Kepada Ibu Dari Seorang Ibu

mother and baby3

 

Kepada: Ibunda tercinta

Apa kabar, Bu? Semoga Tuhan selalu merentangkan pelukNya pada Ibu dan menjaga Ibu seperti engkau yang tak pernah melepasku dari dekapan tangan dan doa yang hangat.

Hari ini Bagas rewel sekali. Seharian merengek dan merajuk. Puting susuku sedikit lecet karena Bagas selalu mengigitnya ketika ia gemas. Mungkin karena rasa sakit di lengannya setelah diimunisasi BCG pagi tadi. Nanda sempat frustasi karena hampir kehilangan kesabaran. Tapi akhirnya, setelah berjam-jam membujuk Bagas, cucumu telah lelap dalam tidurnya. Dan putrimu ini bisa menulis surat rindu pada Ibu. Iya, saya kangen Ibu. Kangen sekali. Padahal belum genap seminggu Ibu pulang dari rumah ini.

Di pertemuan kita terakhir, sebenarnya banyak sekali hal yang ingin kuceritakan, Bu. Tapi rasanya takkan pernah cukup. Nanda ingin berkeluh kesah, tentang bagaimana lelahnya mengandung dan membawa-bawa perut yang begitu besar ke mana-mana. Tentang nyeri kontraksi yang menjalar dari punggung, perut, hingga ke sumsum tulang. Tentang rasa ngilu ketika bidan melakukan episiotomi agar Bagas yang beratnya 3850 gram bisa lewat melalui jalan lahir. Juga tentang emosi ketika Nanda tidak bisa memahami apa yang diinginkan Bagas. Rasanya sedih, marah, cemas, putus asa. Kadang-kadang, Nanda merasa ingin menyerah saja. Kebebasan Nanda terbelenggu. Ingin sekedar pergi berjalan-jalan saja tidak bisa. Nanda sering jengkel tiap kali tidak mampu menerjemahkan apa mau Bagas. Dia hanya bisa menangis. Dan Ibu tahu, Nanda tidak pernah suka mendengar suara bayi menangis.

Tetapi Nanda teringat, seperti inilah Ibu dulu. Perempuan muda yang baru saja melahirkanku sebagai anak pertama. Ibu juga pasti pernah mengalami kebingungan yang sama dengan yang Nanda alami saat ini. Berusaha mengartikan arti tangis dan kerewelan bayi yang bahkan belum bisa membuka kelopak matanya dengan sempurna. Satu per satu. Apakah dia lapar? Apakah dia kesakitan? Apakah dia ngompol? Apakah perutnya sakit karena ingin buang air besar? Apakah dia merasa tidak nyaman di suatu tempat di tubuhnya? Atau apakah dia kesal karena ibunya tidak juga mengerti apa yang ia katakan?

Nanda kerap membayangkan, nanti Bagas akan tumbuh sebagai pribadi yang bagaimana ya… Di dalam hati, ada ketakutan yang diam-diam datang, Bu. Jika sudah besar nanti, pasti ia akan memilih jalannya sendiri. Cita-citanya sendiri. Nanda takut, tidak ada nama ibunya di dalam rencana hidup Bagas. Lalu bagaimana jika Bagas salah mengartikan larangan-laranganku sebagai penjara, bukan perlindungan? Bagaimana jika, suatu waktu, tiba saatnya keinginanku dan keinginannya bersinggungan? Bagaimana jika, kelak, Bagas secara tidak sengaja mengucapkan kata kasar atau menyakitkan pada ibunya? Atau bagaimana jika ia diam-diam benci padaku? Dan bagaimana jadinya jika aku gagal mendidiknya dan merasa bersalah hingga waktu yang tidak terbatas?

Ketika menulis surat ini, sesekali Nanda memandang Bagas yang sedang tidur. Memastikan tidak ada nyamuk yang hinggap di kulitnya, atau posisi kepala dan tangan yang membuatnya tidak nyaman. Entah apa namanya, tapi pasti Ibu tahu. Semacam sifat protektif yang berlebihan. Rasanya Nanda tidak rela ada satu halpun yang mengancam dan menyakiti Bagas. Bahkan sesungguhnya, Nanda tidak tega ketika tadi pagi melihat lengan Bagas ditusuk jarum kecil untuk memasukkan vaksin BCG. Kerepotan dan rasa sakit ketika hamil dan melahirkan tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan seorang ibu ketika anaknya terluka.

Merasakan itu semua, Nanda menyampaikan maaf yang sangat besar. Nanda ingat bagaimana marahnya Ibu ketika Nanda bolos mengaji. Atau ketika pertama kali Nanda terlambat pulang ke rumah. Dan juga ketika Ibu memergoki Nanda kabur dari sekolah dan main di mall. Saat itu, Nanda kecewa, mengapa Ibu begitu murka, mencubit lengan Nanda hingga membiru. Saat itu, Nanda mengartikannya sebagai ketidaksayangan Ibu. Tapi sekarang, Nanda ngerti, Bu. Seorang ibu tidak akan rela anaknya mengambil jalan yang salah. Karena seorang ibu sudah tahu bagaimana sakitnya kegagalan dan rasa kecewa.

Nanda mengingat pesan Ibu seminggu yang lalu. Pesan yang sama ketika Nanda menikah dulu, “Menandatangani buku nikah sama saja dengan menandatangani sebuah perjanjian kerja tak tertulis, yaitu menjadi orang tua. Dan pekerjaan itu nggak ada akhirnya, Nda. Karena kamu harua terus belajar.” Dan ternyata menjadi ibu tidak sesederhana menitipkan sebagian dirinya pada sosok manusia baru. Banyak sekali tugas yang harus dipelajari dan disempurnakan. Nanda baru menjalani jalan sebagai ibu selama dua bulan. Tapi begitu banyak hal yang Nanda pelajari. Tentang sabar, tulus, dan cinta. Dan dari semuanya, Nanda belajar tentang ikhlas terhadap apa rencana Tuhan terhadap Bagas.

Mungkin tidak akan ada habisnya kata maaf yang harus Nanda ucapkan atas kenakalan, kerewelan, keegoisan dan kekecewaan yang pernah Nanda lakukan pada Ibu. Nanda menyadari, betapa hati Ibu sangat terluka ketika melihat wajah Nanda yang muram ketika diminta membelikan sekantong gula pasir, atau telinga yang pura-pura tidak mendengar setelah kita bersitegang, atau ucapan Nanda yang menyakitkan. Nanda bisa merasakan perih yang sama seandainya semua itu terjadi pada Bagas dan Nanda.

Dan Nanda berterima kasih karena Ibu telah menjadi panutan yang sangat luar biasa. Sabar, pengorbanan dan ikhlasmu adalah puncak tertinggi dari apa yang harus kuteladani.

Kecupku untuk Ibu yang selalu memelukku dengan doa dan cinta. Semoga Nanda bisa menjadi ibu yang sama baiknya bagi Bagas, sebagaimana Ibu telah menjadi ibu yang sempurna untuk Nanda.

Sudah dulu ya, Bu. Bagas terbangun. Mulutnya mulai mencucut mencari gentong susunya.

Nanda sayang Ibu.

    • mia melinda
    • January 22nd, 2013

    Like this banget…setelah jd ibu,baru kita sadar tentang besarnya pengorbanan&cinta ibu……

    • Ini saya denger cerita temen2 aja sampe merinding. Apalagi merasakan sendiri yaaa

  1. Kereeen!!!
    Jadi terharu…
    Mampir di blog ku ya kak🙂

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: