Lelaki yang Menangis di Bawah Hujan

rain,umbrella,myweblog,sad,cloud,man-8839220bc74edfe0ea4c542b86d68d6e_h

Hujan.

Satu kata yang akhir-akhir ini banyak dihujat. Ia adalah penyebab ibu-ibu meracau seharian karena jemuran mereka tidak kunjung kering. Ia adalah penyebab seorang perempuan marah dan kecewa karena tidak jadi berkencan. Ia adalah penyebab sepasang suami istri menangis seharian karena anaknya mati terseret banjir.

Tapi bagiku, hujan adalah perantara pertemuanku dengan lelaki itu. Aku selalu mengamatinya dari tempat yang sama di sebuah kantin kantor yang menghadap halaman parkir.

Matanya gelap dan bulat. Begitu jernih sehingga terasa ingin bercermin di sana. Hidungnya tidak terlalu mancung, tapi tidak ada bentuk lain yang pas untuk wajahnya kecuali hidung yang sedang-sedang saja. Rambutnya ikal dan kecokelatan. Selalu berantakan, dengan anak rambut nakal yang jatuh di keningnya dengan sangat menggemaskan. Dan senyumnya… Senyumnya adalah muara rindu yang sempurna.

Sore ini, hujan turun lagi.

Aku memutuskan untuk menemui lelaki itu lagi. Siapa tahu bisa berbincang sejenak seperti pertemuan kami seminggu yang lalu. Setelah jam kantor berakhir, aku segera turun ke lantai satu dan menuju ke kantin.

“Satu americano tanpa gula,” kataku pada Elian, barista di kantin ini.

“Nggak nambah apa-apa lagi, Mas Deny?” tanyanya.

“Sama croissant boleh deh…”

Setelah membayar, aku membawa nampan berisi cangkir kopi yang mengepul dan sebuah croissant hangat ke tempat biasa. Tempat dimana aku bisa menikmati hujan dan lelaki itu.

Hujan semakin deras. Beberapa rekanku nekat berlarian supaya bisa segera pulang. Pelataran parkir mulai sepi. Hanya ada dua mobil yang tersisa dan terguyur hujan.

Satu sesapan kopi.

Tapi lelaki hujan tak kunjung tiba. Aku membuka laptop dan mulai menggunakan fasilitas wi-fi di kantin ini. Membuka beberapa halaman blog favorit dan mulai membaca. Sesekali mataku melirik ke pelataran parkir dan mulai mencari-cari si lelaki hujan.

Satu gigitan croissant.

Tapi lelaki hujan belum juga menampakkan senyumnya. Aku mulai khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Karena aku tahu betul, lelaki itu sangat suka saat hujan tiba. Ia mencumbu setiap tetes air yang jatuh. Senyumnya adalah alasan langit tetap cerah meski hujan menghujam bumi bertubi-tubi. Dan ini menjadi hari ketiga ia tidak bercinta dengan hujan jika ia tidak datang.

Tiba-tiba terdengar suara khas ban yang berderit. Sebuah pengendara mobil van mengerem mendadak. Ada teriakan di sana.

Lelaki hujan.

Tubuhku refleks berdiri, menatap nanar tubuh lelaki hujan yang tergeletak dan berdarah-darah. Payungnya yang besar tergeletak di ujung mobil. Penyok tak karuan.

Pengendara mobil van memunculkan kepalanya dari jendela. Lalu tampak kengerian di wajahnya. Pengendara van itu turun dari mobilnya, “Astaga… Saya benar-benar nggak tahu kalo anak ini nyebrang.”

Aku berlari mendekati lelaki hujan dan merengkuh tubuh kecilnya dalam satu pelukan. Darah mengalir dari pelipisnya. Memerahkan tetes hujan. Bau anyir dan hujan kini beradu jadi satu.

Mataku menangkap sebuah kresek putih yang tergenangi air hujan dan darah. Isinya berserakan. Sebuah botol obat berlabel nama ibunya.

Ada sesal dan lara yang menyusup perlahan. Seandainya saja, lelaki hujan menyetujui ideku untuk segera pindah ke rumah tinggal anak jalanan, tentu kejadian memilukan ini tak pernah terjadi.

“Kenapa jadi ojek payung? Main hujan-hujanan terus nanti sakit.”

“Kalo nggak ngojek payung, nggak punya duit buat makan, Kak. Nggak bisa beli obat ibu. Nggak bisa setor ke preman gang juga.”

“Kamu sama ibumu pindah ke rumah tinggal aja. Aman. Nggak ada preman.”

“Ibu nggak bakal mau.”

“Kamu suka hujan?”

“Banget.”

“Kenapa?”

“Karena laki-laki lebih suka menangis di bawah hujan.”

Aku tidak mengerti mengapa bisa sesedih ini. Hatiku pilu membayangkan betapa pedih hati ibunya mengetahui anak lelakinya telah mati.

Air mata menetes tanpa kusadari. Tanpa bisa kucegah. Tangisku pecah di bawah hujan. Dan kubiarkan bilur-bilurnya membasuh air mata dan rasa kehilangan yang menyeruak diam-diam.

***

Kalabahi – Alor – NTT

Jan 2nd 2013

    • ataplaut
    • January 2nd, 2013

    gue kira mo cerita ga bisa berangkat ke puskesmas gara-gara ujan ga berhenti🙂

    • Kalo ceritanya gitu, judulnya jadi ‘perempuan yang menangis di bawah hujan’ dong :))

    • vanda kemala
    • January 2nd, 2013

    chil, i love it! :*

  1. jadi lelaki hujan itu seorang ojek payung ya?

  2. kurang daper sih feel nya hehe kan awal cerita dia nungguin cowo itu kok jadi beda alur nya

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: