Tanpa Judul (Racauan Kamis Siang)

Memang kamu perempuan, Nin?

Pertanyaan (atau pernyataan) ini tidak sekali atau dua kali saya terima. Mungkin bagi mereka, mengenakan jilbab saja tidak memberikan informasi yang cukup tentang gender saya. Atau memang di jaman sekarang, semua orang harus telanjang untuk menunjukkan genital masing-masing, barulah masyarakat bisa menentukan, laki-laki atau perempuan.

Mendengar pertanyaan (atau pernyataan) seperti itu, biasanya saya tanggapi dengan santai. Apalagi menghadapi reaksi kaget dan heran jika mendengar saya (sedikit) bisa memasak, menjahit dengan mesin jahit atau merajut dengan satu jarum. Intonasi mereka meninggi ketika berkata, “Emang bisa?” Biasanya disertai dengan ujung bibir yang sedikit terangkat, dahi berkerut dan kedua alis yang hampir bertemu untuk menjembatani keheranan mereka. Nah, ya …seperti itu. Biasanya, saya tidak perlu repot-repot meyakinkan mereka bahwa saya dilahirkan dan dibesarkan sebagai perempuan. Tidak penting. Toh mereka tidak akan berhenti melontarkan komentar yang semakin menunjukkan betapa tidak-perempuannya saya ini.

Saya paham mengapa mereka sering sekali berkata demikian. Sebagian besar alasannya adalah sikap saya yang sembrono dan jarang melembutkan suara. Atau cara bicara saya yang terlalu frontal. Atau kebiasaan saya yang lebih suka memanggul tas ransel daripada ‘ngempit’ tas ketek yang bagus dan manis. Atau cara berjalan dan mengendarai motor yang (katanya) sedikit gagah. Terlebih lagi, beberapa orang menganggap bahwa saya bisa melakukan semuanya sendirian sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain. Saya tidak mengerti mengapa bisa ada anggapan seperti itu. Yang jelas, menurut penginderaan mereka, sisi maskulin saya lebih menonjol daripada sisi feminin.

Tapi ada saat-saat tertentu dimana saya merasa capek mendengar komentar-komentar seperti itu. Di antara keberagaman yang ada di dunia, seperti ras, agama, suku, klub bola kesayangan, yang mana bisa saja memisahkan dua orang yang jatuh cinta dengan cara paling tragis, mengapa isi kepala mereka justru terlalu seragam dalam menilai saya? Atau menilai perempuan-perempuan (yang katanya) ‘tomboi’ seperti saya?

Ah sudahlah. Bagaimanapun, mereka tidak salah, kok, memberi cap ‘kelaki-lakian’ pada saya. Benar, saya memang tidak selembut, semanis dan sefeminin perempuan-perempuan cantik di luar sana. Apa yang mereka nilai adalah apa yang saya tampakkan selama ini (yaelah, Chil…) Dan tulisan ini dibuat hanya untuk memuaskan kemangkelan sesaat. Selanjutnya, silakan menilai sesuka anda xD

***

Moru – Alor – NTT
End of January, 2013

    • vanda kemala
    • February 3rd, 2013

    tulisan ini sama kayak perasaanku, chil… mereka terlalu mudah menilai dari luar😦

    • Iyap. Kadang2 sedih juga dengernya. Tapi kadang2 masa bodoh juga. Lagian mikir omongan mereka juga percuma, ndak bakal bikin kaya x))

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: