Enam Puluh Tiga Hari

Kepada kota kelahiran saya,

Enam puluh tiga hari menuju kamu. Rasanya beberapa hari belakangan, waktu seperti diacak. Mengingat bahwa saya telah menjalani hampir sepuluh bulan di perantauan, rasanya waktu begitu cepat berlalu. Ada banyak hal yang belum saya lakukan di sini. Dan ada banyak tempat yang belum saya kunjungi.

Tapi menjalani enam puluh tiga hari ke depan, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Detik, menit, jam. Semua angka satuan waktu seakan tak pernah habis saya hitung. Dan saya begitu merindukan pulang menujumu.

Dua kali menerjang awan dan menjejaki tiga hiruk pikuk bandara. Keduanya tidak sesyahdu perjalanan pulang dengan mengarungi jalan sempit di dalam aroma bis. Lalu turun di daerah Kopian dan mencegat angkot yang kadang malah ngetem terlalu lama. Angkot yang menyediakan guyonan-guyonan ga penting berbahasa ‘telo-lema’, atau sumpah serapah yang sudah cukup lama tidak pernah saya dengarkan.

Angkot akan melaju, melewati gedung SMA yang mengingatkan saya pada teman-teman lama. Juga cinta lama, tentunya. Saya tidak pernah suka dengan warnanya yang kini dominan merah dan merah jambu (yang konon disebabkan adanya penyesuaian warna seluruh sekolah terhadap partai sponsor bapak walikota). Dan mata saya selalu liar mencari kedai bakso Probolinggo yang dulu saya kunjungi dua minggu sekali. Bukan karena nggak enak. Tapi karena saya harus menabung untuk bisa membelinya.

Lalu angkot akan melewati satu pertokoan terbesarmu. Giant. Ahahaha… Konyol sekali ketika mendengar seorang sejawat yang berkunjung pernah mengatakan, “Bagaimana bisa kamu hidup di kota tanpa hiburan macam ini?” Yah, bahkan nyatanya saya bisa hidup di Alor, tho? Tapi setidaknya, sekarang kamu sudah memiliki sebuah restoran siap saji yang kerenyahan kulit ayamnya bisa saya nikmati setiap saat. Saya teringat pada sebuah malam. Ketika masih bekerja di salah satu rumah sakit yang berhadapan dengan restoran itu, mendadak saya dilanda rasa lapar yang parah. Mungkin karena hujan pasien yang bertubi-tubi, atau hormon yang mengibarkan bendera ‘binge eating alert’ sejak pagi. Maka malam itu, perut saya dipenuhi produk makanan sampah, dan dompet saya dikuras isinya.

Sekarang ingatan saya sudah sampai di pasar. Pasti ibu-ibu akan memenuhi angkot dengan barang-barang dagangannya. Dan ritual saya di sini adalah memandangi sebuah warung internet bobrok di sudut pasar, tempat saya sering menghabiskan waktu untuk mengirim surat elektronik dan kartu elektronik, beserta kata-kata picisan khas anak SMA. Rasanya lucu mengingatnya sekarang, terlebih lagi sang penerima sudah memiliki keluarga sendiri.

Turun di depan toko Semeru, dan becak akan membawa saya ke rumah. Dan saya tahu, ayah sudah menunggu di teras dan ibu di dalam bersama makanan favorit saya. Selalu rutinitas yang sama… duduk bertiga di depan TV, membahas apapun yang sedang ditayangkan. Bahkan hal yang tidak saya mengerti seperti politik, hukum, ekonomi, dan sebagainya.

Kemudian pembicaraan beralih saat ayah bertanya, “Piye piye ceritane, Non?” Dan dua orang pecandu kopi ini memulai aktivitas rutin, bercerita dan mendengar (saya yang lebih banyak bercerita, ayah yang lebih banyak mendengar hehehe). Pada saat itu… rasanya secangkir kopi menjadi sangat banyak, dan akan habis setelah seluruh kisah telah habis diceritakan. Suara TV hanyalah soundtrack, dan kadang-kadang, kami tidak peduli. Lalu ibu membawakan pisang goreng andalannya, yang kadang baru kami nikmati setelah pisang itu mendingin karena kami terlalu sibuk dengan cerita yang terlewatkan.

Ya… itulah rutinitas saya ketika pulang padamu. Biasa saja… terlalu biasa… Tapi saya selalu ingin pulang. Saya kangen kamu.

Pulang… mengingatkan saya betapa mengesankan masa-masa sekolah saya. Dari sebuah MI dengan gedung bobrok yang bahkan tidak ada toilet maupun kamar mandi, tidak memiliki nama di masyarakat, dan harus menumpang ketika ujian nasional berlangsung. Lalu hijrah ke sebuah SMP negeri yang saat masuk semua guru memicingkan mata saat saya menyebut MI saya berasal. Dan berhasil menembus SMU negeri bersama kawan-kawan seperjuangan.

Masih teringat di ingatan saat saya membuat kekacauan di hari pertama masuk SD karena menggampar anak orang (maaf ya T_T), disuruh lari keliling lapangan yang luas (pada saat itu terkesan luas karena saya masih cebol sekali saat SD) karena lupa mengerjakan PR (dan merasa malu karena tersandung batu dan jatuh di depan seorang kakak kelas yang saya suka). Atau ngebut di atas sepeda jengki berwarna biru (yang sudah dijual) demi mengambil PR yang ketinggalan di rumah (ketik SMP dan saat angin Gendingmu sedang kenceng-kencengnya).

Pulang… selalu menjadi tempat saya untuk menenangkan diri. Meski udaramu terlalu panas untuk mendinginkan kepala dan hati. Saya teringat, beberapa tahun lalu, saat saya merasa gagal karena Tugas Akhir secara sepihak dihancurkan dan tidak tahu harus berbuat apa. Seperti ingin terjun dari lantai 5 gedung FK *errr… saat itu belum ada… jadi rektorat sajalah…*. Sesak karena data yang telah terkumpul selama setahun, yang telah membuat waktu belajar, clerkship dan tugas-tugas saya cemburu menjadi sia-sia. Sesak karena bersikeras mempertahankan harga diri di depan pembimbing sehingga tangis tak sempat tertumpah. Sesak karena saat kembali ke kos, saya sendirian (semua udah pulang, berlibur, dan saya masih tertahan… mengerjakan TA yang mengerikan). Kemudian dengan menahan rasa sakit itu, saya memutuskan untuk pulang, untuk mendinginkan kepala yang masih membara.

Pulang… selalu menjadi tempat saya untuk merecharge tenaga dan pikiran. Dalam semua kekalutan pre-masuk koass, dengan membawa semua pikiran buruk yang sudah tertanam tentang bagaimana seorang koass menjadi alas kaki di rumah sakit dan segala konflik yang pasti muncul. Saya memutuskan untuk pulang… karena saya yakin, kepulangan saya dapat membangun lagi hasrat saya untuk berjuang demi sesuatu yang layak dan berharga.

Pulang… membuat saya selalu ingat, dari sinilah saya hidup dan belajar. Dari sesuatu yang sangat sederhana dan tidak neko-neko. Mungkin terlalu muluk dan berani jika saya bermimpi besar. Dan bahkan saya pernah terlalu pengecut untuk pulang setelah kekalahan satu setengah tahun yang lalu. Memilih untuk melupakanmu dan rela dirundung kesedihan. Tapi harus saya akui, pulang dapat mengembalikan saya pada semangat muda yang berkobar. Gairah untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan mewujudkannya.

Pulang… mengingatkan saya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup saya, sepahit apapun perjalanan saya menuju cita-cita dan cinta, tentang kegagalan, kekecewaan dan sakit hati, sekering apapun gurun hidup yang saya jalani, sederas apapun air mata yang telah saya buang demi menggali jati diri, ada orang-orang yang selalu menunggu saya, di sebuah tempat biasa dengan cerita-cerita serta tawa hangat di dalamnya, sebuah tempat tenang yg saya sebut rumah.

Enam puluh tiga hari menujumu. Dan saya sudah tidak sabar menjejaki setiap sudut kotamu. Mencicipi makanan berpenyedap di tepi alun-alun, menyantap nasi jagung, dan bernostalgia di atas jalan yang pernah saya lewati bersama impian, cita-cita dan cinta.

Sampai ketemu lagi, Probolinggo ^^

Dari satu orang penghuni yang masih terdampar di pulau nan jauh.

    • nurvia
    • February 21st, 2013

    Dan…aku selalu menunggu kepulanganmu noy……ceileeee ahahaaaaa…..ayok..ayok…jauh2 kmu tak susul ke prob lo cepetaaan pulang…maen sama ponanakan ;*

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: