Memvisum Visum

Visum et repertum

Di Rabu pagi yang cerah, tanggal 26 September 2012 jam 08.00 WITA, saya sudah siap untuk pergi ke puskesmas. Biasanya, Rabu adalah hari yang sibuk, karena di Moru ada ‘pasar’, dimana warga di sekitar Moru berbondong-bondong melakukan kegiatan jual-beli di pasar dan ‘sekalian’ periksa kesehatan di puskesmas. Perasaan saya ringan dan ingin waktu cepat berlalu, agar segera pulang ke rumah dinas dan melanjutkan menonton serial Korea yang belum tamat (tetep).

Ruang poli umum baru saja dipel. Lantainya masih basah. Saya dan dua orang sejawat menunggu di sebuah kursi panjang di depan poli umum. Dan mengobrol tentang pempek kentang yang kami buat sebelum berangkat ke puskesmas.

Lalu salah seorang staf puskesmas datang. Wajahnya cemas dan tegang, duduk di depanku, “Ibu Dokter, bapak yang pernah divisum protes karena di kesimpulan visum et repertum yang Ibu Dokter buat, tertulis tidak didapatkan tanda-tanda kekerasan.” Pagiku mendadak kelabu. Berurusan dengan apapun yang berembel-embel polisi biasanya tidak menyenangkan. Tuhan… Apa lagi ini…

Dengan jantung yang dag-dig-dug saya berjalan ke kantor, menemui bapak yang protes itu. Saya sedang mendapati dia sedang menjelaskan panjang lebar kepada Ibu Kepala Puskesmas (Kapus). Bapak itu dan Ibu Kapus menolehkan kepala, memandang saya. Saya tersenyum getir. Mengucapkan salam, lalu duduk di hadapan bapak itu, “Ada masalah apa, Pak?”

“Saya kemarin datang ke kantor polisi. Polisi bilang, surat visum sudah diambil kemarin. Dan hasilnya tidak ada tanda-tanda kekerasan. Bagaimana bisa kesimpulannya seperti itu?” kata bapak itu dengan emosi.

Sejenak, aku mengernyitkan dahi. Mengingat-ingat kapan bapak ini datang ke puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan. Saya meminta staf untuk membawakan status dan surat permohonan visumnya. Kejadian pelemparan batu terjadi tanggal 30 Juli 2012. Surat visum tertanggal 2 Agustus 2012. Dan korban datang ke puskesmas tanggal 4 Agustus 2012. Saat datang, tidak didapatkan tanda radang akut berupa bengkak, kemerahan, panas, atau luka terbuka. Hanya ada nyeri tekan dan penurunan ruang gerak jari-jari tangan. Bisa jadi, tanda radang akut itu sudah hilang mengingat saya memeriksa kondisi pasien hampir seminggu setelah kejadian.

“Lalu Bapak berharap saya menulis kesimpulan seperti apa?” tanya saya.

“Pokoknya tulis tanda-tanda kekerasan!”

“Meskipun saya harus berbohong?”

“Lalu Ibu Dokter pikir saya berbohong?”

Saya menghela napas. Pagi ini pasti akan terjadi debat kusir, “Bapak, saya akan jelaskan, dengan catatan bapak jangan memotong omongan saya.” Pelan-pelan saya mencoba menahan diri untuk tidak terpancing. Menarik nafas dalam agar suara tidak bergetar. Meski jari-jari rasanya sudah mati rasa.

“Pertama. Saya menyayangkan bapak tidak langsung datang ke kantor polisi untuk meminta surat permintaan visum. Bapak melapor ke polisi empat hari setelah kejadian. Dimana tentunya tanda-tanda kekerasan sudah mulai menghilang.”

“Kedua. Saya menyayangkan bapak tidak segera melakukan pemeriksaan visum ke puskesmas. Pemeriksaan terhadap bapak, saya lakukan enam hari setelah kejadian. Sekali lagi, tanda objektif kekerasan sudah hilang.”

“Tangan saya sakit sekali, sehingga tidak bisa datang ke puskesmas,” sela bapak tadi.

Saya tersenyum dan memandang bapak itu dengan lekat, “Jika bapak menganggap tuntutan terhadap tindak kekerasan ini penting, maka separah apapun bapak pasti sudah melapor. Dan pada saat itu, saya yakin bapak mampu berjalan, karena yang terkena lemparan batu hanya punggung tangan bagian kiri dan tidak parah apalagi mengalami luka terbuka. Dan sekali lagi, mohon… jangan memotong omongan saya.”

Suasana hening sejenak. Mulut saya mulai kering. Kepala puskesmas memandang saya dengan wajah penuh kekhawatiran. Dan sepertinya suara saya sudah mulai bergetar.

“Ketiga. Pada saat saya memeriksa bapak, saya menjelaskan bahwa tanda-tanda kekerasan sudah hilang. Saya juga sudah menjelaskan bahwa saya tidak bisa menulis keluhan subyektif berdasarkan cerita bapak. Jika pada saat itu saya tidak melihat bengkak, kemerahan, atau meraba panas pada kulit bapak, jelas saya tidak bisa menuliskan dalam laporan. Karena saya tidak bisa berbohong. Bapak adalah orang yang beragama. Tentu paham hal ini.”

“Tapi tangan saya masih sakit. Apa Ibu tidak bisa percaya?”

“Saya percaya. Tapi sakit adalah keluhan subyektif. Dan saya tidak bisa menuliskan data subyektif pada visum. Tetapi saya telah menuliskan bahwa telah terjadi penurunan Range of Motion pada tangan Bapak. Masalah apakah polisi membuatnya sebagai bahan pertimbangan atau tidak, itu di luar kekuasaan saya.”

“Saya bisa ajukan ini ke media massa agar semua masyarakat Alor bisa tau,” nada bicara bapak itu mulai meninggi.

Wajah-wajah di ruang kantor semakin cemas. Jujur, saya jengah dan sedikit gentar mendengar kalimat bapak ini. Tetapi bagaimanapun, saya merasa bahwa tindakan saya benar, “Silakan. Saya punya saksi dan bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis.”

“Saya ini punya jabatan. Saya adalah advokat yang disumpah,” kata bapak itu dengan setengah berteriak. Aduh. Tolong. Pitch controlnya, Pak.

Tetapi tipikal pejabat di wilayah Alor memang ingin dinomorsatukan. Beberapa bahkan cenderung semaunya sendiri dan bisa berbuat nekat. Kepala saya sudah mulai mendidih, tangan mengepal. Tapi saya berusaha tetap merendahkan suara. ‘Kalo situ pejabat trus kenapa? Apa saya harus membuat laporan visum ulang? Lu gila?’ Tidak. Kalimat ini tidak terlontar keluar. Dalam hati saja. Bisa-bisa saya dituduh melakukan tindakan yang tidak menyenangkan *sigh*. Konyol rasanya jika pagi-pagi sudah adu mulut dengan seorang bapak-bapak yang gila jabatan. Gengsi saya merangkak naik, mengingatkan diri sendiri, jangan sampai merendahkan diri ke titik yang sama dengan bapak itu karena terbawa emosi.

“Saya juga punya sumpah yang harus saya pegang. Dan bapak perlu tau, saya melayani masyarakat tidak memandang status atau jabatannya,” nafas saya mulai memburu. Suhu tubuh saya mulai meningkat. Perut mulai mulas, jantung berdebar kencang seperti habis latihan kardio selama 30 menit.

Mungkin, mental blind spot bapak itu sudah terlalu luas. Dia menyangkal, merepresi dan merasionalisasi tindakannya sendiri sehingga gagal melihat kebenaran dan kenyataan. Dia berbohong pada dirinya, memosisikan dirinya sebagai korban tanpa mau mengerti dimana letak titik masalahnya. Malah berkuliah tentang pentingnya posisi pekerjaannya di Alor, menbawa-bawa jabatan dan gelar. Atau yang lebih penting bagi dirinya adalah bahwa kasus kekerasan yang dialaminya harus dimenangkan olehnya, bukan lagi benar atau tidak proses yang dilalui. Beginilah jika seseorang terlalu terfokus pada hasil dan mengabaikan proses. Ancur minaaa!

Lalu Ibu Kapus berkata, “Bapak seharusnya bisa paham, semua profesi ada sumpahnya. Saya bukan membela Ibu dokter, tapi apa yang Ibu dokter lakukan sudah benar. Apa yang Ibu dokter tulis itu sesuai yang Ibu dokter lihat. Mengenai penyelesaian masalah bapak dengan orang yang melempar batu dua bulan lalu, coba selesaikan dengan polisi.”

Setengah kesal saya melirik jam di dinding, 09.00 WITA. Debat kusir ini rasanya sudah membuang-buang waktu. Tetapi cukup berguna sebagai pengalaman. Saya pernah mendengar cerita yang lebih absurd dari ini (berhubungan dengan visum). Seorang sejawat PTT di Alor, mengalami teror dari oknum kepolisian karena keterangan yang ada di visum tidak dibuat tepat setelah kejadian perkara. Tetapi sesuai dengan tanggal datangnya surat permintaan visum et repertum (SPVR). Polisi mengatakan bahwa dokter harus menulis sesuai kejadian, bukan datangnya SPVR. Padahal, SPVR dan korban datang pada dokter beberapa hari setelah kejadian. Semua orang tahu siapa yang salah. Apalagi alasan keterlambatan pembuatan SPVR adalah printer yang rusak. Kadang-kadang sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dimasukkan ke akal menjadi begitu sulit hanya karena keegoisan seseorang/oknum.

“Saya rasa penjelasan saya dan Ibu Kapus sudah cukup. Saya mohon maaf jika bapak tidak puas. Tapi mohon masalah ini dipahami baik-baik. Bapak adalah advokat, tentu paham tentang hukum, tentu bisa memahami hal seremeh ini. Jika sudah tidak ada yang dibicarakan, saya pamit mau ke poli. Sudah banyak pasien yang menunggu.”

Tanpa persetujuan, saya berdiri dari kursi plastik berwarna hijau, lalu menghampiri si bapak tadi dan menyalaminya, “Dan semoga tangan yang masih sakit itu cepat sembuh. Jika berkenan, silakan mampir ke poli untuk saya periksa lagi. Permisi.” Lalu saya melenggang keluar kantor dengan hati masih marah, berjalan dengan langkah yang ditegap-tegapkan ke arah poli umum.

Saya kembali mengingatkan diri sendiri dan siapapun yang membaca postingan ini, bahwa kelengkapan status dan tulis-menulis itu SANGAT penting. Sekali lagi, SANGAT PENTING. Terutama pada kasus yang rawan seperti ini, dan di lingkungan yang cenderung ‘semaunya sendiri’. Mintalah perawat atau bidan menemani kita saat pemeriksaan dan pembuatan visum et repertum agar ada saksi tentang apa yang kita periksa dan laporkan.

Dan hari Jumat, 14 Desember 2012 lalu, saya menerima permintaan visum et repertum perihal kekerasan terhadap seorang anak perempuan yang pingsan akibat ditampar dan dipukul kepalanya oleh guru olah raga di sekolahnya. Alamak. Tidak bisakah warga Alor dan sekitarnya ini berhenti menggunakan adu fisik untuk menyalurkan emosi? *no hope*

***

Kalabahi – Alor – NTT

December 15th 2012

  1. selalu heran dengan laki2 yg suka melayangkan bogem mentah ke orang yg konon dia cinta (menikah)….
    oknum macam bgt layak masuk rajang sampah….

  2. mungkin karena patriarki yang begitu kental, but smoga saja cepat lenyap segala kasus KDRT ya

    • Betuuul. Patriarkinya terlalu parah di daerah timur T.T

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: