Kafelulang Ceria (Bagian Kedua)

Selalu ada cerita di setiap perjalanan puskesmas keliling. Bulan lalu, saya dan tim puskesmas mengadakan pusling ke Wolang, sebuah daerah di desa Probur yang masih masuk di dalam cakupan puskesmas Moru. Wolang adalah daerah yang sangat sulit yang terpencil. Untuk dapat mencapai Wolang yang dihuni sekitar 20 kepala keluarga, sebenarnya kami bisa menggunakan jalan darat. Tetapi kendalanya adalah harus dengan berjalan kaki karena akses jalan darat tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan. Sehingga kami memilih menggunakan jalan laut selama kurang lebih 2 jam perjalanan. Pemandangan dan laut membuat perjalanan kami cukup menyenangkan. Dan semakin berkesan ketika perjalanan pulang, kami berhenti sejenak di sebuah gua kelelawar dan berenang-renang di sana.

Kamis kemarin, saya dan tim puskesmas kembali menjejakkan kaki ke Kafelulang. Sebenarnya saya cukup khawatir terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Mengingat hujan begitu deras di hari rabu. Jalanan pasti licin dan berlumpur. Belum-belum saya sudah membayangkan ban mobil ambulans yang terjebak dan tidak bisa ke mana-mana. Tapi pengalaman menyetir supir ambulans Moru tidak bisa diabaikan. Maka saya memilih untuk percaya. Dan berdoa.

Kamis pagi, jam 07.30 WITA, kami berangkat dari Moru menuju Kafelulang. Kali ini, tim puskesmas yang berangkat tidak terlalu ‘padat’ dibandingkan pusling ke Kafelulang tiga bulan yang lalu. Dua di depan (termasuk supir), enam di belakang, dan tidak ada yang terpaksa duduk di atas kap. Dua laki-laki (termasuk supir) dan enam perempuan.

Satu jam pertama, aman. Begitu ambulans belok dari Pintumas ke arah Kafelulang, disaster’s begin. Ban ambulans tertahan oleh jalanan yang berbatu di sebuah belokan tajam. Apalagi jalanan begitu curam ke atas. Sebenarnya berisiko bagi kami untuk meneruskan perjalanan. Belum lagi kalau hujan. Bisa saja ban ambulans terselip lalu terjun ke jurang. Atau ban ambulans terselip lalu terpental ke tebing, lalu terjun ke jurang.

Maka semua penumpang turun dari ambulans. Dua laki-laki (Om Boma –supir-  dan Kak Billy –perawat-) mencongkel-congkel tanah untuk membuat gerigi yang teratur supaya bisa dilewati ambulans. Mereka memindahkan batu-batu besar yang menghalangi rotasi ban, dan menyusun batu-batu kecil agar tanah tidak terlalu licin.

IMG_1163-horz

Mobil digas berkali-kali hingga asap putih mengepul dari mesin. Om Boma mencoba menggerakkan mobil hingga ke atas. Dan berhasil setelah tiga puluh menit perjalanan itu tertunda.

Kami meneruskan perjalanan. Hingga akhirnya menemui jalan yang sudah disemen di satu sisi saja. Tetapi semen jalan tersebut belum selesai. Mereka menaruh tong besar di depan jalan bersemen sebagai tanda bahwa jalan bersemen itu belum siap dilewati kendaraan. Sehingga, jalan berupa tanah licin untuk mencapai Kafelulang semakin sempit. Dan akhirnya, ban ambulans terjebak di tepi jalan berlubang yang mengarah ke jurang.

Sejenak kami pesimis. Bahkan sempat berpikir bahwa pengobatan dilakukan di sana saja. Tapi Kak Billy dan Om Boma mencari jalan keluar. Mereka mengambil beberapa papan kayu yang tergeletak di pinggi jalan, lalu diletakkan di bawah ban sebagai alas. Setelah mencoba, akhirnya ban mobil terbebas juga. Dalam hati, saya berdoa supaya hujan tidak turun hingga nanti kami sampai di rumah dengan selamat. Tetapi seorang ibu bidan berkata, “Kalo sebentar turun hujan, itu su aman, Ibu Dok. Kalo jalan turun itu tidak apa-apa, tho…” Wajah saya membatu seketika. Aman? Sisa hujan semalam saja sudah bikin ambulans kesusahan seperti ini. *sigh*

Sesampainya di pos pelayanan, imunisasi dan pengobatan dilakukan. Kondisinya tidak lebih baik dari terakhir saya pusling ke Kafelulang. Masih tampak ibu-ibu datang dengan menggandeng tiga hingga empat anak. Ada dua balita yang membuang air kencing di lantai pos pelayanan, satu balita mengencingi kain timbangan. Dan satu ibu bidan yang terlihat lemas karena sedang tidak enak badan.

Jam dua belas siang, hujan turun dengan derasnya. Sialan. Akan semakin susah untuk turun dari Kafelulang. Pikiran saya sudah tidak karuan. Hingga akhirnya tiba saatnya kami pulang, dan ketakutan saya dibuktikan alam.

Ban ambulans terperosok ke dalam jurang. Hampir saja mobil terguling. Beruntung ada dua pohon yang menahan badan mobil. Kami semua keluar mobil dengan berpegangan ke jendela mobil. Kaki meraba-raba tanah yang begitu jauh rasanya. Licin sekali. Timbunan daun basah dan berlumpur membuat perasaan semakin tidak tenang.

Saya dan tim puskesmas yang perempuan mengamati para lelaki dan warga Kafelulang membantu mengeluarkan mobil ambulans dari tepi jurang. Tiba-tiba perasaan ngeri menyusup dan menghantui. Tepat seminggu yang lalu, puskesmas Moru dihujani korban-korban kecelakaan besar. Sebuah panser berisi tiga puluh orang terguling ke jurang. Kondisinya sama. Tebing, jurang, jalan yang licin, dan hujan. Ya Tuhan, jangan sampai minggu ini giliran dokter dan staf puskesmas yang celaka.

Warga Kafelulang berdatangan, berusaha membantu dengan apa yang mereka bisa. Beberapa menyiapkan papan kayu di bawah ban belakang yang terperosok, dan beberapa berusaha membuat guratan di tanah agar tidak terlalu licin. Anak-anak kecil tanpa baju atau alas kaki, hanya bercelana pendek, begitu ramai mengitari mobil.

IMG-20121213-00782-vert

Hampir satu jam ban belakang ambulans terjebak di jurang. Akhirnya mobil itu berhasil mendarat sempurna setelah ditarik dengan bantuan warga Kafelulang. Kejadian seperti ini membuat saya teringat sebuah tuduhan dari teman sejawat. Bahwa pegawai negeri sipil dan dokter PTT adalah pekerjaan yang sering merasakan uang panas pemerintah, menghabiskan dana anggaran untuk program-program omong kosong yang tidak terlaksana. Tuduhan bahwa PNS dan dokter PTT itu cenderung malas dan menikmati gaji yang pasti rutin datang meskipun tidak berbuat apa-apa.

Setelah sembilan bulan sebagai dokter PTT dan mengamati PNS-PNS di puskesmas sangat terpencil seperti ini, saya bangga tidak menyia-nyiakan uang panas tersebut hanya dengan berpangku tangan. Dengan obat dan sarana seadanya, kami berusaha menyediakan bantuan kesehatan sampai ke tempat tersulit. Memberikan imunisasi bagi bayi dan suntik rutin KB bagi perempuan usia subur supaya angka kematian bayi dan ibu berkurang. Menurunkan angka kesakitan pada orang-orang yang berada jauh di bawah garis kecukupan. Dan sekecil apapun angka yang dihasilkan daerah terpencil dan sangat terpencil seperti ini, tetapi sangat berpengaruh terhadap program-program baru yang dirancang para pejabat di kota-kota besar.

Memang, belum maksimal dan merata seperti yang diidealkan semua orang. Memang, masih ada beberapa kelemahan di sana-sini, terutama pola pikir dan ritme kerja masyarakat Jawa dan Alor yang belum seirama. Tetapi semua itu butuh proses. Dan partisipasi semua orang. Jika memang tidak berkeinginan untuk terjun langsung ke lapangan, setidaknya harap tidak mengecilkan arti perjuangan orang-orang di pinggiran Indonesia, dan menganggapnya sebagai kalangan nomor kesekian.

Setelah terlepas dari tepi jurang yang mengerikan, kami terpaksa berjalan cukup jauh untuk mengantisipasi jika hal yang sama terjadi lagi karena kondisi jalan masih licin dan berbatu. Ban mobil sempat tertahan di sebuah sungai karena batu kalinya cukup besar dan tanjakannya lumayan tajam. Tapi beruntung, tidak sampai oleng atau terjebak terlalu lama. Dan akhirnya, kami semua bersyukur bisa sampai di rumah masing-masing dengan selamat. Menyisakan letih dan tumpukan asam laktat di betis dan lengan yang tak henti berpegangan ketika badan kami terpental-pental di dalam ambulans.

Sampai ketemu lagi Kafelulang ^^

***

Kalabahi – Alor – NTT

Di temani alunan hujan yang menggila di pagi hari

December, 15th 2012

  1. deg-degan aku bacanya mbak

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: