Surat Penghilang Jejak

image

Hai.

Kado darimu sudah kuterima dengan selamat. Manis sekali. Sebuah compact disc yang kupilih sendiri ketika pergi bersama. Ahahaha … Aku merasa ini cukup lucu. Aku benar-benar tidak menyangka CD itu kau berikan untukku. Kupikir, ketika kamu bilang ingin mencari sebuah CD kumpulan lagu cinta, itu untuk kekasihmu.

Bagaimana kabar kandang ayam yang kabarnya terbakar? Sepertinya peternakan tempatmu bekerja mengalami rugi besar ya … Aku turut sedih mendengarnya. Aku tahu kamu merawat ayam-ayam itu dengan baik supaya bisa dipanen dan dikirimkan tepat waktu ke restoran cepat saji yang terkenal kerenyahan kulitnya. Kuharap kamu tidak mendapat masalah karena telah mengalihkan tugas jaga kandang ke rekanmu supaya bisa menemuiku kala itu.

Entah bagaimana memulainya. Tapi terima kasih selama ini kamu telah memercayakan pengalihan kasih sayangmu padaku. Tunggu … Bisakah kusebut begitu? Ya, anggap saja begitu.

Di awal pertemuan kita setelah bertahun-tahun tidak bersua selepas lulus SMA, hari itu seperti keajaiban. Kamu tiba-tiba muncul dan sejak saat itu, aku menemukan lagi teman bicara tentang kegilaan masa lalu. Aku menikmati kenyataan bahwa kita memiliki banyak kesamaan dan kita berbagi keluh kesah tiap hari.

Kamu pernah bertanya, mengapa aku begitu baik padamu. Mengingatkanmu untuk mengurangi jumlah batang rokok yang kau isap setiap hari. Rela meminjamkan jas hujan agar kamu tidak kehujanan (padahal aku sendiri membutuhkannya). Dan menyediakan waktu dan telinga untuk mendengar curahan hatimu tentang masalah percintaanmu.

Aku menjawab, aku juga tidak mengerti alasan mengapa aku berbuat begitu. Pada akhirnya kamu menyimpulkan bahwa aku adalah perempuan yang memang melakukan hal-hal baik pada semua orang, Pada akhirnya kamu berkata, bahwa mungkin aku tidak bisa melihat maksud dari segala perhatianmu.

Kuberitahu sebuah rahasia. Sesungguhnya aku bukanlah orang secuek itu.

Iya, aku merasakannya. Bagaimana mungkin aku tidak membaui niat seorang pria yang tiba-tiba rajin menembus jarak hampir 150 kilometer hanya untuk menemui seorang teman lama? Menemaniku mengerjakan tugas-tugas hingga dini hari meski hanya melalui pesan singkat dan sambungan telepon. Atau perhatian-perhatian kecil yang seharusnya hanya kamu bagi dengan kekasihmu.

Tapi aku bertahan untuk berpura-pura tidak merasakannya. Aku berusaha keras untuk tidak terbuai oleh kebiasaan-kebiasaan yang kamu tawarkan. Dan usaha kerasku itu berbuah pada sebuah pembelaan ego yang justru mengijinkan semuanya terjadi. Menganggap perhatian yang saling balas itu wajar dilakukan dalam sebuah ikatan pertemanan yang kubilang tanpa tendensi.

Dan pada akhirnya, aku disadarkan oleh seorang teman yang menyampaikan curahan hatinya tentang hal yang hampir sama. Ia mengatakan, posisi sebagai orang ketiga adalah masalah yang cukup memusingkan. Masalah? Bukankah tidak ada masalah jika kamu, atau aku, tidak memberi label diri sendiri sebagai pihak ketiga?

Lalu dalam beberapa detik, ada rasa bersalah yang menggerogotiku perlahan. Aku mengingat bagaimana wajahmu yang sedih setiap kali menceritakan kisah cinta yang diujung tanduk. Kamu bilang, kamu bosan dengan perilaku kekasihmu yang terlalu protektif dan insecure. Dan aku mengingat bagaimana repotnya kamu ketika menerima telepon kekasihmu. Suara dilirihkan dan beranjak pergi, menjauh, dan tidak ingin ada jejak sedikitpun yang bersuara bahwa kamu sedang bersamaku. Perlahan, aku merasa ini adalah masalah. Aku adalah masalah. Karena di belakang perjumpaan diam-diam kita, ada kekasihmu yang meneteskan air mata.

Jujur saja, aku tidak tau mengapa akhirnya kutulis surat ini untukmu. Aku bahkan tidak mampu berkata bahwa aku harus melepasmu. Tapi mungkin, surat ini adalah penegasan bahwa aku baik-baik saja setelah kamu memutuskan untuk melepasku. Anggap saja begitu. Meskipun ada jejak yang tidak bisa hilang ketika kamu pergi dan menjalani lagi jalan cinta yang pernah kamu tinggalkan, aku bahagia mendengarnya. Iya, aku memang terluka. Tapi itu sepenuhnya urusanku, yang mengijinkan kamu berlama-lama mengisi hari dan hatiku selama beberapa waktu.

Selamat menempuh hidup baru. Semoga pernikahan kalian selalu dilumuri cinta yang tak luntur oleh masa, rasa bosan atau kulit yang berkerut. Maaf, aku tidak datang. Karena aku paham, istrimu tidak menginginkanku berada di sana.

Dari seseorang yang belajar mereparasi lubang hati yang tak pernah terisi.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: