Pisang Goreng Dan Maulid Nabi

image

Jaman dulu, perayaan Maulid Nabi adalah salah satu hari yang ditunggu anak SD. Apalagi kalo bukan hari tanpa pelajaran, mengenakan baju muslim/muslimah dan bertukar kue. Bagi beberapa anak, bertukar kue bisa menjadi bencana jika ternyata mendapat kue yang lebih nggak enak daripada yang dibawanya. Tapi bagiku dan mbakku, dipastikan bahwa kami akan mendapat kue yang lebih baik daripada yang kami bawa.

Mama adalah seorang bidan yang waktunya tidak terlalu banyak untuk sekedar membuatkan kami kue yang bagus dan enak. Well, sebenernya karena Mama juga nggak terlalu bisa membuat kue sih (ehehehe…). Dan untuk membeli kue di toko, saat itu masih belum bisa dijangkau oleh keluarga kami. Maka setiap hari Maulid Nabi tiba, aku dan mbakku selalu membawa makanan kebanggaan buatan Mama. Pisang goreng.

Lima atau enam pisang goreng diletakkan di sebuah kotak makan. Lalu kami membawanya ke sekolah dengan wajah berbinar. Dengan khayalan, tahun ini ditukar dengan kue yang mana ya.

Aku dan mbakku menjalani pendidikan SD di sekolah yang sama. Tetapi karena perbedaan usia 7 tahun, maka tentu era kami berbeda. Namun pisang goreng dan kejadian yang mengikutinya adalah hal yang membuat masa SD kami memiliki benang merah.

Pada dasarnya, aku adalah anak yang cuek. Banget. Sehingga tidak begitu memperhatikan tentang sikap salah seorang guru perempuan yang (kalo diingat-ingat sekarang) selalu memandang sinis kotak makanku yang berisi pisang goreng. Dan misteri ini terpecahkan setelah aku dan mbakku saling berkeluh kesah.

Konon, ketika mbakku masih duduk di bangku SD, guru perempuan itu seringkali mencibir pisang goreng buatan Mama. Entah apakah dia merasa pisang goreng itu telah bercampur kotoran atau bagaimana, sehingga muncul komentar sadis, “Jajan kok gedhang goreng. Jajan iku sing apik koyo’ liyane.” Sebagai anak SD yang harga dirinya masih ditentukan dari apa yang ia bawa, maka kami merasa tersinggung. Dan hari Maulid Nabi yang seharusnya merayakan kelahiran manusia pembawa rahmat bagi seluruh alam, justru menjadi momok bagi kami. Hanya karena sekotak pisang goreng.

Kami tidak mengerti, mengapa guru perempuan kami itu sangat membenci pisang goreng. Apakah ia pernah ditipu penjual pisang goreng yang ternyata isinya adalah sol sepatu, atau dihantui pisang goreng bertentakel delapan yang membekap tubuhnya dari segala arah, atau pernah didatangi pisang goreng yang berwujud seperti pocong. Sampai sekarang, kami tidak tahu jawabannya.

Tapi ketika kami menceritakan kegelisahan kami sebagai anak SD ini ke Mama, beliau hanya menjawab, “Nggak usah malu. Malu itu kalo bawa pisang goreng hasil colongan.”

Dan jawaban itu tidak membuat kami puas. Kami terus mendesak Mama, supaya sekali-kali membelikan kue yang bagus dan lebih enak daripada pisang goreng. Dan jawabannya adalah, “Uangnya ditabung aja buat sekolah ya. Kalo kalian bisa sekolah yang tinggi, pasti bisa beli kue yang paling bagus dan enak.”

Sesungguhnya, pada saat itu kami tidak begitu mengerti. Atau tidak mau mengerti. Sekali lagi, ini adalah masalah ego anak SD yang harga dirinya ditentukan dari apa yang ia bawa. Maka selanjutnya kami hanya bisa menatap hampa dan menahan sakit hati ketika cibiran dan tatapan sinis guru perempuan itu hadir lagi di tahun berikutnya.

Namun sekarang, kami bersyukur, bahwa dulu tidak merajuk terlalu lama, atau menangis, atau marah hingga membanting barang karena pernah dilecehkan oleh seorang guru perempuan yang pernah dihantui pisang goreng bertentakel delapan. Karena akhirnya aku dan mbakku mendapatkan pendidikan yang layak dan benar-benar bisa membeli kue yang lebih bagus dan enak dari sekedar apa yang teman-teman bawa dulu.

Dan rasa syukur kami tidak hanya sebatas itu. Kami bersyukur bahwa orang tua kami mendidik untuk tidak menilai seseorang atau menilai diri sendiri dari ‘benda’. Baik yang melekat di orang lain, atau pada diri sendiri. Tidak perlu mencibir milik orang lain, dan tidak perlu merasa malu atas apa yang kita punyai. Semua memiliki bagiannya masing-masing. Tidak perlu berlebihan, apalagi memaksakan hingga melampaui batas kemampuan.

Kini, pisang goreng dan Maulid Nabi selalu memiliki kenangan tersendiri di keluarga kami. Menertawakan guru perempuan yang mungkin pemikirannya masih kerdil, dan menertawakan dua anak SD yang berusaha mempertahankan harga diri dengan sekotak pisang goreng.

Di tanggal 12 Rabi’ul Awal, Muhammad dilahirkan sebagai manusia pembawa rahmat bagi seluruh alam yang hidup dalam kesederhanaan. Dan sebagai umatnya, mari belajar memanfaatkan kesederhanaan untuk berbagi rahmat bagi sekitar kita. Termasuk pisang goreng😉 [Noichil edisi syariah]

***

Soe – Timor Tengah Selatan – NTT
Rabi’ul Awal 13th 2013

Keterangan:
Jajan kok gedhang goreng. Jajan iku sing apik koyo’ liyane: Kue kok pisang goreng. Kue itu yang bagus seperti yang lainnya.

  1. Baru tau jajan itu artinya kue.😄

    • Ehehehe kalo orang Jawa, jajan itu pokoknya makanan ringan atau cemilan. Bisa kue atau roti atau snack gitu x))
      makasih sudah mampir yah ^^

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: