Hallo, Mbak Cella…

Tanggal delapan bulan satu, selasa siang, setelah pelayanan puskesmas berakhir, saya menerima sebuah BBM dari kakak saya:

Noy, Najwa demam nih. Trus keluar merah-merah di dada, dahi dan kuping. Beberapa ada yang berisi air. Apa cacar ya?

Kakak saya juga mengirimkan gambar. Gambaran bintil-bintil yang mengilap, kemungkinan berisi air, dikelilingi warna kulit yang kemerahan.

IMG-20130108-00759

Jika melihat gambaran vesikel polimorfik dengan gejala flu like syndrome, kemungkinan memang cacar air. Tapi tetap saya menyarankan kakak saya untuk membawa keponakan saya itu ke dokter. Dan DSA mendiagnosis cacar air. Atau bahasa kerennya Varicella zoster.

Saya teringat ketika virus varicella itu secara kurang ajar berkembang biak menggunakan DNA saya. Ketika itu saya, yang masih dokter muda, sedang menjalani stase Kulit dan Kelamin di RSSA. Mungkin beberapa orang mengira, saya tertular pasien dengan varicella yang saya tangani. Tapi salah. Ketika itu saya hanya ‘melewati’ pasien anak-anak sekitar usia 4 tahun yang kebetulan berobat ke poli Kulit dan Kelamin. Sepertinya ketika itu, sistem imun saya sedang kacau balau mengingat betapa tingginya stressor di stase Kulit dan Kelamin kala itu (sesama alumnus FK Brawijaya pasti paham maksud saya *ngikik*).

Malam hari setelah ‘melewati’ seorang pasien dengan varicella, saya merasa seluruh badan saya nyeri. Demam tinggi. Dan hidung saya berair. Saat itu saya tidak memiliki firasat apa-apa. Bahkan mengira virus Varicella sedang mengintai dari balik pintu pun tak pernah. Hanya berpikir mungkin ini rhinitis biasa. Maka saya menenggak Parasetamol 1000 mg (karena 500 mg sudah tidak mempan untuk saya), lalu tidur dengan harapan besok sudah bisa beraktivitas seperti biasa.

Tapi kenyataan berkata lain. Pagi harinya, ketika saya mandi, saya menemukan dua bintil berair di dada. Sial. Virus Varicella sedang menari-nari di dalam tubuh saya.

Ketika berangkat ke rumah sakit, saya mampir ke apotek dan membeli antivirus untuk cacar air. Lalu dengan semangat membuka textbook dan mulai membaca. Ya ya… pengalaman adalah guru terbaik. Tapi kenapa harus kena cacar air dulu baru belajar? *selftoyor*

Baiklah, segera persiapkan diri anda karena saya akan menulis sesuatu yang kontennya bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari [alah…] [sebenarnya hanya memperpanjang tweet-tweet yang pernah saya posting di @noichil *grin*].

Varicella zoster disebabkan oleh virus Varicella zoster. Transmisi (perpindahan) penyakit ini terjadi melalui jalur respiratorik (pernapasan), dimana virus bereplikasi di daerah ini (sebagian besar di daerah nasofaring, pertemuan antara hidung dan tenggorokan).

Masa inkubasi virus ini berkisar antara 10 – 21 hari. Fase infeksius pasien dengan Varicella dimulai dari 48 jam pertama setelah timbul ruam pertama, selama munculnya seluruh ruam (sekitar 4 – 5 hari) dan sampai semua ruam mengering.

Gejala klinis varicella bervariasi. Biasanya didahului dengan demam ringan (hingga tinggi pada pasien dengan sistem imun yang buruk) selama 3 – 5 hari (bisa dibayangkan betapa buruknya sistem imun saya saat itu). Kemunculan ruam juga bervariasi. Bisa terjadi dalam hitungan jam atau hari dengan pola penyebaran sentripetal (dari tubuh menyebar ke muka). Ciri khas ruam pada varicella adalah kemunculannya yang menyebar dengan waktu yang bervariasi, sehingga didapatkan ruam polimorfik (bentuknya bermacam-macam).

Pada pasien dengan usia lebih muda, biasanya vesikel yang muncul lebih sedikit daripada orang dewasa. Dan gejala klinis akan lebih buruk pada pasien-pasien dengan kondisi sistem imun yang buruk (seperti Diabetes melitus, keganasan/kanker, HIV dan penyakit autoimun lainnya)

Terapi varicella bertujuan untuk mencegah penularan dan komplikasi. Cara mencegah penularan adalah dengan mengurangi aktivitas di fase infeksius, serta menggunakan masker untuk meminimalisir penularan melalui cairan dari mulut dan hidung pada orang lain. Well, I’m not proud. But because of my selfishness, I still did my activities. Mengingat betapa sulitnya ijin dan mengganti hari di stase Kulit dan Kelamin, saya memutuskan untuk terus menjalankan aktivitas sebagai dokter muda. Ke rumah sakit, mengerjakan kasus, memeriksa pasien, dan sebagainya (ahiks… Bagi siapapun yang tertular virus laknat ini dari saya, saya minta maaf) (maaf juga untuk @IsMona yang mobilnya rela dicemari virus ini).

Kenapa komplikasi cacar air perlu dihindari? Karena cukup menyeramkan [pasang backsound Half Remembered Dream-nya Inception].

Komplikasi yang paling umum adalah terjadinya infeksi sekunder. Dan bakteri yang banyak menyebabkan infeksi sekunder ini adalah Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus aureus (JANGAN NGAKU NGGAK INGET SAMA MEREKA! *tabokin pake buku Biologi SMP*). Biasanya, infeksi sekunder ini terjadi pada anak-anak. Karena umumnya, anak-anak tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruk kulit yang gatal. Bekas garukan menjadi pintu masuk kedua bakteri tadi dan terjadinya infeksi sekunder. Kedua bakteri ini menyebabkan timbulnya nanah pada vesikel cacar yang seharusnya hanya berisi air. Jika tidak segera diatasi, infeksi bakteri itu bisa menyebar ke susunan syaraf pusat. Menurut Om Harrison, kejadian encephalitis pada anak-anak dengan cacar air sebesar 0.1 – 0.2%. Iya, memang sedikit. Tapi bukan berarti tidak mungkin.

Pada dewasa, komplikasi yang sering adalah varicella pneumonia. Dan komplikasi lainnya adalah miokarditis, nefritis, arthritis, glomerulonefritis akut, dan hepatitis [bingung sama istilahnya. Oke. Sekarang, silakan buka tab browser baru, ketik Google.com, dan masukkan istilah-istilah tadi di kotak pencarinya. Yeah, thank me later.]

Terapi untuk Varicella cukup mudah. Simtomatis, atau sesuai gejala. Jika demam, maka minumlah antipiretik (yang aman adalah parasetamol). Jika terasa gatal, minumlah antihistamin (yang aman dan dikenal luas adalah chlorpheniramine maleate atau CTM). Tetapi obat antivirus untuk varicella, harap diskusikan dengan dokter setelah pemeriksaan ruam. Karena bisa jadi, itu bukan varicella. Atau justru ruam yang sudah terinfeksi. Dan untuk kasus khusus, dibutuhkan obat yang berbeda pula. Pemberian antivirus varicella bermakna jika diberikan dalam 24 jam kemunculan ruam pertama. Makanya, cepat periksa ke dokter jika sudah muncul ruam, untuk menentukan itu varicella atau bukan.

Pernah dengar dexamethasone atau prednison? Jangan sembarangan dikonsumsi ya. Dan haram dikonsumsi untuk pasien dengan varicella. Kenapa? Untuk eradikasi virus varicella, kita membutuhkan sistem imun yang prima. Makan, minum, istirahat cukup, asupan vitamin dan mineral serta pikiran yang tenang dan jauh dari stres. Dexamethasone dan prednison adalah obat golongan steroid, agen anti-inflamasi yang imunosupresif (menekan sistem imun). Memang, reaksi radang karena infeksi virus seperti demam, gatal atau rasa tidak nyaman mungkin akan berkurang. Hal ini karena steroid menekan sistem imun supaya gejala tidak muncul. Tetapi di lain sisi, sistem imun ditekan sehingga tidak ada perlawanan terhadap virus. Maka jadilah, virus akan merajalela. Bisa jadi, komplikasi penyakit varicella akan semakin banyak. Maka, berhati-hatilah. Gunakan steroid secara bijak dan sesuai resep dokter ^^ [Untuk kejadian cacar air pada bayi, ibu hamil dan menyusui, diperlukan penanganan khusus. Jadi disarankan untuk segera ke dokter.]

Ada yang pernah bertanya, bagaimana jika kulit dioles parutan jagung? Bolehkah? Nah… Kembali lagi, apa tujuan mengoles parutan jagung. Jika parutan jagung digunakan untuk mempercepat penyembuhan, pemahaman itu perlu diluruskan. Penyembuhan varicella tergantung pada sistem imun penderita. Sebenarnya, orang-orang di masa lampau mengoleskan parutan jagung ke kulit penderita cacar air dengan tujuan untuk mendinginkan kulit dan mengurangi gatal. Jika tujuannya seperti itu, maka di jaman sekarang (yang katanya modern) penggunaan parutan jagung tidak lagi bermanfaat. Kenapa? Pertama, parutan jagung tidak steril. Tujuan terapi cacar air yang semula mengurangi risiko komplikasi justru tidak tercapai jika terjadi infeksi pada ruam karena ketidaksterilan parutan jagung. Kedua, untuk mendinginkan kulit dan mengurangi gatal, sudah ada kemasan bedak cair yang steril, tho? Mengapa menyusahkan diri dengan mengoles bubur jagung yang justru tidak nyaman dan tidak steril?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah bolehkah penderita cacar air mandi? Jawabannya WAJIB ‘AIN. Kenapa? Menurut rumor, jika mandi, maka ruam akan muncul lebih banyak dan menjadi butiran debu (apasih). Hal yang patut diperhatikan adalah munculnya ruam tidak dipengaruhi oleh mandi atau tidaknya penderita cacar air, tetapi karena sistem imunnya. Mandi adalah salah satu cara untuk menjaga higiene seseorang. Bayangkan, seseorang yang demam karena cacar air, keringat bercucuran, daki menumpuk di pori-pori. Jika tidak mandi, daki atau bolot akan menjadi pencetus adanya infeksi sekunder pada ruam kulit. Nah, kembali lagi, tujuan terapi cacar air apa? Mengurangi komplikasi, bukan? Selain mengurangi risiko terjadinya infeksi sekunder, mandi juga salah satu cara untuk mengurangi gatal pada kulit. Bahkan Om Harrison mengatakan bahwa mandi lebih efektif mengurangi gatal dibandingkan mengoleskan bedak cair.

Masalah makan dan minum bagaimana? Apakah ada pantangan? Karena salah satu terapi cacar air adalah dengan meningkatkan sistem imun, maka tidak ada pantangan (kecuali ada penyakit lain). Makan bergizi, istirahat cukup, banyak minum air putih, inshaAllah cepet pulih. Disarankan yang mengandung protein tinggi sebagai zat pembangun.

Dari semuanya, yang terpenting dari penyakit cacar air adalah bersabar. Iya, sabar. Anda tidak sendiri. Saya juga pernah mengalami gatal yang tak tertahankan. Terkena cacar air ketika cuaca sedang panas-panasnya. Kepala, wajah, leher, tangan, kaki, bahkan ketiak, rasanya ingin menggaruk saja. Yang sudah dewasa, ingatlah bahwa menggaruk kulit yang gatal karena cacar air merupakan tindakan yang tidak bijak. Hal ini akan memengaruhi proses penyembuhan, timbulnya komplikasi dan bekas di kulit yang akan disesali *ahem*. Pada anak-anak, tentu akan lebih susah menerangkan hal ini. Jangan lupa untuk memotong kuku anak-anak agar garukan tidak melukai kulit.

Banyak yang merasa, menderita cacar air itu berhubungan dengan faktor estetika dan psikologi. Wajah memang jadi blentong-blentong, sehingga mencetus ketidakPDan seseorang. Sebenarnya tidak perlu usaha terlalu masif dalam menghilangkan bekas cacar air. Karena mereka akan hilang dengan sendirinya dalam waku sebulan. Bekas cacar air saya juga hilang dalam sebulan. Tapi untuk artis atau mereka yang banci tampil, sepertinya sebulan adalah waktu yang terlalu lama *ditimpuk kamera*. Hubungi dokter spesialis kulit terdekat untuk mendapatkan saran yang tepat.

Untuk pencegahan (primer), sekarang sudah ada vaksin varicella. Vaksin varicella (untuk anak-anak) diberikan dalam dua dosis:

  1. Dosis pertama: diberikan pada usia 12 – 15 bulan.
  2. Dosis kedua: diberikan pada usia 4 – 6 tahun (atau minimal berjarak tiga bulan dari pemberian vaksin dosis pertama)
  3. Untuk anak-anak berusia 13 tahun atau lebih yang belum pernah divaksin varicella, bisa diberikan vaksin dengan dua dosis dengan jarak minimal 8 hari.

Ternyata membahas cacar air bisa jadi cukup panjang ya… *takjub*. Saya harap, beberapa bahasan di atas bisa menjawab pertanyaan seputar apa-kenapa-bagaimana-nya cacar air atau Varicella zoster. Di cuaca seperti ini, angka kejadian cacar air mengalami peningkatan. Jangan lupa selalu jaga sistem imun supaya tidak mudah sakit ^^ Semoga yang sedang menderita cacar air segera diberikan kesembuhan, dan yang belum, semoga selamanya tidak diberi kesempatan merasakan penyakit ini. Sekian dan terima rapelan insentif pusat.

***

Moru – Alor – NTT

Januari 10th 2013

 

Sumber:

  • Current Pediatric Diagnosis & Treatment 16th Ed.
  • Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th Ed.

(Iya… Edisinya masih segitu. Maklum, sedang di daerah terpencil *ngeles elegan*)

 

PS: Rapelan insentifnya baru dicicil sebulan ^^ #PentingBanget

  1. Terimakasih banyak atas artikelnya.. sangat bermanfaat..
    Kebetulan saat ini saya sedang cacar air, padahal umur juga sudah 1/4 abad.. yang menarik adalah, saat saya periksa ke dokter klinik, saya diberikan obat, yang salah satunya adalah Dexamethasone, untung saya baru minum 2 tablet kemudian saya googling dan menemukan artikel salahsatunya disini.. hmmm, segera saya hindari deh obat ini, takut malah tambah parah.. (aneh dokternya kasih obat ini)

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: