Surat Dan Romantisme

Assalamualaikum Wr Wb

Dear Bapak Djoko yang tetap joko meski sudah beranak dua dan bercucu tiga. Apa kabar? Apakah Bapak sudah menyelesaikan novel The Last Empress yang saya kirimkan? Terakhir, suaramu terdengar sangat cerah dan ceria, sudah tidak sengau karena flu yang sempat mampir. Bapak malah bersemangat ketika bercerita tentang konspirasi politik dibalik penangkapan Raffi Ahmad dan Wanda Hamidah beberapa hari lalu. Oh well, saya bingung mendengarnya.

Dear Bapak Djoko tersayang. Bapak benar saat berkata bahwa surat adalah salah satu cara untuk menjaga romantisme. Surat adalah lembar kertas dengan barisan aksara yang dirangkai sesuai dengan pemikiran, kegelisahan, cinta serta rasa rindu pengirim kepada sang penerima. Dan semua orang suka mengirim dan menerima surat. Buktinya, sudah lebih dari dua minggu ini, para penggiat Twitter dan blogger berlomba-lomba mengirimkan surat cinta. Mereka saling menyampaikan isi hati yang mungkin tidak bisa diucapkan ketika saling bertatap mata. Seperti kata-kata yang mengambang di udara ketika seorang lelaki tidak mampu menyampaikan cinta pada seorang perempuan (Iya, saya masih ingat kata-kata Bapak yang ini, “Jangan harapkan lelaki yang mencintaimu bisa mahir berkata-kata di depanmu. Melihat wajahmu saja, semua sistem tubuh lelaki bisa lumpuh. Apalagi buat ngomong banyak. Mereka tidak akan bisa.”)

Jika Bapak punya akun Twitter, pasti suka sekali dengan akun @PosCinta. Mereka mengantarkan surat-surat kepada siapapun. Dan apapun. Bahkan saya mengirimkan surat ini melalui @PosCinta, Pak. Kenalkan, tukang pos saya adalah seorang muslimah yang cantik. Namanya Annisa atau @chachathaib. Dia pintar sekali merangkai kata. Tapi mungkin surat ini akan terbaca di tengah malam, karena tukang pos saya sedang sibuk menyiapkan pernikahannya, Pak😉

Bapak ingat ndak ketika saya masih SD dan SMP, saya sering sekali berkorespondensi dengan teman-teman yang saya kenal dari majalah Bobo atau Mentari Putera Harapan atau Koran Kecil Republika? Setiap kali pak pos datang, membunyikan bel klakson motornya dan menyerahkan selembar amplop, ada sesuatu yang hadir di kepala dan hati saya. Penasaran dan bertanya-tanya, dari siapa? Kira-kira apa isinya? Cerita apa yang kali ini akan saya baca?

Dan ada rasa bahagia yang membuat senyum saya tidak berhenti terkembang. Bahwa di luar sana, ada seseorang yang meluangkan waktunya untuk menggoreskan pena di atas selembar (atau bahkan berlembar-lembar) kertas, menceritakan perasaan dan hari-harinya di dalamnya, membubuhkan perangko di amplonya dan mengirimkannya pada saya. Perasaan bahagia itu sama hebatnya dengan menemukan es krim Magnum dengan harga yang murah di kota Soe. Atau mengetahui bahwa Lee Min Ho sudah putus dengan Park Min Young.

Bapak Djoko tersayang, mengingat segala romantisme yang ada di dunia (yang salah satunya adalah dengan surat-menyurat), alasan itulah yang membuat saya sering mengirim surat untukmu dan Ibu di rumah. Menceritakan hari-hari saya di perantauan, tentang pantai Alor yang indah, perbedaan adat dan budaya, dan tentang perilaku masyarakat Alor yang unik dan kadang menggemaskan. Karena saya percaya, romantisme bukan hanya milik mereka yang jatuh cinta. Romantisme juga milik mereka yang saling merindukan.

Tentu saya sering bercerita tentang banyaknya kejadian kekerasan dalam rumah tangga di sini. Sebagian besar laki-laki di Alor merasa dirinya superior dan ringan tangan pada tubuh istrinya yang tidak berdaya. Dan di sinilah kebanggaan saya terhadap Bapak semakin membabi buta. Selama 35 tahun menikah, rasanya saya tidak pernah melihat Bapak mengeraskan suara pada Ibu, apalagi melakukan kekerasan. Yang saya lihat, justru cinta dan kasih sayang yang nilainya seperti fosil bersejarah, semakin berharga ketika dimakan usia. Bahkan Bapak tidak ragu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan menjemur cucian. Romantisme tidak hanya kata-kata. Tidak hanya kecupan dan pelukan (yang sepertinya makin sering Bapak dan Ibu lakukan. Mumpung masih bisa pacaran, begitu Bapak bilang). Tapi, romantisme juga tentang bagaimana kita peduli terhadap pasangan, tentang apa yang ia suka dan tidak suka, apa yang membuatnya bahagia atau berduka. Romantisme bagi Bapak juga tentang rasa syukur, bahwa selama 35 tahun kehidupan bersama Ibu, Bapak telah menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia.

Di setiap surat yang saya kirimkan, tak lupa juga saya selipkan beberapa foto, sebagai bukti bahwa putri kalian selalu sehat wal’afiat ketika jauh dari pandangan mata. Seorang sejawat berkata, “Buat apa repot-repot mengirim surat? Kenapa nggak kirim email atau suruh orang tuamu melihat foto-fotomu di Facebook?” Ah, dia ndak ngerti ya, Pak. Betapa mengirim dan menerima surat adalah salah satu kegiatan yang paling menyenangkan di dunia. Goresan pena adalah bukti nyata bahwa seseorang itu ada dan bahagia ketika menuliskan berbagai cerita dan menorehkan sejuta rindu. Sang pengirim tentu akan memilih kata yang pas agar surat itu terbaca seakan benar-benar berbicara dengan rasa yang tepat. Dan semoga rinduku yang sudah menggebu ini juga sampai padamu dan Ibu (padahal alasan utama adalah karena Bapak dan Ibu tidak bisa mengoperasikan komputer sama sekali. Iya, Bapak juga benar saat berkata bahwa kadang romantis dan kere atau udik itu beda tipis hehehe…)

Demikian surat cinta dari putrimu, wahai Bapak Djoko yang tetap joko sampai kapanpun. Salam sayang dan rindu untuk Bapak dan Ibu. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu.

Wassalamualaikum Wr Wb

Moru – Alor – NTT
January 30th 2013

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: