06 Desember 2012

Moru diguyur hujan. Deras. Sama sekali tidak menyisakan ruang bagi suara. Hanya ada tumpahan air dari langit yang menghujam bumi. Angin pengiring hujan berusaha mengobrak-abrik segala hal yang ditemuinya. Sesekali jantungku ikut berdesir. Aku merindukan hujan, tetapi tidak dengan badai. Ini sama saja dengan rasa yang terpendam pada kekasih, dan akhirnya meringkuk sendiri karena rupanya ia datang bersama seseorang yang mendampingi

Seharusnya, suasana sendu seperti ini sanggup membuaiku dalam tidur yang nyaman. Bergumul di dalam selimut yang tipis, sekedar syarat untuk menambahkan nuansa syahdu tidur di kala hujan. Mengetik beberapa tweet hingga akhirnya tertidur sampai Ashar.

Namun sebuah pesan menerobos masuk ke ponselku. Bapak. Mengabarkan bahwa surat dan beberapa foto yang kukirim telah diterima dengan selamat. Bibirku menyunggingkan senyum. Perasaan yang merambat ke tubuhku ini susah dijabarkan. Bahwa betapa surat yang sederhana bisa meletupkan banyak hal. Rasa deg-degan, apakah surat itu sampai dengan selamat, mengira-ngira bagaimana perasaan bapak dan ibu saat membaca surat dan melihat foto-foto yang kukirimkan. Dan aku juga yakin, rasa deg-degan itu juga melompat-lompat di hati mereka ketika membuka amplop dan membaca surat yang tertulis di sana.

Menjaga romantisme, begitu kata bapak. Seringkali kutanggapi dengan, “Ah, romantis dan kere beda tipis!” Dan bapak tertawa mendengar responku sebagai tanda setuju. Mengapa memilih surat? Bukankah itu kuno sekali? Sederhana saja. Orang tuaku tidak tahu-menahu tentang internet dan sebagainya. Menerima MMS  juga tidak pernah. Selama ini aku hanya mengabari via suara. Maka aku mengirimkan beberapa surat dan foto sebagai pemuas mata dan hati orang tua bahwa anak perempuannya di rantau baik-baik saja.

Dan siang ini, hujan berhasil menari-nari di atas rinduku yang menggebu. Sudah tiga hari aku memimpikan hal yang sama. Berjalan-jalan dengan ibu dan bapak. Bertiga saja. Aku dan bapak bergantian menyetir mobil, sedangkan ibu sibuk mengupas buah untuk kami. Sesekali aku merebahkan diri di pangkuan ibu di bangku belakang saat bapak menyetir. Menikmati belaiannya di kepalaku yang tertutup jilbab. Bercerita apa saja. Atau sekedar membahas arti lagu Korea dan India yang mengalun dari dek musik.

Sehari yang lalu, aku menelepon kedua orang tuaku. Mendengar suara mereka lalu kupindai hingga masuk ke dalam mimpi. Memuaskan rindu yang justru membumbung tinggi hingga ke ubun-ubun. Bapak bercerita tentang pembangunan masjid yang hampir rampung. Dan menceritakan tentang tiga kelinci dewasa yang akhirnya dijual, menyisakan delapan anak kelinci yang sudah bisa makan sendiri tanpa susu ibunya. Ibu bercerita tentang pasien ibu bersalin yang sempat drop tekanan darahnya. Beliau sempat panik dan cemas kondisi pasiennya tidak segera membaik. Aku bisa merasakan kekhawatiran Ibu. Dalam usia yang sudah melewati setengah abad, tentu saja kondisi Ibu tidak seprima dulu. Berkali-kali aku mengingatkan untuk segera beristirahat agar tekanan darah Ibu tidak naik lagi.

Perlahan-lahan, rasa rindu menyergapku dari segala sudut. Sembilan puluh dua hari sejak pertemuan terakhir, rasanya tanganku sudah meraung-raung untuk segera merengkuhkan pelukan pada tubuh mereka. Kepalaku kembali memutar percakapan konyol kami, bersama gelas kopi atau teh yang mengepul, sepiring pisang goreng, dan acara TV yang selalu bisa dikomentari. Aku menahan tanganku untuk menekan tombol nomor rumah. Karena mendengarkan suara mereka di suasana yang sendu ini, sangat berbahaya bagi pertahananku siang ini.

From: AaPapi

Foto dan surat sudah diterima, Non. Foto-fotonya bagus.

Received: Dec 6, 12:30

To: AaPapi

Alhamdulillah suratnya sudah sampai. Tulisannya terbaca jelas tho, Pak?

Sent: Dec 6, 12:40

From: AaPapi

Jelas banget, Non. Tapi sudah mulai mirip tulisan dokter. Sudah mulai jelek.

Received: Dec 6, 13:10

Hujan deras di luar sana. Airnya merembes hingga mataku basah. Dan kini, hatiku telah habis dibanjiri rindu.

***

115 hari menjelang kepulangan

Moru – Alor – NTT

  1. kadang harus jauh pergi dari rumah, untuk merasakan lagi rindu yang menggebu🙂

    • Iyah. Rasanya ndak bisa dideskripsikan. Mungkin LDR juga kaya gini kali ya… #alah :p

      • Iya.. tapi nanti kalo udah lebih dari setaun ato dua taun merantau udah biasa kok kak😀

      • Hehehe gitu ya?
        apalagi kalo di rantau ada yang bikin betah😉

      • ngg,,, ini gmana ya artinya ya, haha

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: