipun saya tahu bahwa hal ini mungkin tidak memberikan banyak perubahan dan sebenarnya bukan wewenang saya untuk melaporkan hal itu secara langsung, karena bagaimanapun lokasi rumah dinas masih di bawah tanggung jawab. Tapi menunggu kepala puskesmas turun tangan rasanya tidak mungkin. Ketika kabar ini sampai pada beliau, beliau hanya berkata (via sms), “Iya, laporkan saja ke polisi agar segera diketahui pelakunya.” Itu saja. Bukan perlindungan atau jaminan keamanan terhadap tenaga medis yang menjadi tanggung jawabnya.

Baru sekali ini saya dan Ifat berada cukup lama di kantor polisi. Pagi tadi, jam setengah sembilan, kantor polsek Alor Barat Daya (Abad) masih sepi. Tetapi salah seorang polisi yang semalam mengunjungi rumah dinas rupanya sudah ada di sana. Beberapa saat kemudian, Kapolsek bergabung dan kami mengobrol tentang kejadian Kamis sore. Mereka berkata, bahwa tidak ada saksi terhadap kejadian pelemparan rumah dinas dokter.

Omong kosong! Mana mungkin tidak ada saksi? Sedangkan sekitar rumah dinas dan puskesmas saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang turut menyaksikan keributan antar remaja yang sedang mabuk. Dalam hati saya membatin, mungkin orang-orang itu takut dijadikan saksi. Mereka takut anak-anak pemabuk itu nekat dan membalas dengan perbuatan yang lebih gila.

Kapolsek keluar dari ruang reskrim. Dan dari dalam ruangan kami mendengar Kapolsek sedang memarahi beberapa orang yang diduga pelaku pelemparan rumah dinas. Polisi yang sedang menerima aduan kami berkata, bahwa sudah ada 8 orang yang dikumpulkan. Ia bertanya, apakah saya sempat melihat atau mengingat wajah orang yang melempari rumah dinas. Tentu saja tidak. Jangankan melihat wajahnya, membuka pintu rumah saja saya tidak berani. Dan di sinilah penyesalan saya muncul. Kesulitan mengingat wajah rupanya sangat penting, terutama untuk kasus-kasus seperti ini. Setidaknya saya bisa mengingat wajah-wajah yang biasa nongkrong di teras rumah dinas, kan. *sigh*

Kapolsek berkata, bahwa ia akan menghukum anak-anak itu hingga mereka mengaku siapa yang melempar rumah kami. Oh well … MANA ADA MALING NGAKU NGELEMPAR RUMAH? Iya, memang tidak akan ada. Maling ngaku maling juga tidak pernah ada (masukkan emoticon rolling eyes di sini. Bukan Rolling in the deep). Apakah kalian semua ingin tahu apa hukuman bagi mereka? minum sopi sampai teler. Ya, silakan berhening ria.

Sama saja dengan maling dikasih berlian, pengguna narkoba dimasukkan ke gudang putaw, atau pencuri hati disuruh kawin. Saya dan Ifat berpandangan. Hukuman macam apa itu? Kami semakin tidak mengerti ketika dengan bangga pak Kapolsek berkata bahwa ia sudah menyediakan 20 L sopi untuk mereka. Astaga… Pak… Jika ada kasus intoksikasi alkohol karena kejadian ini, bukankah kami lagi yang repot? #NangisDarah

Sepulangnya dari kantor polsek, kami segera bergegas kabur ke kota Kalabahi. Kami sudah mengajukan ijin untuk tidak melakukan pelayanan sampai kondisi aman dan ada jaminan keamanan serta penyelesaian dari pihak puskesmas, dinas kesehatan atau kepolisian. Sebenarnya, hal lain yang membuat kami #NangisDarah juga adalah kedelapan orang tersangka (yang sebentar lagi berpesta sopi) itu mengetahui kami melapor ke polisi. Kami tidak tahu, nantinya, apakah mereka akan menuntut balas karena telah menyebabkan mereka berada di kantor polisi, atau justru berbahagia karena di kantor polisi tersebut mereka mendapatkan sopi yang melimpah secara gratis. Iya, rasa takut dan terancam itu tidak otomatis hilang dengan melapor pada polisi. Tapi yang terjadi adalah keparnoan itu semakin tumbuh dan bersarang di mana-mana.

Kami sudah siap mencegat angkot. Tetapi ada kehebohan (lagi) yang terjadi di depan rumah dinas Moru. Muncul Kapolsek sambil memapah seorang remaja pria dengan baju putih yang berlumur darah, “Ibu Dokter, tolong dulu ko …”

Damn. Bagaimanapun, hati nurani tidak bisa dibohongi. Meski sebenarnya saya kesal sekali, tetap saja saya tidak sampai hati melihat anak itu kesakitan. Saya dan Ifat menuju ruang UGD dan melihat luka anak itu. Luka itu disebabkan oleh tusukan pisau. Beruntung lukanya tidak terlalu dalam (dibandingkan luka di hati saya). Kak Billy, seorang perawat yang menemani kami sudah menyuntikkan satu ampul Lidocain sebagai bius lokal sebelum kami menjahit luka itu. Tapi area sekitar luka anak tadi tidak juga mati rasa. Iya, jawabannya adalah karena anak itu baru saja minum sopi. Kampretos, Leee! Sudahlah. Jahit saja.

“Nyong, kalo lu mau minum sopi, jangan beli di luar eee. Datang sa ke puskesmas. Saya kasih ini alkohol 70% buat lu minum sampai puas!”

Saat itu, saya tidak peduli dengan teriakan anak tadi. Karena dia, dan mungkin juga sebagian besar anak-anak Moru lainnya, tidak peduli pada uang orang tua yang mereka gunakan untuk bermabuk ria. Mereka tidak peduli pada harapan orang tua ketika menyekolahkan mereka. Dan mereka tidak peduli pada lingkungan sekitarnya.

Untuk sementara, saya mengungsi di kota Kalabahi dulu. Doakan agar keadaan di Moru segera aman, tentram dan sentosa. Aamiin…

***

Kalabahi – Alor – NTT

February 1st 2013

 

* Sebenarnya ndak ada hubungan antara MTV, Hyun Bin dan Kamis sore. Biar pada penasaran aja sih ya… #dijitak

  1. wah sampe parah gitu ya mbak?

    maaf ya kemarin malah ngebecandain -_-v

    • Iyah. Sampe sekarang masih ngeri tinggal di rumah dinas.

  2. Seru sekali sepertinya… terima kasih sudah berbagi kisah…😀 Semangat terus menulis, ya!😀

  1. December 31st, 2013

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: