Di Antara Dua Punggung

Mataku hampa memandangi jemari tangan yang memilin-milin ujung blus berwarna biru. Sebenarnya otakku memerintahkan untuk duduk tegak dan menghadapi semuanya layaknya orang dewasa. Tetapi syaraf optik yang menangkap objek sebuah meja hijau, justru menyampaikan ketakutan yang menghitam ke  seluruh sistem tubuhku.

Sekelilingku tenang. Tapi riuh di dalam hatiku mencengkeram jantungku sehingga berdenyut lebih kencang. Aku merasakan ketakutan yang sama dari lelaki di sampingku. Tubuh kami gemetar hebat saat suara hakim menggema, “Dengan mengucap bismillahirrohmanirohim, maka dijatuhkan talak satu dari Brama Adirejo kepada Hanum Pramesti.”

Palu diketuk tiga kali.

Jelas sudah jarak yang terbentang di antara kami. Tetapi jarak ini justru lebih dekat daripada dua manusia seranjang yang tidur berpunggungan setiap hari.

***

Maiwal – Alor Barat Daya – NTT

November 28, 2012

[diposting di Cubiculum Notatum]

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: