Cintaku Hilang Di Perempatan Jalan

3378955882_2cd36ce6ca_b

Jam sebelas lewat sepuluh menit. Tapi riuh bandara belum juga terlelap. Aku menggenggam erat gagang sebuah koper besar, lalu berjalan menuju pintu keluar. Tidak ada penjemput, tentu saja. Karena kedatanganku kali ini adalah kejutan. Bertahun-tahun aku meninggalkan Indonesia demi menjalani pendidikan doktoral di negeri orang. Bertahun-tahun aku memendam kerinduan pada keluarga yang kutinggalkan. Kini saatnya kembali dan memulai lagi apa yang pernah terbengkalai.

Kakiku melangkah menuju pangkalan taksi. Sebuah taksi berwarna biru membawaku memecah keheningan malam yang belum tidur. Masih terasa nyawa ibu kota yang masih membara. Sesekali aku memejam-mejamkan mata karena rasa ngantuk yang tak tertahankan. Tetapi barisan kenangan sebelum aku berangkat ke luar negeri semacam memberi energi lebih.

Di dalam kepalaku, terputar film hitam putih. Masih lekat di ingatanku, betapa beratnya saat memutuskan untuk pergi. Meninggalkan Arya dan Riani, gadis kecilku yang saat itu masih berusia tiga tahun. Tapi karirku di bidang pendidikan dan penelitian biomolekuler memang tidak bisa dibendung. Melonjak pesat seperti hormon luteal saat perempuan sedang menjelang masa ovulasi. Dan aku menikmatinya. Sangat menikmatinya. Ini adalah impianku. Menjadi doktor di usia muda. Gairah untuk mencapai aktualisasi diri tertinggi tidak dapat dihapus oleh apapun. Bahkan dengan iming-iming kebersamaan sebuah keluarga. Tidak ada salahnya dicoba. Kesempatan tidak datang dua kali.

Mengetahui hal ini, Arya tidak berkata apa-apa selain mengiyakan.

“Pergilah, Farah. Bukankah ini yang kamu inginkan?” katanya sambil menggendong dan menenangkan Riani yang sedang merengek meminta dibelikan balon berbentuk hati.

“Kita pergi bersama. Bagaimana? Di Jerman pasti banyak pekerjaan, Arya,” kataku.

Tetapi Arya menggeleng dan tersenyum, “Kamu tahu untuk jadi PNS itu susah. Kalo aku seenaknya pergi dengan alasan ikut istri, nggak lucu jadinya.”

Dan hingga saat ini, kuanggap sikap diam Arya adalah persetujuan. Seorang suami yang keberatan pasti sudah marah-marah. Tetapi Arya tidak begitu. Meski mertuaku mencibir dan menganggapku perempuan yang gila gelar, Arya tetap mengiyakan dalam diam. Aku tidak butuh anggapan orang. Toh selama sekolah, aku rutin mengirimkan sejumlah uang yang kudapat dari biaya penelitian. Jadi tidak ada alasan Arya dan keluargaku tidak merestui keputusanku ini.

Taksi berhenti di sebuah perempatan yang sepi. Hanya ada segelintir kendaraan yang berlalu lalang. Kelap-kelip lampu mewarnai malam seperti kembang api bisu. Tapi gemuruh di hatiku sudah tak mampu lagi disembunyikan. Ada perasaan yang tak karuan di dalamnya. Aku rindu memeluk Arya. Dan Riani tentunya.

Arya tidak banyak berubah. Dari komunikasi melalui Skype, suamiku tetap tampan seperti terakhir kali kami berpelukan. Tapi aku tidak terlalu banyak berbincang dengannya. Entah kenapa, sepertinya suamiku semakin pendiam.

Dan Riani sudah masuk SD sekarang. Tiba-tiba tubuhku mengejang. Takut. Takut menghadapi Riani yang selama lima tahun hanya mengenal ibunya melalui layar. Masih terbayang bagaimana gadis kecil itu menangis meraung-raung ketika melihatku melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu masuk bandara. Bermalam-malam, tangisan Riani telah menjadi mimpi buruk.

Pernah sekali aku membuat akun Facebook, dan membaca sebuah status teman lama. Ia menggambarkan betapa bahagianya bisa memeluk anak-anak dan membaktikan diri pada keluarga. Jantungku mencelos. Entah di sisi bagian mana, ada hati yang terusik membaca deretan kata itu. Seakan status itu ditujukan padaku. Kalian tidak tahu. Asal ngomong. Aku pergi jauh seperti ini karena punya mimpi yang tinggi. Tidak seperti kalian yang bisanya hanya ngerumpi di Facebook.

Kulirik angka di samping lampu lalu lintas yang merah menyala.

Tiga puluh detik. Jika aku menyetir sendiri, sudah kuterobos saja lampu merah ini. Lagipula, di malam sesepi ini, kecil kemungkinan terjadi baku tabrak antar kendaraan. Tapi pikiranku disusupi sebuah ingatan pada percakapan lewat Skype seminggu yang lalu. Riani bercerita dengan riang tentang pengalaman pertamanya menjadi petugas keamanan sekolah. Aku tersenyum membayangkan gadis kecilku merepet tanpa henti tentang pentingnya mematuhi lampu lalu lintas.

Lima belas detik. Terdengar sebuah ketukan halus dari luar jendela taksi. Aku menoleh. Kudapati seorang perempuan tersenyum lebar sambil mengacung-acungkan alat musik sederhana yang dibuat dari beberapa tutup botol yang dipipihkan. Dandanannya menor sekali. Seakan berusaha menyembunyikan banyak hal. Pandanganku turun ke bagian lehernya. Jakun tidak bisa berbohong, Nona. Aku tersenyum. Menyusup rasa kasihan pada perempuan jadi-jadian ini. Bahkan di gelap malam, dia masih harus menutupi hidupnya dengan dandanan yang menipu. Lalu kehidupan nyata seperti apa yang kamu punya?

Ketika telunjukku menekan tombol untuk menurunkan kaca taksi, sopir berkata, “Jangan dibuka, Bu. Kadang-kadang mereka ngawur.”

Sejenak aku ragu. Tapi biar saja. Setidaknya selembar uang yang kuberikan malam ini bisa mengganti polesan rias wajah dan topeng yang ia kenakan sepanjang malam. Mungkin sepanjang hidupnya.

Kaca mobil bergerak turun. Sang perempuan KW semakin keras menghentak-hentakkan alat musik ke pahanya. Suara pecahnya semakin jelas terdengar. Dia menyanyikan sebuah lagu dari Naif yang melejitkan nama Avi, salah satu anggota Silverboy.

Mengapa aku begini

Jangan kau mempertanyakan

Kuserahkan selembar uang lima puluh ribuan padanya. Jemari lentiknya meraih uang itu dengan gemulai. Aku melayangkan senyum dan menatap wajahnya. Senyumnya mengembang. Tiga detik wajah kami berhadapan. Ada desiran yang mengacaukan hatiku. Senyumannya hilang. Dan bongkahan es dijejalkan begitu saja ke tubuhku. Rasa dinginnya menyeruak hingga ke kepala. Ke mana saja. Bisa kupastikan, perempuan jadi-jadian itu pun sama tertegunnya denganku. Jakunnya naik turun. Dan bekas luka di pelipis kirinya masih cukup jelas meski tersamarkan dempul wajah yang tebal.

Arya.

Bila ku mati, kau juga mati

Walau tak ada cinta, sehidup semati

***

Kalabahi – Alor – NTT

December 21st, 2012

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: