Kisah Klasik ~ Kekerasan Dalam Rumah Tangga

image

Sudah sembilan bulan saya bertugas sebagai dokter PTT di Kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur. Berarti sudah tunggu waktu untuk mulai persalinan (loh?). Selama sembilan bulan, banyak hal yang bisa dipelajari di sini. Bahasa, budaya, kebiasaan. Juga hal-hal sepele tentang hidup yang membuat saya berusaha untuk bisa lebih bersyukur.

Beberapa bulan yang lalu, pada sebuah sore dan sepotong langit senja yang menjingga, saya didatangi oleh seorang perempuan. Wajahnya tampak depresi. Jalannya pincang. Perempuan ini diantar oleh seorang satpam dan laki-laki yang bukan saudaranya. Mungkin tetangganya. Saya tidak tahu. Lelaki itu berkata, “Ibu Dokter, saya minta dibuatkan visum untuk Mama ini. Dia dipukul oleh suaminya.”

Seketika sore yang indah tadi lenyap. Saya meneliti wajah perempuan itu. Raut mukanya masih meringis menahan sakit. Usianya pasti tidak lebih tua dari saya. Mungkin malah belum mencapai angka dua puluh tahun.

“Dipukul dengan tangan kosong atau dengan alat?” tanyaku dengan nada iba.

“Dengan kaki, Ibu. Kaki saya diinjak berkali-kali,” jawab perempuan itu dengan suara parau.

Astaghfirullah… Saya menghela napas. Kepala saya kembali dipenuhi pertanyaan yang sama setiap kali didatangi oleh permintaan visum untuk kasus kekerasan dalam rumah tangga. Apa, mengapa dan bagaimana.

Kemudian saya bertanya lagi pada perempuan naas ini, “Sudah sering seperti ini?” Dan hati saya terkesiap melihat anggukan dari korban. Sering tapi bertahan? Jiwa liar saya menggaungkan kata-kata bodoh dan sebagainya. Kenapa tidak cerai saja?

“Kenapa Mama tidak melawan?” tanyaku.

Lalu satpam yang mengantar korban menyerobot hak jawab korban, “Karena mereka sudah menikah, Ibu Dokter.”

Amarah saya menyeruak. Kedua tangan saya berkacak pinggang. Suara saya nyaris berteriak, “Jadi kalo sudah menikah, boleh dipukul atau diinjak? Laki-laki itu menikah sama manusia atau sama anjing?!” Sang satpam langsung terdiam. Entah berpikir atau takut saya mengamuk lebih dahsyat.

“Kejadiannya kapan ini, Mama?” tanyaku lagi. Sembari menyiapkan peralatan untuk merawat luka.

“Tadi siang. Suami saya mabuk,” jawabnya.

“Mabuk? Siang begitu mabuk? Suami Mama tidak kerja? Atau kerjanya mabuk dan pukul istri?!” Aku tidak bisa lagi menyembunyikan amarah dan rasa kesal. Juga perasaan bersalah karena melampiaskan semuanya pada perempuan yang sedang terluka tubuh dan hatinya.

Dengan hati miris, saya mulai merawat luka pada beberapa bagian tubuh perempuan itu. Sebenarnya apa yang dipikirkan laki-laki ringan tangan saat menghajar tubuh istrinya? Perasaan berkuasa? Atau perasaan tidak aman? Atau memang menganggap perempuan adalah makhluk inferior yang boleh disiksa?

Selama di Alor, tidak sedikit kasus KDRT yang terjadi. Biasanya korban meminta visum hanya untuk mengancam pelaku. Tetapi pada akhirnya semua diselesaikan dengan jalan damai. Sampai terjadi hal yang sama. Lalu siklus tadi bisa diulang kembali.

Saya teringat pada sebuah pengalaman adik kelas yang juga menghadapi KDRT oleh suaminya yang terdahulu. Tubuhnya tidak absen ditonjok, ditampar, dibogem, atau ditendang oleh lelaki yang sudah dua tahun menjadi suaminya. Selama itu pula sang istri bertahan untuk tetap diam dan merahasiakan apa yang dialaminya. Alasannya, masih cinta. Dan sang istri merasakan hal berbeda setiap kali menerima perlakuan kasar suaminya. Karena setelah itu, sang suami bertindak sangat manis dan begitu memuja. Di sinilah kadang-kadang letak kelemahan perempuan. Perasaannya mudah hanyut oleh kata maaf dan rayuan. Padahal, tidak semua orang pantas menerima kesempatan kedua.

Bisa jadi, hal yang sama juga terjadi pada perempuan-perempuan Alor yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga ini. Hatinya mudah dibuai rayuan dan janji tidak akan mengulanginya lagi. Tetapi jika sudah terjadi untuk kesekian kali, patutkah penyesalan itu dianggap nyata? Sepertinya, yang capek bukan pelaku atau korban. Tapi justru saya. Kenapa siklus itu tidak berhenti? Apakah sama sekali tidak ada penyesalan pada pihak pelaku? Atau usaha untuk mempertahankan dan melindungi diri sendiri pada pihak korban? Atau penyesalan korban karena berkali-kali memberikan kesempatan yang sudah jelas terkoyak oleh perbuatan yang sama?

Tetapi tidak dipungkiri, mungkin budaya pernikahan di Alor memang agak aneh. Berikut beberapa keanehan yang saya ketahui:
· Pertama, perempuan boleh dinikahi laki-laki dengan syarat laki-laki mampu membeli perempuan dengan harga yang ditentukan. Biasanya menggunakan moko tembaga atau kuningan sebagai ukuran harganya.
· Kedua, setelah kedua belah keluarga setuju, maka laki-laki dan perempuan boleh tinggal serumah meski upacara pernikahan belum dilaksanakan. Hubungan seksual juga sudah diperbolehkan.
· Ketiga, laki-laki dan perempuan belum bisa disebut pasangan suami-istri selama upacara pernikahan belum dilaksanakan. Dan upacara pernikahan bisa dilaksanakan jika laki-laki sudah mampu membayar harga permintaan keluarga perempuan. Maka jangan heran, status boleh saja ‘belum menikah’, tetapi anak sudah lima atau enam.
· Keempat, semakin lama laki-laki memenuhi harga tawaran, maka harga tawaran tadi bisa meningkat. Apalagi jika sudah ada anak. Maka harganya semakin berlipat.

Dan sebelum dinyatakan ‘menikah’, masing-masing masih dianggap ‘wajar’ jika berhubungan dengan orang lain. Pernah sekali saya mendapatkan pasien, laki-laki muda yang mengeluh penisnya lecet dan berbintil-bintil. Dia mengaku belum menikah. Tetapi pengalaman seksualnya sudah luar biasa. Bahkan ia tidak malu mengaku jika pernah meniduri istri tetangganya. Mendengar hal itu, rasanya dada saya sesak. Sebegitu murahankah arti hubungan seksual bagi mereka. Kadang-kadang muncul pikiran jahat, bahwa bisa saja perempuan tidak dihargai karena mereka tidak bisa menghargai diri sendiri. Tidak perlu pergi ke kota besar untuk mengetahui fenomena seks bebas dan penyakit kelamin. Di sini, semuanya tersaji tanpa ada yang ditutupi.

Pada akhirnya saya berpikir, mungkin adat dan budaya seperti inilah yang menjadi dasar mengapa beberapa lelaki di Alor merasa dirinya superior. Merasa mampu membeli perempuan. Bahkan tanpa mahar, perempuan boleh dikumpuli layaknya istri yang sah. Pada akhirnya, anak-anaklah yang melihat, mempelajari dan meniru seluruh adegan kekerasan itu. Bisa jadi, anak laki-laki akan berpikir, beginilah caranya menghargai dan mencintai wanita. Dan anak perempuan akan berpikir, beginilah caranya dihargai dan menerima cinta. Dan siklus itu akan berulang entah hingga keturunan keberapa.

Sambil membersihkan dan merawat luka perempuan pincang tadi, ada rasa syukur menyusup di hati saya. Bahwa saya dilahirkan oleh orang tua yang penuh kasih sayang. Hingga saat ini, bapak tak pernah bosan mengungkapkan betapa ia beruntung menikahi ibu, atau menunjukkan cinta yang tidak menua dengan memberikan kecupan di pipi dan hidung istri yang dinikahinya selama 35 tahun. Maka seperti inilah seharusnya, menikah itu untuk melampiaskan cinta dan kasih sayang, berbagi ciuman dan pelukan.

Setelah selesai merawat luka, memberikan resep, dan mencatat hal-hal penting yang perlu dilaporkan di surat visum, saya berpesan pada perempuan itu, “Semoga visum yang saya buat nanti bisa meringankan penderitaan Mama. Perempuan itu juga manusia yang harus dihargai. Dan Mama menikah bukan untuk diinjak seperti tadi.”

Saya tidak tahu apakah kata-kata itu berpengaruh banyak pada hidupnya. Atau perempuan lainnya. Tetapi semoga Mama tadi tidak kembali dengan keluhan yang sama. Sampai hari ini, memang Mama itu tidak datang. Semoga seterusnya tidak.

Dan semalam, rumah dinas saya diketuk oleh seorang perempuan muda lain. Wajahnya lecet, lengannya bengkak. Wajahnya tampak depresi. Damn. KDRT lagi.

Saya menghela napas.

Sepertinya para laki-laki ini sudah lupa bahwa mereka pernah dilahirkan oleh seorang ibu, yang berjenis kelamin perempuan, sama seperti istri-istri mereka, yang nantinya menjadi ibu untuk anak-anaknya. Tulisan ini bukan bermaksud menggeneralisasi. Hanya ungkapan prihatin akan banyaknya kasus serupa di pulau ini.

***

Moru – Alor – NTT
December 11th 2012

  1. Syem…mrinding bacanya….kenapa laki laki disana semena-mena ? sebab dia sudah membeli (menikahi), jadi mnrtku laki2 disana berhak apa-ngapain istrinya…termasuk menginjak2….
    tetep ngeri……

    • Begitulah. Dan hipotesis saya sepertinya benar, ketika melihat bagaimana orang2 dewasa juga kurang menghargai ibu mereka. Sedih…

    • jihan
    • December 11th, 2012

    Kalo mau pengalaman lebih tentang perempuan dan problematikanya, masuk obgyn dooonnnggg.:)

    • Aamiin Yaa Rabb… matur nuwun doanya, dr. Jihan ;’)

    • hanifah
    • January 13th, 2013

    Weks ngeri euyyy #

    • Banget. Di sini, orang nikah kaya mau tanding bela diri kayanya T.T

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: