Berpetualang Ke Wolang

My heart is sinking as I’m lifting up above the clouds away from you
And I can’t believe I’m leaving
Oh I don’t kno-kno-know what I’m gonna do

Tulisan ini ndak ada hubungannnya dengan lagu Simple Plan di atas. Hanya sebagai lagu pengiring dalam menulis cerita ini ehehehe ^^

Akhir tahun selalu menjadi saat yang cukup sibuk. Laporan. Dan di Puskesmas Moru, laporan belum bisa dibuat mengingat banyaknya program kegiatan yang belum terlaksana. Konsekuensinya adalah selama kami meningkatkan kecepatan kerja dan berusaha melaksanakan semua program kegiatan.

Beberapa program itu adalah kunjungan kemitraan dukun dan kader ke desa-desa, serta puskesmas keliling ke daerah yang sulit. Salah satu daerah sulit itu adalah Wolang, sebuah desa cakupan Probur, sekitar 2 – 3 jam dari Moru.

Puskesmas Moru adalah puskesmas utama di kecamatan Abad, Alor Barat Daya. Mencakup 20 desa, termasuk Probur. Probur adalah daerah yang cukup terpencil. Berada di bukit dengan kondisi jalan yang menyedihkan. Probur sendiri memiliki dusun-dusun, salah satunya adalah Wolang. Dusun terisolir dengan sekitar 20 kepala keluarga.

peta+alaor_edit

Untuk mencapai Moru, warga Wolang harus menggunakan jalur laut sekitar dua jam (tergantung perahu motor dan gelombang lautnya). Sebenarnya Wolang bukan pulau tersendiri, masih berada di satu daratan dengan Moru. Tetapi kondisi jalan darat yang tidak memungkinkan, maka jalur laut lebih mudah untuk dilewati.

Kamis, 29 November 2012, saya, dr. Ifat dan drg. Nina sudah siap berangkat sejak jam enam pagi karena sehari sebelumnya, staf puskesmas Moru telah sepakat akan berangkat jam tujuh pagi. Tapi, tidak bosan saya mengingatkan bahwa masyarakat NTT lemah dalam menghitung jarak dan waktu. Sehingga kami baru naik kapal sekitar jam setengah delapan pagi. Kondisi laut cukup tenang.

Sesekali saya merebahkan diri di dek kapal karena mengantuk. Tetapi pemandangan laut lebih menggoda. Kami melewati beberapa gua kelelawar yang cukup unik. Dan ada sebuah daerah berkarang yang berwarna merah.

image

Kami sampai di lautan Wolang sekitar jam sepuluh pagi. Tetapi kapal tidak memungkinkan untuk mencapai pantai Wolang. Maka kami semua harus menaiki ketinting, perahu kecil yang hanya bisa diisi 4 – 6 orang. Tidak perlu takut naik ketinting. Lihat saja lengannya. Jika ada dua, aman. Tetapi jika ada satu, maka jatuhkan berat tubuh ke arah lengan ketinting. Jika tidak ada lengannya, ya… jangan lupa berdoa untuk yang tidak bisa berenang [sweet smile].

Kami tiba di pantai Wolang sekitar pukul sepuluh pagi. Kami disambut wajah-wajah bahagia warga Wolang. Maklum saja, kunjungan pusling terakhir sekitar setahun yang lalu. Hanya segelintir orang yang mau berlama-lama di laut atau bercapek-capek di darat untuk menuju fasilitas kesehatan di Moru. Sebenarnya miris juga. Seharusnya dengan dana bantuan operasional kesehatan, Wolang bisa dijangkau setidaknya setiap satu atau tiga bulan sekali. Tetapi kadang-kadang, pemegang kebijakan di dalam puskesmas terlalu membesar-besarkan masalah bahaya dan keruwetan membawa sebagian fasilitas kesehatan ke tanah antah berantah. Padahal jka dikerjakan bersama, semua terasa lebih mudah. [Dengan catatan tidak sedang badai besar ya… *begidik*]

image

Di Wolang, tidak ada sinyal untuk komunikasi, listrik menggunakan generator, tetapi airnya jernih dan melimpah. Dan seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Wolang dihuni oleh sekitar 20 KK saja. Rumah-rumah tersebar tidak terlalu jauh. Sehingga komunikasi bisa menggunakan kentungan. Saat kami sampai di balai pengobatan, kepala desa langsung memukul kentungan sebagai tanda warga harus berkumpul.

image

Pelayanan kesehatan dimulai dari jam 10:30 WITA. Kegiatan berjalan cukup lancar meski diwarnai drama seorang nenek yang tidak bisa bahasa Indonesia dan kami cukup kebingungan menerjemahkan keluhan beliau. Ketika kami mencari anaknya, sang anak hanya berdiri dengan wajah masam dan bersilang tangan di depan dada. Sang anak mendekati ibunya sambil marah-marah menggunakan bahasa lokal. Lalu pergi. Kami semua terheran-heran melihat tingkah lelaki yang kira-kira berusia 30an itu.

Saya teringat pada seorang nenek renta yang rutin datang ke poli puskesmas Moru. Komunikasi dengan geriatri memang dipengaruhi banyak faktor. Pendengaran, daya ingat, konsentrasi, dan kondisi fisiknya sendiri. Dan ketika saya menanyakan tentang anak, nenek itu menangis. Dia berkata dengan begitu pilu, “Anggap saja anak saya sudah mati semua!” Rasanya jantung ini ingin melompat dan berlari mendekat pada ibu. Doa seorang ibu itu seperti anak tangga yang mendekatkan mimpi kita agar bisa dipeluk Tuhan lebih cepat. Jika seorang ibu sudah menyumpah seperti itu, bagaimana seorang anak bisa hidup mulia di mata Tuhan?

Melihat kepergian anak lelaki dari nenek di Wolang tadi, seorang bidan berkata lirih, “Anak-anak Alor memang tidak cinta orang tua, Ibu…” Saya tidak menganggap ini ungkapan generalisasi. Tetapi melihat anak lelaki yang sehat dan kuat tadi meninggalkan ibunya yang sudah renta sendirian dalam keadaan sakit rasanya menyesakkan. Mungkin, dia benar-benar lupa dari siapa dia dilahirkan dan mendapat makanan pertamanya.

Pelayanan diakhiri pada jam 12:30 WITA. Dan dilanjutkan dengan makan siang. Lalu kami duduk santai di depan balai pengobatan. Bercanda dengan seorang anak perempuan bernama Naomi. Dia manis sekali. Senyum malu-malunya membuat seorang perawat Moru (Kak Malik) berniat menculik Naomi dan membawanya pulang.

image

Om Boma, supir ambulans Moru yang juga pemilik perahu motor yang kami tumpangi tadi memberi kabar, bahwa kami bisa pulang ke Moru sekitar jam tiga sore karena siang ini, gelombang masih cukup berbahaya. Saya, dr. Ifat dan drg. Nina berjalan menuju pantai dan duduk di tepinya. Menyaksikan ombak yang menggila. Seperti ingin menelan semua batu di pinggir pantai. Dan kami dibuat takjub oleh anak-anak Wolang yang berenang menantang ombak. Keren! [Balada baru bisa berenang. Selalu iri melihat orang-orang yang jago berenang.]

Tiba-tiba ada seorang nenek yang mendekati kami dan berkata, “Ibu Dokter, bisa minta tolong foto saya dulu?” Ahahaha… Senyumnya manis sekali, Nenek. Pasti waktu muda dulu menjadi primadona Wolang😉

image

Setelah menikmati kelapa muda yang dipetik oleh Om Boma, kami bersiap meninggalkan Wolang. Kembali menaiki ketinting untuk menuju perahu motor yang diparkir di tengah laut. Lalu bergerak menuju Moru.

Di tengah perjalanan, Ifat berkata, “Kayanya nggak lega kalo nggak nyebur, Chil. Renang yuk!” Dan Om Boma menyetujui. Awalnya saya ragu. Secara lupa membawa pelampung. Tapi melihat Kak Malik, Om Boma, Ifat dan Nina nyebur, jadilah saya ikutan nyebur! Aaak! Beginilah seharusnya PTT! xD [Karena tidak ada manusia yang tidak suka main air.]

image

Kami sampai dengan selamat di Moru pada jam 17.30 WITA. Capek. Tapi senang! Entah apa pesan perjalanan ke Wolang kali ini. Yang jelas, setiap perjalanan pusling yang melelahkan, selalu menyisakan rasa syukur telah dilahirkan di tempat dengan fasilitas yang cukup. Pada hari itu, saya juga bersyukur bahwa orang tua saya telah memberikan teladan bagaimana seharusnya memuliakan dan mencintai orang tua. Dan sepanjang perjalanan itu, ada beban pribadi yang sedikit terbebaskan setelah beberapa hari mengalami perang dingin [bhahahaks…]. Kadang-kadang, kita tidak sadar bahwa tingkah laku kita sama sekali jauh dari kata dewasa. Emosi dan menghindar. Kita bisa saja menghindari jalan berduri dengan mengambil jalan lain. Dengan risiko, bisa saja kita akan menemui jurang tanpa dasar atau tebing yang sangat tinggi. Atau jalan itu justru menjauhkan kita dari tujuan akhir. [Sepertinya sudah melenceng jauh dari tema awal xD]

Anyway… Selamat Tahun Baru Masehi 2013. Semoga cinta dan cita-cita bisa direngkuh semua. Lalu bahagia selamanya. Aamiin. [lempar petasan]

But someday I will find my way back to where your name is written in the sand

Cause I remember every sunset I remember every word you said

“We were never gonna say goodbye”

Tell me how to get back to back to summer paradise with you

And I’ll be there in a heartbeat

***

Kalabahi – Alor – NTT

Dec 30th 2012

 

  1. keren !

  2. Pantainya kece. Kalo naik ketinting trus tabale itu keren mbak,,haha

    • Ish lu jangan kasih doa tidak baik begitu >,<

      • trus lomba renang ke tepian – :p

      • Saya tidak pandai berenang, Kaka T.T

      • wooooo…. ayo latihan lagi *kayak pandai saja aku*

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: