Saling

image

Di sebuah siang yang terik, seorang lelaki datang ke puskesmas dengan keluhan jari kedua kaki kanannya sobek terkena seng. Luka sobeknya kecil. Hanya butuh tiga jahitan. Dari anamnesis, seng tidak berkarat. Luka juga bersih. Tidak ada tumbukan dedaunan seperti yang biasa digunakan oleh warga Alor.

“Bapak, ini saya jahit ya. Sebentar saya suntik obat biar nanti Bapak tidak ada rasa sakit.”

“Aduh… Harus dijahit ya, Ibu? Saya ini paling takut yang namanya jarum. Seumur hidup sepertinya baru kali ini saya disuntik,” ujar bapak tadi dengan suara takut dan gemetar.

“Iya, tahan sebentar ya. Bapak sudah menikah?” tanyaku sambil menyuntikkan Lidocain di sekitar luka.

“Sudah, Ibu.”

“Anak su berapa?”

“Anak saya dua,”

“Wah senang eee anak su dua. Dulu mamatua melahirkan ju disuntik mama bidan tho?”

Bapak itu tertawa, “Ahahaha iya, Ibu.”

Rupanya bapak ini adalah kader posyandu di sebuah pustu wilayah Moru. Selama proses penjahitan luka, dia bercakap-cakap dengan Mama Oci, bidan senior di puskesmas Moru. Sesekali mereka tertawa dan melontarkan umpatan khas NTT.

“Mamatua ikut KB?” tanyaku lagi pada bapak itu saat menusukkan jarum untuk membuat jahitan terakhir.

“Iya, Ibu”

“KB suntik yang tiga bulan itu ooo…”

“Hehehe iya…”

“Mamatua sakit kena suntik tiap tiga bulan na… Belum lagi waktu hamil bawa badan na berat, lalu melahirkan itu sakit setengah mati, kena suntik lagi. Pulang dari sini, bapak sayang-sayang mamatua eee…” kataku dengan nada bercanda.

Mama Oci tertawa, “Kalau macam-macam sama istri na potong saja tangannya, Ibu Dokter…”

“Tidaklah, Ibu. Saya ini tidak suka main kasar sama istri,” ujar bapak itu dengan setengah tertawa.

“Ish… Jangan sampailah. Itu tangan buat peluk mamatua di rumah eee, Bapak… Jangan peluk istri tetangga!” kataku lagi. Dan suara tawa kami menggaung di ruang UGD puskesmas.

Aku menyerahkan urusan balut-membalut luka bekas jahitan pada mahasiswi perawat yang magang di puskesmas Moru, lalu menuliskan resep untuk dibawa pulang si bapak kader tadi.

Tidak ada tujuan khusus dari percakapan tadi. Hanya berusaha mengingatkan kembali, apa yang telah perempuan tanggung sebagai baktinya pada laki-laki dan keluarga. Tidak hanya sebagai ibu, tetapi juga sebagai istrinya. Betapa perempuan, terutama seorang istri dan ibu, telah mengalami banyak penderitaan demi keluarganya. Sepele, tetapi kadang-kadang tidak sanggup ditanggung pria. Berapa banyak laki-laki yang takut melihat darah ketika mereka terluka? Lalu apakah seorang perempuan pingsan setiap kali ia datang bulan atau bahkan saat melahirkan?

Aku teringat pada sebuah obrolan ringan di suatu malam. Bahwa pada akhirnya, perempuanlah yang lebih banyak berkorban demi keluarga. Ada perempuan dengan prestasi gemilang, akhirnya berhenti bekerja agar bisa mengurus rumah dan isinya dengan sempurna. Ada perempuan yang membelokkan cita-citanya agar lebih punya banyak waktu demi suami dan anak-anaknya. Atau perempuan yang justru bekerja lebih keras dari seharusnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Belum lagi rasa was-was dan insecure ketika suami tidak pulang ke rumah (cihiiiir…).

Tetapi semua itu adalah kodratnya. Merasa berkorban atau tidak, merasa dirugikan atau tidak, sejatinya, perempuan adalah milik keluarganya. Dan pada akhirnya, perempuan yang berhasil bukanlah dinilai dari seberapa tinggi jabatannya, seberapa tinggi penghasilannya, atau seberapa panjang gelar di depan dan di belakang namanya. Tetapi hati nurani setiap perempuan pasti menyerukan, bahwa dia dihargai dengan seberapa besar dia dicintai suami dan anak-anaknya.

“Bapak, obat diminum sampai habis ya. Tiga hari lagi, Bapak datang ke sini untuk kontrol jahitan,” ujarku sambil menyerahkan kertas resep pada bapak itu.

“Terima kasih banyak, Ibu.”

Bapak tadi pulang dengan jalan agak pincang. Dan saya menatap kepergiannya dengan setengah berharap, bahwa semua laki-laki di Alor dan sekitarnya benar-benar bisa memandang bahwa perempuan bukanlah makhluk inferior. Sehingga tidak akan ada lagi kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Tidak ada unsur feminisme di dalam tulisan ini. Atau unsur mengagungkan gender satu dibanding yang lain. Laki-laki dan perempuan telah membawa fitrah dan takdirnya masing-masing. Tidak perlu ditunjukkan siapa yang lebih kuat atau lebih lemah. Tidak perlu dibuktikan siapa yang membutuhkan dan dibutuhkan. Laki-laki dan perempuan diciptakan berpasangan, termasuk berpasangan dalam hal menghargai, menyayangi dan mendukung terhadap porsi tanggung jawab masing-masing. Karena Tuhan tidak menciptakan kata ‘saling’ untuk hal yang tidak ada.

***

Kalabahi – Alor – NTT
December 26th, 2012

  1. so lancar bahasa Alor kan ya usi (eh apa panggilan unk kakak perempuan di Alor mbak)? Teo kah?

    • Panggilan untuk kakak ya ‘Kaka’. Bisa ditambah ‘Nona’ untuk perempuan dan ‘Nyong’ untuk laki-laki ^^

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: